MENU PERNIKAHAN SEORANG PEMULUNG
1/
apa menu ini hari pada pesta pernikahanmu
sebutlah juga aku dalam undangan
sebut saja dengan nama yang kau mau
kita tak pernah punya nama
tulis saja
dengan tulisan tangan
tak perlu tanda tangan
semoga takhanya sepi berlumut
dan kau masih suka
kau menyebut makan bergizi adalah
telor mata ikan
yang pantang beku dalam dingin
basahi dengan bumbu cumbu
beri daun salam,merica hitam
bagi yang tak pantang-mundur
menghadapi pedas
gembira loka para undangan
hingga ke lembah-lembah tubuhnya
daging sapi lembab
diberi racikan daun salam hangat
terlalu mahal
tak terbeli kantung kumal
2/
aku bawakan nanti kado burung origami
sayap bertulis mutiara kata potongan puisi
yang tak layak dimuat di media online
di situ memang cabul menulis cinta
buah durian dibelah
kutahu kau akan basa basi saja
sebab segala laknat
sudah jadi alamat.alamatmu saja,bukan?
sekalipun aku
tak akrab dengan kitab suci
letupan akan jadi ledakan
menguar arumdalu
aroma malam yang sedap
seringan kekupu melintas batas
3/
apa perlu aku bacakan sebuah sajak
dalam diam sajak-sajak sembunyi
di kantung celana jean lusuh
kubacakan sajak
kisah angin bersetubuh
dengan angan-angan
kisah kapal selam ditubuh
yang bertombak
yang berombak
kapal selam menyibak tubuh laut
rasa manis gulabatu
asap syahwat
4/
perlu cari saat agar waktu
tak cemburu
di ranjang malam hanya untuk
pesta mimpi para pencuri
kita hanya pencuri waktu
selebihnya mencuri bola mata. sepasang
siapa tahu
ada yang membuang
utuh menjelang subuh
agar ada 4 mata
untuk buang sauh
di pesta para pemimpi
para penari telanjang
di pesta penikahanmu apa
yang mesti ditelanjangi
para undangan adalah para pejuang
pejalan yang hanya suka hidangan sunyi
sambil menyelam minum air
hanya petambang menolak waktu luang
para pecundang
mengenakan jubah lambang-lambang
para pejuang
bukankah burung yang berkabar
tentang pesta para pencuri
dan
tentang
para pencari kebenaran
burung juga mengabarkan
mata kebenaran telah rabun
sungkawa
burung dilanda jaman
burung menjelma kambing
hitam
5/
pesta-pora ini akan sampai kapan
para hadirin hadirat berjubah pejuang
mudah menggiring ke rumah jagal
apa kesetiaan perlu dipestakan
akankah kau bawa sampai mati
hiruk sebagai pesta
apa pesta pernikahan ini tanda
mengikat janji setia
pada jalan hidup
saat subuh kehujanan
lari-lari anjing mencari teduh tak sampai
batuk-batuk kambing gigil kedinginan
apa kesetiaan harus berjanji
saat semua suara seserak suara gagak
o langit
jangan takabur dengan jubah dusta
hanya perlu gerimis
bukan hujan berceramah
kemujuran
pertumbuhan
tak ada cabang-cabang usaha
hanya memulung
sekalipun tanah kau katakan subur
di lagu,tongkat kayu jadi tanaman
laut kolam susu
seribu suara
hanya perlu satu kata
kata yang bukan peluru
yang tak mampu bersuara
dadanya luka
kerongkongan terbakar
denmam mudah menjelma
bisa ular
ular belang di rawa
siapa bilang tak berbisa
jika seribu nyawa menumpang pada dendam
jika seribu suara berhutang janji kepastian
Jika lapar
semua sama telanjang
lapar angin perubahan
lapar meja makan minta hidangan
lapar rasa manusia dibalur minyak wangi
minyak wijen
digoreng
dipanggang di bara jaman
tanah air menjadi hidangan malam
6/
Siapa chef yang kau undang
akan menertawai kelaparan kita
di pesta pernikahanmu
roti ingin rasa mulut yang harum
remah hatimu takkan pandai menghibur
jangan sampai pesta ini
hidangan persengkolan beracun
menghambat jalan matahari
jangan sampai menjadi jalan buntu
menghambat jalan waktu
memilah
memilih
mana sampah mana dusta
sejak lama kita buang mimpi
apa kembali memungut remah
tidur yang selalu hilang
subuh mengantuk
langit bersendawa
amis bau mulut
2026
BIODTA
I Nyoman Wirata lahir di Denpasar, 1953. Mulai menulis puisi sejak tahun 1975. Bekerja sebagai guru seni budaya sejak tahun 1980, pensiun tahun 2013. Dalam bidang sastra, dia pernah meraih Juara 1 Penulisan Puisi se-Bali yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Bali (1977), Sepuluh Puisi Terbaik se-Bali yang digelar Bali Post (1978), Juara III Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Tingkat Nasional Antar Guru yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1993), Juara II lomba menulis novel yang digelar Bali Post (2003). Puisi-puisinya dimuat di berbagai media massa, seperti Bali Post, Kalam, Horison, dll. Buku puisi tunggalnya adalah “Merayakan Pohon Di Kebun Puisi” (2007) dan “Destinasi” (2021). Dia menerima anugerah Widya Pataka (2007) dan Bali Jani Nugraha (2020) dari Pemerintah Provinsi Bali. Selain menekuni sastra, dia aktif melukis.













