PERIHAL LUKISAN TIGA TOPENG
Akulah lukisan dengan topengnya yang agak jelek
cat adalah darah, terikat tali silsilah
saat biji dikandung tanah-lahir!
tumbuh jadi kesatria
Ruang pameran dibuka:
kesatria itu memamerkan lukisan tiga topeng
menggoda beberapa juru tafsir & penikmat
untuk memasuki lukisan itu
Barangkali kesatria adalah kita
pengagum warna-warna
hanya beda proporsi & garis vertikal.
Akulah lukisan dengan topengnya yang agak jelek
ia lebih mencolok serupa omon panggung
yang buat kita limbung
setelah suaranya merusak kamera fotografer.
Jutaan semut datang
meninjau ruang pameran itu
lengkap dengan bendera, pengeras suara
& terang dalam genggamanny
Di mana kesatria itu? seorang berseru
kami akan melukisnya hari ini
dengan cat yang sama di masa lalu
serupa tali silsilah yang riskan putus & ragu
Kesatria itu sudah hilang
sebelum kalian datang
ia mencelupkan dirinya
pada lukisan tiga topeng
Kebanggaannya
Cianjur, 2026
DALAM CANVAS
1/
Putih menampung seluruh warna
Yang dibubuhkan tangan kuas
Tangan yang pandai memilah
Serupa komponis tua
Mahir memainkan ritme
2/
Tangan kuas paham betul
Komposisi yang pas
Membentuk keseimbangan
Di tengah warna timpa-menimpa
Mencipta corak baru
3/
sketsa dasar terbuka
Seperti membuka album lama
Menghitamkan mata penari:
proporsi yang gagal diterima
4/
Jalan seribu pandang
Menyerahkan penari itu
Pada kawanan kesatria berkuda
Dibawanya menuju titik canvas
Cianjur, 2026
Pada Suatu Petang
Jalan menuju firdaus terbuka lebih lebar
panas memeras tubuhku
asap hitam menampar muka
tiada geming jiwa
ucap namaMu yang satu
aku sembahyang di gigir puing
membuka lembar-lembar nafas itu dari saku
di halaman akhir kutemukan
ruang kecil
terbaring kaku
di punggungnya sebuah pesan biru:
“Perang telah mengubur matahariku
tapi aku tak larut dalam kesedihan
aku menjadi debu saat tersenyum
tuhan menyambutku dengan pelukan”
Dan jalan menuju firdaus terbuka lebih lebar
aku hela nafas lalu menyeringai
pada satu simpul:
Usia adalah kalimat panjang
yang ditulis Tuhan
di mana aku akan mendapati titiknya
begitu sunyi
sendiri
Cianjur, 2026
TAMU
Biar beberapa ruang tak menerima kunjunganku
Aku akan menyerahkan bunga-bungaku sekali lagi
Dengan lebih sepi, dengan lebih api.
Barangkali jamuan ini belum dapat menghapus lapar
dan dahaga.
Namun aku pantang undur
Meski cinta sulit dijamah
Aku akan tiba dengan wajah yang lain
Lebih santun, lebih rapi.
Biarkan diksiku bersila
Menyimak semua demam yang kau taburkan.
Akan aku kemas ke dalam tas
“Ole-ole buat si pacar jalang”
Atau versiku, menyebutnya ilham
Datang dari kosong
Pulang merupa firman
Amin!
Cianjur, 2026
MEDIUM 2026
Mula-mula ia membuat sketsa gambar
Meski kata orang kau tak pernah tahu
Masa depan burung-burung langit itu.
Canvas putih membentang serupa biru.
Garis-garis putus yang kau cipta membahu
Menyusun proporsi bentuk
Ciuman yang samar, misalnya:
Menjadi sajak abadi
Di hati gadis pelabuhan
Hitam merayap memadati arsiran
Rupamu perlahan lebih nyata
Ditilik dari dimensi sukacita.
Petani sabar merawat benihnya
Yang ditanam di rahim pagi
Adalah kita
Kotor jalan ihtiar
Kabut gunung menyusut keluar canvas
Menetes ke mata petani
Cianjur, 2026
MAKAN BERGIZI & ILMU TERAKHIR DARI SEORANG GURU
Gratis! Seekor matahari menanamnya di rimba gelap.
akan kumakan semuanya:
Buah, racun, sayur, dan dagingnya.
Seperti berkah yang membuat semesta bulat.
Kenyang lebih penting
Bukan begitu, guru?
Lalu hanya diam, seperti liur nasi yang terbuang.
“jek lahaplah dapurku”
Karena seekor matahari menanamnya di rimba gelap.
Tak ada prioritas
Tak ada idaman
Hanya ruang cumbu yang menunggu,
guru.
“Baik jek, mau ilmu pidato yang dapat meyakinkan:
Sebelum muka berganti genre
Kau harus menghitung jumlah keberuntungan
Jika panggung dirasa sudah sepi
Gerakan gimik ke kanan & ke kiri alakadarnya
(barangkali itu jauh lebih baik jek
Daripada sajak ini) jek hanya kerikil
Yang menyumbat telinganya.
Cianjur, 2026
BUKU
Bunga-bungaku mulai mekar
Di halaman-halaman subur
Waktu belum sempat menyiramnya
Hanya dengan kaca
Dan membiarkannya berdebu
Di halaman belakang.
Bunga-bunga, terimalah kekacauanku
Sabarku layu sejauh menanam
Dan benih harapan
Lebih dulu dipanan harga gaib
Lebih rindang dari yang kukira.
Aku meracau dibawa sungai jernih
Dijamu siloka lama nenek moyang
Di luar pandang, tanah & seluruh kenyataan
Menarikku ke dalam lobang
Lalu hilang
Kekasih, bukankah firman
Telah lama disembelih?
BIODATA
Ujang Saepudin, beraktivitas sebagai pendidik di salah satu sekolah swasta di Cianjur. Puisinya tersiar di beberapa media cetak dan digital; Pikiran Rakyat, Riau Post, Radar Kediri, Koran Indramayu, Kurungbuka, Ruangliterasip, Balipolitika, dan Suara Merdeka. Puisinya termaktub dalam beberapa antologi bersama. Salah satunya masuk 30 besar Payakumbuh Poetry Festival 2022.













