Risalah Hati yang Retak
Malam tidak terlihat
samar ditelan angin
detak waktu seperti tidak ada bedanya dengan denyut nadi
berpacu menyusun alasan
dengan pertanyaan yang klise
kenapa burung camar tidak pernah melintasi mimpi
Dan aku duduk di pinggir kehampaan
menghitung serpihan diriku sendiri
seperti debu yang pernah jadi manusia
Rindu ini tidak lagi berwujud
ia membusuk di antara kata-kata yang tak pernah ‘kaubalas
aku menanamnya di bawah lidahku
dan tiap aku bicara, dunia retak serupa kepingan luka
Kau adalah doa yang ditikam sebelum sempat terucap
dan aku—
adalah altar kosong yang tetap berdoa,
dengan luka
Lampu-lampu kota menyala seperti nisan
dan langkahku memanjang ke lorong-lorong yang menolak suara
di sana, bayanganmu berdiri tanpa wajah
tapi aku tetap mengenalnya dari dinginnya
Aku menyebut namamu
seperti menjerit ke dalam sumur
dan gema yang kembali
tidak lagi memakai suaraku
Aku mencintaimu
seperti malam mencintai gelap:
dengan pasrah,
dengan perih,
tanpa pernah dimengerti cahaya
Malang, 2025
Anakku
Setelah kabut merunduk,
langit tak lagi menjanjikan pagi
Anakku,
pernahkah engkau temui bayangan
yang gemetar di perbatasan cahaya—
ia bukan aku, bukan pula doa
yang kita titipkan pada ranting kering
Di antara lintasan angin dan abu,
masih terselip frasa yang tidak pernah kau eja
terlampau jauh,
seperti musim yang tidak pernah bersepakat pada matahari
Kita bicara pada waktu yang terlalu senyap,
hingga setiap percakapan jadi pelan
seperti rahasia yang gentar
menerima tubuhnya sendiri
Mungkin dunia ini
bukan untuk menghindari kekalahan
melainkan mencicipi gigilnya
dan menamai tiap denting sebagai ketabahan
Malang, 2025
Dua Musim Kemarau
Tidak semua yang menyala adalah cahaya;
beberapa adalah luka yang membakar perlahan
Ada yang jatuh dari langit,
bukan hujan, bukan pula cinta—
hanya debu yang belajar mengeja sunyi
Di dua musim yang sama,
aku mengasingkan diri dalam bahasa
menyaring antara yang ingin dipeluk
dan yang ingin dihapus
Aku duduk di bangku tua
yang pernah diduduki oleh keberanian
dan rindu, berbaris seperti jari-jari
yang tidak pernah sepenuhnya menggenggam
Aku mencari Tuhan
di dalam mantra-mantra yang karam
mungkin hanya gema
dari kepercayaan yang tidak tahu
cara pulang ke dalam dada
Di sana,
matahari menulis kalimat terakhir
dengan huruf yang terbakar
Malang, 2025
Kereta Usang
Pada akhirnya, bahkan besi pun bisa dilupakan oleh rel
kereta tak lagi tahu arah
hanya tahu berpindah
dan kita, penumpang bayangan
meninggalkan diri kita
di setiap stasiun
Puisi berkata:
“mimpimu bukanlah tujuan, melainkan perjalanan yang tidak akan pulang.”
Kita pernah menjadi noda
di jendela yang berselimut kabut
mengguratkan tanya
pada kaca yang hanya mengenal diam
Dunia ini
seperti lembar sejarah yang ditulis
tanpa pena, tanpa kesaksian
hanya gema perang
dan peradaban yang lahir dari rasa dahaga
Semua kita,
berlayar di sungai yang tidak mengenal muara
menuju sesuatu
yang bahkan tak punya nama
Malang, 2025
Konser Zaman
Kadang waktu hanyalah simfoni
dari kehilangan yang tidak selesai dimainkan
Ketika kata tak lagi mengenali suara,
aku menulis bukan untuk dimengerti
melainkan untuk bertahan
Ada cinta yang terlambat tiba
di ujung malam
sebelum purnama pecah di keningnya
Dan kematian
bukanlah akhir,
hanya jeda dalam melodi panjang
yang dimainkan oleh jarum waktu
Kapalku bersandar
bukan di pelabuhan
tapi di dada yang penuh nada-nada tak bernama
siapa yang menyanyikan lagu itu
jika sunyi lebih pandai bicara?
Dan pada akhirnya
kita hanya jeda dari simfoni besar
yang tak pernah benar-benar dimulai
Malang, 2025
Dalam Pijar Kitab Postulat
: Amira Rashid
Setiap kitab memiliki cahaya
tapi tidak semua cahaya tahu caranya menyentuh
Engkau hadir
seperti cahaya yang kehilangan bentuk
memanggul sekarat
dalam lentera yang tak pernah selesai menyala
Aku melihatmu
dalam kilasan dan noktah yang mendekap
antara malaikat dan gema
Langit menyandarkan tubuhmu
pada senja yang ringkih
dan kita tidak lagi percaya musim
di antara ayat dan nyanyian
aku mencatat kata
bukan untuk dimaknai
melainkan untuk dibacakan
di altar paling sunyi
Mungkin cinta
adalah postulat—
tak terbantah, tak bisa dipahami
hanya diimani
dan dilepas
Malang, 2025
BIODATA
Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983. Tulisan-tulisannya dimuat di Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Republika, Solopos, Bali Politika, dll. Tahun 2022, ia meraih Juara 3 Lomba Cipta Puisi yang digelar Yayasan Hari Puisi Indonesia.













