BANGLI, Balipolitika.com- Melintasi Jalan Raya Penelokan, Batur Tengah, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Rabu, 29 Juli 2026 pagi, seperti memasuki negara lain.
Di kiri-kanan, di antara kabut tebal dan aroma semerbak mujair nyat-nyat pengundang lapar, terpampang nama-nama asing yang susah dieja lidah.
Mulai dari Pahdi Specialty Coffee dengan lift khusus bagi pengunjung, Paperhills, el lago, Blue Mountains Bali, Montana Del Cafe, Olympus Coffee Bali, Akasa, la vista coffee & roastery, Okuta, Vedzpresso Coffee, hingga spot kuliner kebarat-baratan lainnya.
Deretan nama-nama resto asing yang didirikan di pinggir tebing kaldera berlatar Gunung Batur dan Danau Batur ini mulai memudar saat Google Maps memasuki area Pura Ulun Danu Batur.
Dari arah selatan ke utara, tampak aktivitas warga menaikkan gamelan ke truk di depan pura yang didirikan tahun 1926 dan diresmikan pada 1935 pasca dipindah akibat aktivitas vulkanik dahsyat satu abad silam.
Gamelan itu akan mengiringi Upacara Pamlaspas Cihna di Lokasi Titik Nol, Desa Adat Batur Let (Batur Kuno) di areal Black Lava-Batur bertepatan dengan Purnama Sasih Karo dan Kajeng Kliwon menurut penanggalan Bali.
Upacara pembangunan cihna (tanda) ini digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Rarud Batur.
Bergeser ke utara 1,5 km atau kurang lebih 5 menit dari lokasi pura, berdiri megah SMP Negeri 1 Kintamani di timur jalan.
Berbalik 180 derajat dibandingkan spot-spot kuliner kebarat-baratan tadi, di sekolah ini, wujud tradisi Batur Purba tetap eksis di tengah gempuran modernisasi.
Menempuh jarak kurang lebih 65 km dari Dalung, Badung tanpa didahului janji maupun berkirim surat, salah seorang guru SMPN 1 Kintamani bernama I Wayan Sunadi menyambut dengan senyum ramah.
Usai menyampaikan maksud dan tujuan bertamu, guru seni budaya itu pun membukakan pintu menemui Kepala SMPN 1 Kintamani, I Dewa Raka Dewi.
Sekolah yang mengusung visi “Mewujudkan Generasi Shanti, Berjati Diri Bali, Berwawasan Global dan Cakap di era Digital” itu menjadi tempat menimba ilmu bagi Kadek Yoga Prasatya (14 tahun) dan I Komang Satria Danan Maharaja (14 tahun).
Khusus nama pertama, pada November 2016 silam, di usia kurang dari 5 tahun, tepatnya 4 tahun 10 bulan, ia terpilih sebagai Jero Mangku (madeg pamangku) Pura Ulun Danu Batur dalam prosesi Nyanjan.
Nyanjan merupakan ritual sakral di Desa Adat Batur untuk memohon petunjuk gaib (niskala) dalam memilih, menunjuk, dan menobatkan seorang jero mangku atau jero balian.
Satu dekade berlalu, anak kedua pasangan suami istri (pasutri), I Wayan Sudi Eka Putra dan Ni Nengah Darsi itu kini duduk di bangku kelas IX B SMPN 1 Kintamani.
Ditunjuk sebagai Pangemong atau Pemangku Ida Ratu Ayu Pingit (Rosan Kasanga) Pura Ulun Danu Batur sesuai kehendak Ida Bhatara-Bhatari serta keyakinan masyarakat adat setempat, Jero Yoga mengaku baru sadar mengemban posisi spiritual tersebut sekitar kelas 3 SD.
“Empat setengah tahun (saat ditunjuk, red) tidak ingat apa-apa. Kelas 3 SD baru tahu (posisi sebagai pemangku, red), tapi belum berani. Kelas 5 SD baru mulai nganteb, memimpin upacara. Kelas 2 SMP baru pakai genta,” ucap Jero Yoga yang secara administratif tercatat sebagai warga dinas Banjar Kertabuana, Desa Batur Selatan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Menjawab pertanyaan dengan tenang dan santun, sosok yang lahir pada Kamis, 22 Desember 2011 itu menjabarkan tidak pernah memotong rambut sejak November 2016 atau 10 tahun terakhir.
Tampil dengan gaya rambut mepusung yang secara filosofis menyimbolkan identitas, kesopanan, dan kedewasaan sosial dalam kultur masyarakat adat Bali, Jero Yoga berujar tidak pernah mengonsumsi daging sapi.
“Baru pertama ditunjuk jadi Jero, ibu tiang pingsan. Nike dipilih melalui Nyanjan. Ada pengayah yang nepak-nepak api lalu disebutlah nama yang ditunjuk sebagai Jero. Nama tiang yang disebut. Bapak saya sempat merekam. Diam. Kaget. Agak hilang kesadaran dalam posisi berdiri sampai ditepuk-tepuk oleh teman di sampingnya. Dipanggil-panggil namanya,” ucap Jero Yoga mengulang cerita yang disampaikan kedua orang tua dan kerabatnya mengenai prosesi Batur Purba itu.
Saat ritual suci itu, Jero Yoga sedang berada di rumah bersama pihak keluarga lainnya.
Sejak ditunjuk sebagai jero mangku mulai umur 4 tahun 10 bulan hingga usia 9 tahun lebih, bahkan hingga kini, Jero Yoga mengaku tidak ada bedanya dengan anak-anak pada umumnya.
“Sadar sebagai jero mangku saat kelas 3 menuju kelas 4 SD. Sebelum itu di rumah saja. Setelah kelas 3 SD baru ngayah di pura,” ungkap remaja berpostur tubuh tinggi semampai itu.
Mendapat kesempatan langka sebagai seorang jero mangku sejak balita, Jero Yoga mengaku bangga.
Meski demikian diakuinya penunjukkan secara niskala itu tak lantas membuatnya memiliki kemampuan istimewa seperti penglihatan tembus pandang layaknya serial Drama Korea alias drakor yang saat ini digandrungi banyak orang.
“Saya bangga diberikan restu oleh Tuhan menjadi jero mangku,” ungkap Jero Yoga polos.
Berstatus generasi Alpha yang tumbuh saat gawai cerdas berupa tablet atau iPad dan media sosial menjadi bagian normal kehidupan, Jero Yoga tak menampik suka bermain PlayStation produksi Sony Interactive Entertainment.
“Kalau PlayStation sempat main. Kalau Mobile Legends tidak pernah. Saya tidak begitu suka main Mobile Legends. Kalau main handphone biasa,” ungkap Jero Yoga.
Sebagai bagian dari keluarga besar SMPN 1 Kintamani, Jero Yoga menjalankan hak dan kewajiban sama seperti rekan-rekan sebayanya.
Ia pun turut menerima program pemerintah pusat yang dicanangkan Presiden RI, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran) berupa Makan Bergizi Gratis alias MBG.
“Sama dengan teman-teman lain,” cetus fans Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026 itu.
Menjadi Jero Pemangku Pura Ulun Danu Batur termuda bersanding dengan total 28 jabatan pemangku sesuai tatanan struktur tradisi Desa Adat Batur, Jero Yoga menyebut mendapat bimbingan khusus dari Jero Gede Batur Duuran/Kanginan dan Jero Gede Batur Alitan/Kawanan.
“Kalau sama Dane Jero Gede Batur tiang berbicara dengan bahasa halus. Termasuk Jero Penyarikan, Jero Balian, dan lain-lain,” tandasnya.
Terkait Upacara Pamlaspas Cihna di Lokasi Titik Nol, Desa Adat Batur Let (Batur Kuno) serangkaian 100 Tahun Rarud Batur yang dihadiri Ida Dalem Semara Putra, Gubernur Bali, Wayan Koster; Danrem 163 Wirasatya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra; Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta; Wakil Bupati Bangli, Wayan Diar, dan sejumlah pejabat teras lainnya, Jero Yoga menyampaikan tidak mendapat tugas khusus, sehingga bisa bersekolah sebagaimana mestinya.
“Ada Upacara Mecaru di Titik Nol Batur hari ini, tapi saya tetap sekolah. Biasanya kalau ada upacara yadnya di pura, tiang permisi pulang mendahului. Kalau sejak pagi upacaranya, tiang izin tidak sekolah. Kalau purnama dan tilem seperti hari ini, tiang ten izin. Tiang izin antara lain saat upacara kadasa, kasanga,” jelasnya sembari mengaku sang ayah sehari-hari mengais rezeki sebagai tour jeep di Gunung Batur dan sang ibu menggeluti profesi dagang.
Tamat SMP, Jero Yoga berkeinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA/SMK/Sederajat dan perguruan tinggi yang berlokasi di Pulau Bali.
“Kalau sekolah boleh di seputaran Bali. Kalau di luar Bali tidak bisa,” bebernya.
Sebaya dengan Jero Yoga yang hampir 10 tahun berstatus jero mangku, I Komang Satria Danan Maharaja (14 tahun) belum genap setahun terpilih dan dinobatkan sebagai Jero Mangku Pura Bukit Mentik, Desa Adat Batur.
Ia bersama Jero Mangku I Gede Yoga Ananta Putra yang juga masih berstatus pelajar dipilih melalui Prosesi Bakti Penyanjan di bulan September 2025.
Pertama kali mengetahui terpilih sebagai Jero Mangku Pura Bukit Mentik dari sang paman, jero mangku belia kelahiran Sabtu, 24 September 2011 itu mengaku kaget dan tidak percaya.
“Pastinya terkejut karena tidak menyangka jadi jero mangku. Ada sedikit-sedikit takutnya, karena tidak percaya jadi jero mangku. Namun, saya ingin tetap mengejar cita-cita. Ingin belajar sampai setinggi-tingginya,” ucap pelajar asal Banjar Kerta Budi, Desa Batur Selatan yang kini duduk di kelas IX F SMPN 1 Kintamani.
Sama seperti penuturan Jero Yoga, Jero Danan pun menyebut penunjukkan niskala dirinya membuat sang ibu nyaris pingsan meski akhirnya menerima dengan ikhlas.
“Ibu saya hampir pingsan dan bapak saya diam. Meski diam, saya tahu pikiran Beliau pasti banyak. Meski begitu, kami sekeluarga bersyukur karena tidak semua anak mendapatkan keistimewaan seperti saya,” ujarnya didampingi Sang Made Pebroana, Wali Kelas IX F SMPN 1 Kintamani.
Dituntut dewasa lebih cepat dan dipercaya sebagai pemuka umat, Jero Danan menyadari kini ia tak bisa lagi bermalas-malasan seperti dulu.
“Sebelum ngayah jadi jero mangku, di rumah, saya agak males-malesan. Kadang-kadang disuruh orang tua, saya tidak mau. Juga suka menunda-nunda. Setelah jadi jero, ada perubahan. Disuruh langsung mau dan tidak suka menunda-nunda lagi,” ucap anak ketiga dari 4 bersaudara ini.
Didaulat sebagai jero mangku sejak usia 13 tahun, ia menyebut teman-teman sepermainannya mampu menerima, meskipun beberapa di antaranya terkesan canggung saat berkomunikasi.
Tak hanya teman sepermainan, saudara-saudara kandungnya pun demikian.
Syukurnya, seiring waktu berlalu, orang-orang terdekat tersebut mampu beradaptasi dengan cepat.
“Kalau kakak dan adik saya serta orang tua kini sudah beradaptasi dengan status saya. Kakak dan adik menyapa saya jero serta berbahasa halus. Adik saya umur 8 tahun, kelas 2 SD,” tandasnya.
Flashback, Jero Danan mengaku tidak mendapatkan ciri-ciri, kode alam, maupun petunjuk khusus sebelum ditunjuk sebagai jero mangku.
Yang pasti kala itu, seorang teman sekelasnya bercanda saat keduanya berangkat sekolah bersama menuju SMPN 1 Kintamani.
“Nan, katanya kamu yang jadi Jero Mangku Pura Bukit Mentik. Saya tidak percaya. Ternyata malam hari di hari yang sama, itu benar terjadi. Nyajan-nya dari jam 6 sore sampai jam 3 pagi. Ditunjuknya antara jam 9 sampai jam 10 malam,” cetus pecinta olahraga futsal itu.
Hampir setahun ngayah pasca prosesi meyasa pada 18-27 September 2025 di Pura Bukit Mentik, Jero Danan mengatakan saat ini sudah mampu beradaptasi mengikuti ritual yang digelar hingga malam hari dan menuntut harus begadang.
Walau sering begadang, ia bersyukur tugas ngayah di usia muda itu tak lantas membuatnya tertinggal dalam aktivitas akademik di sekolah.
“Syukurlah pelajaran di sekolah tidak terganggu,” cetusnya.
Senada dengan Jero Yoga, Jero Danan pun memilih merendah saat disinggung soal kemampuan spesial pasca dinobatkan sebagai jero mangku di usia sangat muda.
Meski demikian, ia tak menampik kini menjadi pribadi atau sosok yang lebih tenang.
Diakui pula bahwa status sebagai jero mangku muda tak lantas membuatnya terlepas dari kisah kasih di sekolah alias “cinta monyet”.
Dengan malu-malu, Jero Danan mengaku baru-baru ini “ditembak” oleh salah seorang teman perempuan satu sekolahnya.
Namun, dengan berat hati, pernyataan cinta tersebut ia tidak terima alias tolak.
“Saya tolak,” tandas Jero Danan.
Ditemui di lokasi yang sama, Kepala SMP Negeri 1 Kintamani, I Dewa Raka Dewi menyebutkan bahwa pihak sekolah sangat menghormati adat istiadat atau local genius Desa Adat Batur.
Sebagai salah satu bentuk penghormatan, kedua jero mangku belia ini diatur agar menempati ruang kelas di posisi atas atau lantai dua.
“Ruang kelas kami kan bertingkat, Pak. Jadi jero nike, kami tempatkan di lantai atas. Paling tidak, tidak diungkulin (dilangkahi) oleh siswa-siswi yang lain. Sedangkan untuk proses pembelajaran seperti biasa. Kalau ada kegiatan upacara seperti purnama, tilem, saraswati, atau hari suci yang lainnya, Beliau-beliau ikut terlibat langsung; ngaturang, kemudian ngayabang, masirat ke Bapak/Ibu guru, juga ke teman-temannya yang lain,” ujar Raka Dewi diwawancarai di ruangannya, Rabu, 29 Juli 2026 pukul 10.35 Wita.
Soal absensi, jika para jero mangku belia ini dibutuhkan untuk berada di pura, pihak sekolah juga memberikan kebijaksanaan spesial.
“Seperti waktu ini, jero yang baru niki ( I Komang Satria Danan Maharaja, red) ada istilah meyasa. Sekian hari harus ada di pura. Ya, kita bijaksanai, kita persilakan. Diganti dengan tugas dari Bapak/Ibu Guru yang bisa dikerjakan di rumah,” ungkap Raka Dewi sambil menjelaskan bahwa para guru, pegawai, dan siswa SMP Negeri 1 Kintamani menyapa anak-anak didik spesial ini dengan sebutan jero.
Meski mendapat perlakuan khusus, diakuinya para siswa yang mendapat tugas niskala sebagai jero lebih mengutamakan hadir ke sekolah mengikuti proses belajar-mengajar.
Kebijaksaan atau dispensasi lainnya juga menyangkut panjang dan gaya rambut serta cara berpakaian.
Dengan kata lain, mereka aman dan dipastikan tidak kena sidak rambut layaknya siswa pada umumnya.
“Khusus jero lanang, kita bijaksanai. Jero-jero ini kan rambut Beliau panjang. Maperucut. Tetap kita persilakan sesuai dengan tradisi di sini, di Batur pada khususnya. Termasuk pakaian. Pakaian adat Beliau kan putih-putih dengan udeng khusus pemangku,” terangnya.
Berusia akil balik dari masa anak-anak ke remaja ditambah kewajiban mengerjakan tugas-tugas sekolah, Raka Dewi menyebut selama ini tak ada keluhan mengenai keterlambatan pembelajaran yang dialami para jero ini.
“Tiang selaku kepala sekolah tiap bulan mengajak bapak/ibu guru melakukan refleksi dan evaluasi bagaimana keadaan murid-murid. Selama ini belum pernah saya mendengar dan menerima laporan Jero-jero ini tidak bisa mengikuti pembelajaran atau tertinggal. Apalagi masalah absensi. Belum pernah. Justru Beliau-beliau sangat disiplin dan karakternya sangat bagus,” ungkap Raka Dewi.
Ditanya tentang hal-hal niskala atau di luar nalar yang terjadi di SMPN 1 Kintamani seperti kerauhan massal atau sejenisnya, Raka Dewi menyebut belum pernah terjadi.
“Sama sekali tidak ada. Tidak pernah ada kerauhan massal atau sejenisnya. Memang aspek sekala niskala harus kita percaya. Di sisi lain, ilmu harus tetap ditimba di sekolah. Astungkara, selama saya menjadi kepala sekolah, fenomena seperti itu belum pernah terjadi,” terang Raka Dewi yang bertugas di SMPN 1 Kintamani sejak 2019 dan diangkat sebagai kepala sekolah sejak 2022.
Raka Dewi pun memastikan kedua jero mangku belia tersebut tidak dijauhi maupun menjadi sasaran bully oleh rekan-rekan sejawat.
Sebaliknya, baik Jero Mangku Kadek Yoga Prasatya maupun Jero Mangku I Komang Satria Danan Maharaja justru dinilai bisa bergaul dan memosisikan diri dengan baik.
“Tidak ada pelajaran yang tidak diikuti. Semua sama karena Beliau bergabung dalam satu kelas. Jadi satu paket jadwal pelajaran. Anak-anak ini baik. Kalau saya bersentuhan langsung tidak, karena tidak mengajar di kelas. Tiang melihat semisal saat kumpul di halaman sekolah. Alep-lah. Jadi, Beliau itu bisa menempatkan diri dengan statusnya yang jero. Mungkin kalau anak-anak yang lain bisa saling colak-colek. Kalau mereka meneng (diam) saja. Kumpul ya kumpul. Kalau ada kegiatan ya berkegiatan. Kebetulan tidak hanya siswa yang begitu. Ada juga salah satu guru kami berstatus Jero Lingsir. Guru olahraga. Beliau Jero Lingsir di Pura Alas Arum Batur,” tutup Raka Dewi. (bp/ken)













