Ketika Nemo Adalah Korban Ego
Di wajah Miang yang
semakin meriang,
sekumpulan pari manta hanya bisa
merenung sambil meratapi
kehilangan para nemo
telah menjadi korban ego
bagi serdadu bandit yang
memandangi mereka bagai
badut pelipur lara sesaat,
bukan dipandang seperti pari manta
perawat kering keringat biota
jelang berkarat.
(Sedang rupa serdadu bandit
panjang gembira seolah digigit
muntung lupa)
“Kami harap Nemo itu menjelma
kaligata yang menjalar di awak serta
jemari bandit laknat hingga koyak.”
Penghakiman kiamat banyu takkan ditunda,
akan ada masa Ia tiba tanpa aba-aba.
Sebab kehancuran terumbu karang hasil
penculikan para nemo di wajah Miang
adalah kutukan kepada serdadu bandit yang
pantas untuk dirapalkan.
(2026)
Setelah Bermain Stardew Valley (2016)
— Eric Barone
Aku ingin menjadi petani sederhana
di kebun yang disusun rapi dari
keping piksel dan senyum menungging
di antara kebun sawit yang
menjulang tinggi dan sungai yang
diracuni oleh limbah tambang dan
amis darah pesut mati mengambang.
Aku ingin pergi ke Secret Woods
untuk bisa memasang mods
berupa musim panen kilat dan
pohon-pohon buatan, meliputi;
ulin, meranti, cempedak, dan lai.
Aku ingin mencangkul lebih dalam
di lahan Four Corners Farm,
untuk bisa menanam apa saja yang
kuidamkan selama ini sebagai siasat
disaat tidak bisa lagi memetik apapun
di kehidupan brengsek itu di mana
segala kebun dan hutan adat telah
dicrack hangus oleh developer rakus.
Sebab semua itu semacam mimpi yang
telah menjelma awan asap menghujam
paru-paru hingga kini dan nanti.
(2026)
Helarctos Malayanus
Aku bergegas melarikan diri
dari hutan arang dan bau
kebun ara terbakar,
sebab rumah pohon milikku
di simpang sana telah tumbang
serupa bulu legam lembutku
hangus oleh terik siang.
Di punggungku tertanam malam,
telah dibekali asap hitam.
Dengan kulit dada bercorak
matahari diujung pudar,
terkuas pula serat langit dari
bekas seret bulldozer jahanam,
bekas sayat parang yang mencekam
bekas semburan api sengaja disiram.
Aku terus menyusuri jalan liyan yang
tampak seperti nihil mungil muara
tempat membasuh peluh moncongku.
Sedang tubuhku yang renta
kini penuh cap luka seperti
peta kehilangan silsilah.
Adakah Tuhan sengaja berdiam diri
dalam kebisuan melihatku bunuh diri
menunggu dijemput balai konservasi?
(2026)
Seribu Kunang-Kunang Depan Istana
Seribu kunang-kunang itu telah
bangun dari gelap taman
berarak menuju depan istana.
*
Semula dibanjarkan tinja serupa ranjau
dari seekor babi penjajah guna menghalau
kawanan kunang-kunang tengah berseru
menuntut segala yang menjadi hak kami.
Sebab kami telah menyaksikan
sebagian hasil jerih payah yang
disumbangi dengan lapang hati,
telah digunakan percuma untuk
mengisi lambung penjajah dengan
lebih kenyang dan menerangi
istana dengan lebih benderang.
Sedang seribu kunang-kunang bersepakat;
bahwa taman peradaban yang surup
—tempat bersama menyambung hidup,
masih dilanda gelap yang remang,
jalanan berlubang, harga pokok menjulang,
tatkala asam lambung kami juga
menjerit lebih panjang.
(2026)
Matinya Kewarasan Succubus & Incubus
“Aku menidurkan anakmu dahulu, Succubus
sebelum lanjut menidurimu dengan serius.
Karena dilarang ada penyusup
dalam selimut kita, sekalipun itu
buah stroberi yang telah panen
dari pohon rahimmu.”
*
Ketika percakapan itu telah tersiar,
urat malu Succubus tampak putus
bagai benang liar,
sebab matinya kewarasan dalam
tubuhnya terbakar oleh
racun pheromen dari Incubus,
seakan menolak patuh pada
nubuat sang kristus.
Sedang Succubus hanya sibuk
mengasah tanduk dan bilah ekornya
hingga lentik memesona guna
senjata penuh godaan seperti
cakar Icarus yang siap mencabik,
memangsa, dan memeras matahari
hingga tetes terakhir.
Demikian Succubus bebal
berbaring sundal di tempat tidurnya
seperti anggur murka tertuang
segar pada mulus cawannya.
Sebagaimana kesalehan
buah scopus gagal matang
dalam benaknya,
bersama jiwa keibuan ditiupkan
kepadanya lenyap dengan silap mata,
tatkala ia menjadi wanita yang lunta
di hadapan bangsa maya,
mengemis lagi simpati mereka;
adalah kesia-siaan sampai
wajahnya tiada segan memarut
dengan sendirinya.
(2026)
BIODATA
Cahaya Daffa Fuadzen kelahiran Samarinda, 4 Juni 2002. Bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Puisinya termaktub dalam antologi bersama Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Penulis terpilih dalam Singaraja Literary Festival 2025 serta alumnus Majelis Sastra Asia Tenggara 2025 Kategori Puisi.













