Pendakian Puncak
Kusut,
pukul lima, matahari terbit, tatapan berair bak alir mata air,
tubuh berdebu dan perasaan masih membiru.
Barisan tangguh berseragam mencari sukma yang tertelan, dengan rintihan pemuja Tuhan,
hijau gunung di depan pelupuk, tak kupeluk, terasa merasuk.
Sabar,
gunung terbuka, mengenal manusia, sekarib dengan hutan,
pada lerengnya, namaku tak pernah ada.
Tegukan air menyadarkanku, gunung layaknya api,
kadang menyambut umur, kadang merenggut umur.
Tanah yang terpijak menyampaikan duka kepada semak,
dengan duri-duri menembus hati, akar-akar keras kepala mengajakku terjatuh,
lagi-
dan lagi.
Letih,
menuju landai, hampir sampai, sedikit lagi, hujan menamparku,
kantung mata tergerus, perasaan makin pupus.
Longsor, semua pohon memelukku dengan erat,
membungkusku dengan dedaunan kering,
menyeretku bersama sungai, menghantam batu.
Masih hidup.
Kunikmati menuju puncak,
menyapa matahari, ia memberi jalan,
kabutnya menyimpan aroma yang tak pernah diajarkan gaharu.
Lalu, angin menjemput, menghantarkan pada rumput,
mengobati luka yang perlahan tertutup.
Lega,
melihat para burung bersenandung, beralas awan putih suci,
puncaknya menyimpan senyum, tak pernah kutahu untuk siapa,
melangkah membuatku-
asing pada diri,
Terlena.
2026
Bahkan Bila Aku Berdarah untuk Dia
Menetap di tepi taman, tanpa pengalaman menyerbuk,
bersama bunga kecil yang menyelip di tangkai,
tanganku terlalu kasar untuk menggenggam sejarahnya
tak pernah kupetik, layu bersama waktu, mewariskan sari.
Tak sudi menaruh bambu di bawah diri, kuikat di tangan kiri,
kanan menggenggam, membawa angan tak kunjung padam,
bias cahaya mati, dibunuh asap dan debu.
“Kami sudah tak berdaya, tapi dunia akan melihat!”.
Subuh berdarah, bunga-bunga itu terpijak di atas tanah subur,
dibuatnya tandur oleh kuda besi tempur,
mundur.
Petani sudah habis, tak mampu jadi meriam,
tersujud menghadap kebejatan, tersungkur dikalahkan kejahatan,
melihat pertiwi harus tertindas di pelupuk mata,
memupuk dosa kepala besi.
Lihat aku Tuhan, indah Kau ciptakan diluluhlantakkan amukan-Mu,
delapan belas peluru kuikhlaskan menembus tubuh penuh cinta,
lima sayatan kuizinkan mekar di dada pejuang pembebasan,
Juni menguburkan hujan, agar bunga-bunga tak kehilangan kembangnya.
Akhirnya telah sampai, di taman Kurukshetra, menyimpan kelam para tetua,
samar kudengar rintihan doa bunga-bunga terpijak,
memohon dirinya mekar, di taman indah
yang tak mengenal malam, malam berdarah.
Dia akan selalu
tumbuh,
bersama terangnya bulan dan hangat matahari.
2026
Kalau Saja Dunia Berhenti Dua Detik, Kamu Mau Apa?
Kalau saja dunia berhenti dua detik,
jam kehilangan angka, kompas melupakan utara,
embun menggantung di udara.
Barangkali waktu memang lahir
di bulu matamu.
Aku tak ingin menyebut namamu.
Takut suaraku lebih dahulu
selesai.
Biarlah bibir mengunyah sunyi,
mengendap,
mengapur,
mengabu.
Karena musim tak sempat ajarkan,
cara menunda perpisahan.
Lalu dunia berhenti,
namun kedipanmu tidak.
Kalau saja dunia berhenti dua detik,
ingatkan namaku terselip
di sela
keberanianku,
sebelum kelopakmu
mengembalikan dunia.
2026
Pasir di Punggung
Rupa yang terukir di garis pantai,
buih melukis kembali memori, awan menjadi kanvas,
langit sore memancing air mata, angin mengaburkan sketsa.
Dia kembali, gema janji membawa hati,
bersama jejak yang belum mati,
tergores,
menganga,
meradang.
Bertemu di lekuk kecil tebing pantai,
membiarkan alkohol bercampur senja,
berpuisi kepada biru laut,
didengar,
disanjung,
dilupakan.
Pasir putih mengalasi tubuhmu, nyaman di lengan,
bercumbu dihiasi terbenamnya raja dunia,
waktu gagal menghapus bayangnya.
Dua punggung kembali bertemu,
pasang menarik ke masa lalu, rindu mengaliri pembuluh biru,
mengungkap luka baru, mengoyak ruang sendu.
Pasir di punggung, seolah tergantung
dalam perasaan yang mendung,
tak mau menahan lagi, simpul terurai sendiri,
Ombak enggan mengganggu,
menyaksikan kembalinya-
sang perayu.
2026
Bayang Masa Lalu
Menggoda, ingat jiwa yang tak kunjung pulih dari luka. Merana,
menuang racun-racun melekat,
sempat menyekat,
lalu memekat
merayuku dengan sebutir ekstasi,
membiakkan ekspektasi,
membujuk halusinasi.
Pada tubuh yang tertinggal wangi parasnya,
denyut pelipis menghantam isi kepala.
Ingatan memaksa air-air mata jatuh,
membanjiri retina,
mengikis rupa.
Petang,
bayangnya duduk di sisi ranjang,
mengulang kata-kata usang,
sayang,
terbuang,
namun terus terngiang.
Membaringkan diri bersama kenang,
tetap pulang pada bayang.
Pekat,
cermin retak memantulkan wajah-wajah dekat.
Bibirku bergerak sebelum sempat berpikir.
Seseorang menjawab dari balik kaca,
sedang pintu itu telah lama tertutup rapat.
2026
BIODATA
I Dewa Made Dharma Putra Santika lahir di Tabanan, Bali, 20 Desember 2004. Ketertarikannya pada dunia sastra tumbuh sejak aktif di Teater Jineng, SMA Negeri 1 Tabanan, dan terus berkembang hingga kini sebagai anggota Teater Biner. Bagi Dewa, teater dan puisi merupakan dua ruang yang saling melengkapi dalam membentuk kepekaan terhadap bahasa, emosi, dan pengalaman manusia. Pada tahun 2024, Dewa meraih Juara I Baca Puisi kategori Putra pada Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Bali dan mewakili Provinsi Bali dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) 2024. Pada tahun 2026, Dewa kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara I Cabang Penulisan Puisi pada PEKSIMIDA Bali dan kembali dipercaya mewakili Provinsi Bali pada PEKSIMINAS 2026.













