Ada ironi yang diam-diam tumbuh bersama peradaban modern. Semakin manusia merasa berhasil menaklukkan alam, semakin rapuh pula tempat ia berpijak. Kita membangun gedung yang menjulang, jalan yang membelah pegunungan, pabrik yang tak pernah tidur, serta teknologi yang membuat dunia terasa berada di dalam genggaman. Namun pada saat yang sama, sungai kehilangan kejernihannya, hutan kehilangan kesunyiannya, udara kehilangan kesegarannya, dan bumi perlahan kehilangan kesabarannya. Barangkali persoalan terbesar abad ini bukanlah krisis iklim ataupun sampah plastik. Persoalan terbesar kita adalah krisis kesadaran.
Di tengah situasi itulah, sebuah acara kebudayaan digelar di Pundensari, Kabupaten Madiun melalui pemutaran film dokumenter “Harun Namanya”. Sepintas, ia hanya tampak sebagai agenda seni yang memadukan film, diskusi, lokakarya ecoprint, dan pertunjukan musik akustik. Namun sesungguhnya, acara seperti ini sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar menyelenggarakan hiburan. Ia sedang merawat ingatan kolektif bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang kehidupan yang harus diwariskan dalam keadaan tetap bernapas.
Film dokumenter memiliki kekuatan yang berbeda dengan laporan ilmiah. Data dapat membuat kita tahu, tetapi kisah membuat kita peduli. Statistik mampu menjelaskan besarnya masalah, sedangkan pengalaman manusia mampu menggerakkan nurani. Karena itulah kehadiran sutradara Dandhy Laksono dalam forum diskusi malam ini menjadi penting. Selama bertahun-tahun, ia menunjukkan bahwa dokumenter bukan hanya medium merekam kenyataan, melainkan cara mempertanyakan kenyataan. Kamera tidak sekadar merekam dunia, tetapi juga mengajukan pertanyaan kepada siapa pun yang menontonnya: apakah kita masih sanggup menganggap semua ini sebagai sesuatu yang biasa?
Di sisi lain, tokoh utama dokumenter ini, Harun, memperlihatkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari mereka yang memiliki jabatan atau kekuasaan. Sering kali perubahan justru dimulai oleh seseorang yang memilih tidak menyerah terhadap keadaan. Di tengah tumpukan sampah plastik yang oleh banyak orang dianggap akhir dari sebuah kisah, ia justru melihat kemungkinan untuk memulai kisah yang baru. Di tangan orang-orang seperti Harun, lingkungan bukan hanya objek penyelamatan, melainkan ruang pendidikan yang mengajarkan bahwa kepedulian selalu dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan terus-menerus.
Pertunjukan musik malam ini dibawakan Iksan Skuter dan Daniel Rumbekwan, menunjukkan bahwa seni memiliki tanggung jawab yang melampaui estetika. Musik bukan sekadar bunyi yang menyenangkan telinga, melainkan bahasa yang mampu menjangkau wilayah yang sering kali gagal disentuh oleh pidato dan kampanye. Lagu dapat tinggal lebih lama di dalam ingatan daripada slogan. Barangkali karena itulah hampir setiap perubahan besar dalam sejarah selalu ditemani oleh karya-karya seni yang menghidupkan harapan.
Saya melihat rangkaian acara ini disusun dengan sangat menarik. Lokakarya ecoprint oleh Saranx Petir mengajarkan bahwa kreativitas tidak harus lahir dari eksploitasi. Justru dedaunan, tumbuhan, dan jejak-jejak alami dapat menjadi medium berkarya yang indah tanpa meninggalkan luka bagi bumi. Ajakan membawa tumbler sendiri dan membawa kaus untuk live sablon juga tampak sederhana, tetapi di situlah pendidikan lingkungan bekerja. Kesadaran tidak dibentuk melalui ceramah panjang, melainkan melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang hingga menjadi budaya.
Rachel Carson, pelopor gerakan lingkungan modern, pernah menulis, “Di alam, tidak ada sesuatu pun yang berdiri sendiri.” Kalimat itu terasa semakin relevan hari ini. Sampah yang kita buang tidak pernah benar-benar hilang. Asap yang kita lepaskan tidak pernah berhenti di langit. Pohon yang ditebang bukan hanya kehilangan batangnya, melainkan juga mengubah suhu, air, tanah, dan kehidupan makhluk lain. Semua saling terhubung dalam jaringan yang sering kali baru kita sadari ketika kerusakan telah menjadi bencana.
Sayangnya, peradaban modern lebih sering mendidik manusia menjadi konsumen daripada penjaga. Kita diajarkan cara membeli barang baru, tetapi tidak diajarkan cara memperpanjang usia sebuah barang. Kita lebih mengenal diskon daripada pengurangan sampah. Kita lebih mudah mengingat merek daripada mengingat dari mana air yang kita minum berasal. Akibatnya, plastik menjadi simbol zaman yang paling ironis. Ia diciptakan untuk sesaat, tetapi bertahan selama ratusan tahun. Yang sementara justru menjadi abadi, sedangkan yang seharusnya abadi—hutan, sungai, udara bersih—perlahan berubah menjadi kenangan.
Filsuf Bruno Latour pernah mengatakan, “Kita tidak hidup di atas bumi; kita hidup bersama bumi.” Pernyataan ini sesungguhnya membongkar cara berpikir lama yang menganggap alam hanyalah penyedia bahan baku bagi manusia. Hidup bersama bumi berarti menyadari bahwa masa depan manusia tidak dapat dipisahkan dari masa depan seluruh makhluk hidup. Ketika sungai tercemar, yang rusak bukan hanya airnya, melainkan juga kebudayaan yang selama ribuan tahun tumbuh di sekitarnya. Ketika hutan hilang, yang lenyap bukan sekadar pepohonan, melainkan juga ingatan ekologis yang menopang kehidupan.
Karena itulah saya percaya bahwa acara seperti Harun Namanya bukanlah kegiatan seremonial. Ia adalah ruang belajar yang mempertemukan aktivisme, seni, pendidikan, dan refleksi. Film menghadirkan kesaksian. Diskusi memperluas pemahaman. Lokakarya menawarkan praktik. Musik menyentuh perasaan. Semua bergerak menuju satu tujuan yang sama: membangun kesadaran bahwa menyelamatkan lingkungan bukan pekerjaan segelintir pegiat, melainkan tanggung jawab seluruh warga bumi.
Barangkali kita terlalu lama menunggu penyelamat besar, padahal bumi lebih membutuhkan jutaan manusia biasa yang bersedia mengubah kebiasaan sehari-hari. Kita terlalu sering berharap perubahan datang dari luar diri kita, sementara sesungguhnya setiap keputusan kecil—mengurangi plastik sekali pakai, menanam pohon, memilah sampah, atau sekadar tidak membuang sampah sembarangan—adalah bentuk paling nyata dari keberpihakan terhadap kehidupan.
Ketika lampu bioskop padam malam ini dan para penonton meninggalkan lokasi acara, sesungguhnya yang paling penting bukanlah seberapa bagus film yang telah mereka saksikan atau seberapa menarik diskusi yang dipandu bersama Harun, Dandhy Laksono, dan Stephanus Adjie. Yang jauh lebih penting adalah apakah setiap orang pulang dengan cara pandang yang berbeda terhadap bumi yang mereka pijak setiap hari.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah kita mampu menyelamatkan bumi. Bumi telah melewati zaman yang jauh lebih panjang daripada usia manusia. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: ketika generasi setelah kita kelak bertanya, “Apa yang kalian lakukan saat bumi mulai kehilangan nafasnya?”, kisah seperti apa yang ingin kita tinggalkan sebagai jawabannya. (***)













