“MAKHLUK sialan, kurang ajar! Mereka mesti mati di tanganku.” Ujar Saidi geram. Di depan matanya tampak tanaman jagung dan kacang tanah miliknya porak poranda. Dapuran pohon pisang yang ia tanam di pinggiran kebun, batang dan daunnya terkoyak, begitu pula jantung dan buah yang hampir matang, terserak tak karuan.
Punia, istri Saidi terisak, ia sama sekali tidak menyangka kalau kebun miliknya itu akan kembali disatroni sekawanan gajah.
“Ya Tuhan… Kebunku yang malang! Bagaimana ini, Pak? Dapunta pasti kecewa kalau kita tak bisa membelikannya seragam baru,” keluh Punia di tengah isaknya.
Mata Saidi memerah. Jemarinya gemetar hebat menahan amarah yang kian memuncak. Bukan kali ini saja kebun miliknya rusak oleh kawanan gajah yang mencari makan. Dalam 5 tahun terakhir, ini adalah yang ke empat kalinya tanaman miliknya rusak sebelum sempat dipanen.
Punia memunguti sisa-sisa jagung, kacang tanah, dan pisang yang masih utuh. Hatinya benar-benar kalut. Utang ke warung sudah menumpuk, ia janji akan membayar semuanya setelah panen tiba. Namun, dalam kondisi seperti ini, bagaimana bisa dia membayar utang?
Saidi menancapkan tombak sekuat tenaga. Kilat matanya memancarkan kebencian yang luar biasa. Lelaki itu berlalu tanpa menggubris keluh kesah istrinya. Ada yang harus dia lakukan. Dan itu tidak bisa ditunda lagi.
*
“Mereka tak salah! Itu kebiasaan mereka turun-temurun. Bukan mereka yang mengganggu wilayah tempat kalian berkebun. Tapi kalian yang kebablasan membuka lahan. Bukankah dulu aku pernah memberitahu kalian untuk tidak membuka lahan perkebunan di area itu? Kenapa tak dengar? Salah sendiri tidak menggubris peringatanku!” ujar Dalom Saba, lelaki tua mantan pawang gajah dengan suara parau.
Di sisa usianya, setelah pensiun dari pekerjaannya empat tahun lalu, Dalom Saba masih tetap mengawasi gajah-gajah yang pernah ia rawat. ia sudah menganggap kawanan mamalia itu sebagai keluarganya. Namun, tenaganya habis digunakan untuk memperingatkan warga supaya tidak membuka lahan di area yang biasa dilewati hewan-hewan itu. Sayangnya, kata-kata Dalom Saba hanya dianggap celotehan orang tua demensia yang hanya didengar oleh telinga kiri lalu keluar telinga kanan.
“Tapi ini tanah nenek moyang kami, Ki Dalom! Kami jauh lebih berhak dari gajah-gajah itu! Memang siapa yang bayar pajak tanah ini, mereka? Bukan! Tapi kami, kami yang bayar. Lalu, dengan entengnya Ki Dalom melarang kami bercocok tanam di lahan milik kami sendiri? Memangnya Aki mau menanggung kebutuhan hidup kami? Membayar utang-utang kami, hah?” suara Saidi tak ubahnya geledek di siang bolong.
Lelaki tua itu geleng-geleng kepala. Napasnya terhela, berat. Bersitegang dengan orang yang sedang dipengaruhi emosi tidak ada gunanya. Hanya akan membuat energi semakin terkuras habis. Dalom Saba berlalu, tanpa bicara.
Saidi menatap punggung lelaki tua itu dengan sinis.
“Enak betul dia bicara! Memangnya dia mau menanggung makan keluargaku?” gerutu Saidi kesal.
Angin kemarau berembus lembab. Saidi pergi ke arah selatan, berseberangan arah dengan Dalom Saba yang berjalan menukik ke hilir. Dua lelaki itu sama-sama memiliki keyakinan bahwa apa yang mereka pertahankan adalah sesuatu yang memang pantas untuk diperjuangkan.
Saidi tak habis pikir, kenapa Dalom Saba begitu menentang pembukaan tanah perkebunan warga di dekat perbatasan Suaka Way Kambas itu? Padahal jelas-jelas lahan itu adalah tanah peninggalan nenek moyang yang telah diwariskan kepada mereka dan memiliki sertifikat hak milik yang sah dari negara.
Apanya yang salah dengan tanah perkebunan miliknya? Dia tidak menanam di tanah sengketa, tidak pula merampas milik orang lain, tetapi kenapa orang tua itu begitu ingin tanah Saidi dibiarkan begitu saja seperti yang selama ini dilakukan leluhurnya terdahulu? Dunia sudah berubah, kebutuhan semakin meningkat, apa salahnya menambah mata pencaharian di tanah milik sendiri? Saidi benar-benar tidak mengerti.
“Melamun kau, Di?” sebuah suara membuat lamunan Saidi buyar. Lelaki tinggi kurus berkulit legam itu menoleh. Ah, Jamu’in tiba-tiba saja sudah duduk di sampingnya. Memesan secangkir kopi pada Yuk Diah, perempuan asal Purworejo -Jawa Tengah-, yang dua puluh lima tahun lalu mengikuti program transmigrasi dan tinggal menetap di Braja Yekti hingga saat ini.
“Pening kepalaku, Mu’in. Kebun jagung dan kacang tanahku habis di geruduk kawanan gajah sialan. Tak ada yang tersisa. Geram aku. Ingin rasanya kubedil gajah-gajah itu. Tapi kau tahu sendiri, hewan itu dilindungi negara karena habitatnya hampir punah. Lalu, kalau mereka dibiarkan begitu saja, bukan tidak mungkin malah kita yang bakalan punah!”
Jamu’in terkekeh mendengar ocehan Saidi. Ia paham betul apa yang dirasakan oleh Saidi. Jamu’in pun pernah mengalaminya dua kali. Sebab itu, ia tak lagi berkebun. Rasa trauma akibat penjarahan gajah-gajah itu belumlah hilang. Jamu’in pasrah, mencari mata pencaharian lain. Ia tak lagi peduli dengan kebunnya. Risikonya terlalu berat jika ia terus bertahan. Mengeluarkan banyak modal tetapi hasilnya malah dinikmati oleh kawanan gajah. Namun, tak ada seorang pun yang tahu persis pekerjaan apa yang sekarang ini digeluti oleh Jamu’in, entah bertani di desa Braja Indah atau menjadi nelayan di Margasari. Yang jelas, perekonomian keluarga Jamu’in kini mulai terangkat.
“Lahan tempat kau berkebun memang wilayah yang biasa dilewati kawanan gajah untuk mencari makan, sama seperti tanah miliku itu, Di. Jadi wajar kalau sewaktu-waktu mereka menggerus kebun milikmu. Gajah-gajah itu tak punya akal, tetapi mereka punya daya ingat yang kuat. Kebiasaan turun-temurun dari leluhur mereka, melakukan perjalanan di wilayah yang biasa mereka lewati akan terus gajah-gajah itu lakukan hingga turunan mereka selanjutnya. Kau pun tentu sudah paham hal kecil itu. Jadi, ya, bukan salah mereka kalau suatu saat kebunmu habis dijarah karena letak kebunmu tepat persis di jalur perlintasan mamalia itu.”
Saidi mendengus. “Bicara kau enak, Mu’in. Kau tidak mengalami apa yang aku alami sekarang. Coba kalau kau yang berada di posisiku saat ini, apa masih bisa kau terkekeh sambil menyulut rokok sesantai itu?”
Jamu’in kembali terkekeh, “Kau lupa, ya? Kebunku juga sudah dua kali dijarah hewan-hewan itu. Dan perasaanku waktu itu pun tak jauh berbeda dengan perasaanmu saat ini. Kecewa, marah, dan ingin membedil habis mereka. Namun, itu bukan jalan keluar. Lebih baik kau carilah pekerjaan lain, atau setidaknya kau pindahkan kebunmu ke tempat yang bukan wilayah yang biasa dilalui gajah-gajah itu. Sesederhana itu kurasa,” asap rokok meliuk-liuk di udara saat Jamu’in menghembusnya pelan, menikmati setiap sensasi sesapan nikotin yang masuk ke paru, perlahan-lahan.
“Kau ini, Mu’in. Dikira cari pekerjaan sekarang ini gampang apa? Kau cukup beruntung setelah melepas kebunmu, kau dapat pekerjaan baru. Sedangkan aku? Kau tahu sendiri tak ada keahlian lain yang kumiliki selain berkebun. Dan lahan yang kumiliki hanya tinggal tanah di dekat perbatasan itu. Apa yang bisa aku lakukan kalau aku harus mengosongkan tanahku itu? Mau kukasih makan apa anak istriku, Mu’in?”
Sejenak Jamu’in terdiam. Menimang sesuatu dalam otaknya. Ia memelintir rokok yang baru setengah ia sesap hingga mati di atas asbak. Jamu’in menatap Saidi, lalu bicara lembut.
“Selalu ada yang pertama, Di. Kalau kau mau, kau bisa bekerja bersamaku, tetapi ada syaratnya,” ucap Jamu’in, sudut bibirnya mengerucut.
“Ada syaratnya? Apa itu?”
*
Dalom Saba berdiri di dekat seekor gajah yang kaki kanannya terluka. Sebuah tombak bambu menancap tepat di paha gajah itu. Lenguhan kecil terdengar menyayat hati. Dalom Saba yang sudah lebih dari lima puluh tahun mendedikasikan hidupnya mengurus gajah, mengerti betul makna dari suara lenguhannya. Dielus-elusnya bagian yang terluka. Mulutnya menggumamkan sesuatu, entah mantra atau do’a.
Tombak bambu itu ia cabut perlahan. Si gajah kembali melenguh, sedikit nyaring. Usia hewan itu baru sekitar sepuluh tahun, Dalom Saba mengelus-elus kepalanya dengan lembut.
“Jangan sedih! Sebentar lagi lukamu pasti sembuh dan kau bisa kembali bergabung bersama induk dan saudara-saudaramu yang lain. Sabar, ya!” Dalom Saba seperti sedang bicara dengan cucunya. Ia mengunyah beberapa helai daun harendong bulu, kemudian membalurkannya ke atas luka di paha si gajah. Belalai gajah itu menyentuh telinga dan rambut putih Dalom Saba, lalu melengkingkan suara senyaring terompet.
Dalom Saba tertawa, “Sudah kuduga, kau bocah jantan yang pemberani. Kau calon pemimpin yang kuat. Luka segini pasti tak terasa sakit, bukan?”
Gajah itu kembali meliuk-liukkan belalainya. Dalom Saba mengelus gading yang mulai melengkung indah.
“Lihatlah, gadingmu saja tumbuh dengan begitu kuat dan sehat. Kau pasti akan segera sembuh.”
Dalom Saba menatap surya yang telah turun, meninggalkan panorama perak yang masih enggan mengatup. Ada kalut yang tiba-tiba menjalar di ulu hatinya, entah firasat apa.
“Malam ini kita tidur di sini, ya! Jangan takut, aku akan menemanimu sampai kau bisa bangkit dan berjalan lagi.”
Api unggun yang dinyalakan Dalom Saba cukup ampuh mengusir nyamuk yang terus berdengung-dengung di telinga. Lelaki tua itu terus bercerita seolah ia sedang mendongengi cucunya agar segera terlelap.
Di tengah semak belukar, sepasang mata terus mengawasi kedua makhluk yang sedang merayakan puncak malam. Gemeretak giginya hampir seberisik ilalang yang terinjak. Entah, menahan dingin atau menekan rasa geram yang menusuk tulang.
*
Kening Dalom Saba mengernyit. Ditatapnya mata Saidi dengan selidik. Ia yakin pria di depannya menyembunyikan sesuatu yang tidak ia ketahui. Pengalaman hidupnya sudah cukup membuat dia paham karakter-karakter manusia seperti Saidi. Dalom Saba yakin, Saidi memiliki andil atas peristiwa yang telah menimpa Fatah, nama yang ia berikan pada gajah yang beberapa waktu lalu terluka dan diobati olehnya.
“Mengapa Aki menuduh aku yang melakukannya? Atas dasar apa Aki melayangkan tuduhan sekeji itu padaku? Apa Aki punya bukti, hah?!” Saidi tak kalah geram.
“Yakin kau tak melakukannya? Bukankah selama ini kau begitu dendam karena gajah-gajah itu menghancurkan isi kebunmu?”
“Lalu Ki Dalom menyangka aku yang membunuh salah satu dari mereka? Bah! Itu namanya fitnah, Ki! Apalagi Ki Dalom menuduhku tanpa bukti sama sekali. Aku bisa saja menuntut Aki karena menuduhku melakukan sesuatu yang tidak kuperbuat. Aku memang dendam dan sakit hati pada kawanan binatang sialan itu. Tapi aku juga masih punya hati, Ki. Mana bisa aku melakukan kejahatan yang nantinya akan merugikan diriku sendiri!”
Dalom Saba terus mengawasi mata dan mulut Saidi saat bicara. Lama lelaki tua itu terdiam, lalu pergi begitu saja.
“Dasar orang tua pikun!” gerutu Saidi seraya menutup pintu.
Dihempaskannya tubuh di atas kursi kayu. Mata Saidi nanar menatap langit-langit. Ada sesuatu yang tiba-tiba saja ia ingat. Ucapan Jamu’in beberapa hari lalu.
“Kalau kau mau, kita bisa join menjual gading gajah. Duitnya lumayan!” bisik Jamu’in di telinga Saidi yang membuat lelaki itu terperangah.
“Gila, kau!”
*
Dalom Saba memeluk bangkai yang terkapar di tengah kebun bekas garapan Saidi. Air mata lelaki tua itu tumpah. Tangisnya membuncah seolah meratapi cucu yang pergi mendahuluinya. Sakit hatinya tak bisa ia tahan manakala melihat bangkai itu kehilangan gadingnya.
Dalom Saba masih menangis saat matahari mulai menukik dan menghadiahinya semburat oranye di ujung barat.***
BIODATA
Neng Lilis Nuraeni (Lies Noor) lahir dan tinggal di Subang. Bekerja di sebuah pabrik sepatu di kota Subang. Lulus dari SMPN 1 Ciater pada tahun 2002. Namun, tidak berkesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tahun 2012, mengikuti program paket C. Dan di tahun yang sama berhasil meraih juara 3 lomba puisi berjudul ‘Si Perempuan’ yang diadakan oleh salah satu penerbit di kota Subang. Cerpen-cerpennya antara lain: Pada Gerimis dan Bayangan Punggungmu, Bintang di Utara Itu adalah Bapak!, Selimut Bulu Angsa (masuk antologi cerpen SIP Publishing), Pada Kau Murni, Perawan Tak Bermahkota (Juara Harapan lomba cerpen Romansa Universe), Akasia dan Sebungkus Rindu (30 besar lomba Cerpen SIP Publishing), Guyonan Maut (peringkat 27 lomba Tulis.me). Novel cetak: Kekasih Sang Pendosa (Romansa Universe, 2021), Telisik Macula (Hyang Pustaka, 2023). Novel online: Gairah Bahu Laweyan (Novelme). ‘Terlambat memulai lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa!’ adalah motto hidup yang ia yakini. Bisa follow Ig @liesnoor87.













