ADA pertanyaan besar tiap kali aku berdekap-dekapan dengan sajak Chairil Anwar: membiarkan dia tenang di balik Nisan-nya, atau memberinya setangkai bunga kenangan?
Perempuan memiliki arti besar bagi penyair Chairil Anwar, dia memberi warna bagi kehidupan, perjalanan kepenyairan serta sajak-sajaknya. Seperti, puisi pertamanya “Nisan” dibuat beberapa waktu setelah neneknya yang sangat disayangi dan menyayanginya meninggal dunia.
Nisan
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuhan bertahta
Sajak 4 larik ini menggambarkan suatu realitas bagaimana duka mendalam sang penyair ditinggal neneknya untuk selama-lamanya. Sajak ini begitu indah, dan menunjukkan bagaimana penyair (Chairil Anwar) membawa realitas ke dalam ruang estetika. Estetika sajak bergerak dan berpusat pada olahan permainan bunyi rima (CHAIRIL ANWAR: KONSTRUKSI GAYA DAN RIMA; Muhammad Solihin). Begini uraiannya :
Chairil Anwar begitu dalam bicara tentang kematian, dan indah mengungkapkan perasaannya ke dalam sajak dan “terdengar” baru saat saat itu. Meski irama rima sajak masih terbawa warna puisi lama dengan pola : a – b – a – b, tapi Chairil Anwar membuat suatu perubahan dengan olahan permainan bunyi di dalam baris (larik sajak) dan bahasa yang ekspresif, sehingga membawa pembaharuan sajak.
baris pertama :
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Baris pertama ini merupakan pernyataan atau ungkapan perasaan “aku lirik”. Sedang kata “benar” merupakan peneguhan atas hal yang terjadi. Kata “menusuk kalbu” sebagai ungkapan yang menyakitkan hati (kesedihan yang teramat sangat).
Dilanjut baris kedua :
Keridlaanmu menerima segala tiba
Baris kedua dimulai dengan kata “keridlaanmu”, menunjuk pada arti kerelaan, sebagai sikap sabar (ikhlas) atas sesuatu yang terjadi (dihadapi), yaitu kematian. Di sini Chairil Anwar mencoba mengurai waktu, sebagai suatu rekam jejak, atas sikap diri subjek (sajak) sebelum datang kematian. Kemudian dilanjut dengan “menerima segala tiba”. Kata “segala tiba” ini sebagai hal yang terkait sebagai takdir (kuasa atau kehendak Ilahi). Pada baris kedua ini si aku lirik menunjukkan bagaimana orang yang disayanginya memiliki sikap ikhlas dalam menjalani takdir (panggilan Ilahi).
Sementara pada bagian rima, Chairil Anwar juga mulai mengolah permainan bunyi “u” pada kata “keridlaanmu” di awal baris kedua yang bertaut bunyi dengan kata “kalbu” di ujung baris pertama. Tautan rima pada kata “keridlaanmu” dan “kalbu” ini juga memiliki hubungan tautan makna, sebagai hati yang ikhlas. Bunyi rima “u” memberi irisan kesedihan mendalam. Dan bunyi rima “a” pada rangkai kata “menerima”, “segala”, dan “tiba”.
Kemudian baris ketiga :
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Penggunanaan kata “Tak kutahu” secara bentukan sama (simestris) dengan “Bukan” pada kata “bukan kematian” di awal baris pertama. Sebagai sebuah pernyataan “aku lirik” atas sesuatu hal yang tak dipahaminya.
Yang menarik, Chairil membuat jalinan bentukan pada baris sajak. Chairil secara sengaja membuat ada jalinan kata “bukan” pada awal baris pertama dengan kata “tak” pada awal baris ketiga.
Kata “setinggi itu” di baris ini menunjukkan hubungan jarak, antara yang di bawah dengan yang di atas. Kata “debu” (tanah) menunjukkan manusia berasal dari tanah.
Pada baris ketiga ini, Chairil mengolah permainan bunyi “u” dalam susunan yang simetris pada kata kedua, keempat dan keenam, yaitu pada pertautan bunyi kata “kutahu”, “itu”, dan “debu”. Rangkaian bunyi rima “u” ini menunjukkan perasaan duka, luka, nestapa yang datang seperti bertubi-tubi.
Chairil juga mengikat bunyi di ujung baris, pada pertemuan bunyi rima “u” kata “kalbu” di ujung baris pertama dengan kata “debu” di ujung baris ketiga.
Dilanjut baris keempat, baris terakhir :
Dan duka maha tuhan bertahta
Sebuah penutup yang indah. Apatah yang indah?
Ini sebuah kejutan olahan bunyi yang harmoni dalam memainkan bunyi rima. Di ujung baris mengikat harmoni bunyi rima “a” pada kata “bertahta” di ujung baris keempat dengan kata “tiba” di ujung baris kedua.
Pengolahan dan permainan rima Chairil pada sajak Nisan ini begitu indah dan menarik, tidak saja pada pertautan rima di ujung baris, tapi juga pada pertemuan bunyi di dalam baris.
Rima Chairil tidak hanya pertautan bunyi, tapi memiliki relasi makna. Misalnya :
kalbu dengan debu
tiba dengan bertahta
Sajak “Nisan” ini begitu singkat, hanya satu bait yang terdiri atas empat baris, tapi Chairil begitu luas dan dalam bercerita tentang kematian, dan ungkapan perasaan kesedihan ditinggalkan orang yang disayanginya.
Sajak membawa gerak kehidupan sang penyair, seperti kisah hubungannya dengan kekasihnya Mirat yang dituangkannya ke dalam sajak berjudul “Mirat Muda, Chairil Muda”. Delapan larik sajak disajikan di sini sebagai contoh dari 19 lar ik sajak keseluruhan :
Mirat Muda, Chairil Muda
Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah
Menatap lama ke dalam pandangnya
Coba memisahkan matanya menantang
Yang satu tajam dan jujur yang sebelah
Ketawa diadukannya giginya pada
Mulut Chairil, dan bertanya :
“Adakah, adakah
Kau selalu mesra dan aku bagimu indah?”
….
Sajak ini menggambarkan sebuah realitas bagaimana hubungan, kedekatan, dan kemesraan yang terjalin antra Chairil dengan kekasihnya, Mirat. Realitas dan estetika menyatu dalam ruang sajak.
Empat baris pertama sajak :
Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah
Menatap lama ke dalam pandangnya
Coba memisahkan matanya menantang
Yang satu tajam dan jujur yang sebelah
Chairil mengolah permainan bunyi rima “ah” pada kata “rebah” di ujung baris pertama dengan kata “sebelah” di ujung baris ke empat. Variasi bunyi “ah” dan bunyi “a” juga di dalam baris pertama. Tautan bunyi “ah” pada kata “Dialah”, “Miratlah” dan “ rebah”. Tautan bunyi “a” pada kata “ketika” dan kata “mereka”.
Variasi bunyi rima “a” di baris kedua. Tautan rima “a” pada kata “ lama” dan kata “pandangnya”.
Kemudian baris berikut, teringat pada kekasihnya (Mirat) yang menghidupkan suasana jiwanya (baris ke 5 – 8) :
Ketawa diadukannya giginya pada
Mulut Chairil, dan bertanya :
“Adakah, adakah
Kau selalu mesra dan aku begitu indah?”
Di baris ke 5 – 8 ini, Chairil mengolah bunyi rima “a” dan “ah”. Tautan rima “a” pada kata “pada” di ujung baris ke lima dengan kata “bertanya” di ujung baris ke enam. Tautan rima “ah” pada kata “adakah” di ujung baris ke tujuh dengan kata “indah” di ujung baris ke delapan.
Chairil juga mengolah permainan rima di dalam baris. Variasi bunyi rima “a” di baris ke lima. Tautan bunyi rima pada kata “ketawa” dengan kata “pada”. Variasi bunyi rima “ah” di baris ke tujuh. Tautan rima “ah” pada perulangan kata “adakah”. Variasi rima “u” di baris ke delapan. Tautan rima pada kata “selalu dan kata “mesra”.
Masih banyak sajak lain di mana ada perempuan yang membawa gerak sajaknya, seperti sajak “Hampa” yang diberi tautan pada judul “kepada Sri”, sajak “Cerita Buat Dien Tamaela”, “Senja Di Pelabuhan Kecil” buat Sri Ajati, dan masih banyak lagi yang lainnya (Kumpulan puisi: Aku Ini Binatang Jalan, Chairil Anwar, penerbit Gramedia Pustaka Utama).
Pada pidato kebudayaannya di depan Angkatan Baru Pusat Kebudayaan Chairil juga menyebut sosok perempuan dalam pidatonya (data dari: Pusat Dokumentasi H.B. Jassin) :
….
Ida! Ida! Ida!
Aku bantah Idaku ini kali! Karena Ida katakan tenagaku mentjipta sedikit sekali. Bukan! Djangan kita semata-mata akan mempertahankan diri maksudku, tetapi satu pikiran dan pendapatan Tentang mentjipta sendiri.
….
Ida tentu pernah mendengarkan Mozart. Musik berdjalin kesahadjaan-kesempurnaan jang indah-permai. Tapi meminta waktu juga sebelum ia bisa mengatakan tjiptaannya siap. Ini seniman2 dalam arti sebenarnja lagi, jang menerima segala terus dari Tuhan…….!!
Ida! Rangkaian djiwa, lihat!
….
Pidato ini menurut cerita (skenario film) Syuman Djaya (AKU, Syuman Djaya, penerbit Gramedia Pustaka Utama) tidak dibacakan oleh Chairil sendiri, karena Chairil Anwar, ternyata berada di sebuah ruang interogasi. Pidato Chairil ini menarik perhatian banyak seniman, terutama pada kata panggilan Ida! Ida! Ida! Pelukis S.Sudjojono, Basuki, Kodrat, Yasmin sempat penasaran :
“Siapa kenal Ida?”
“Ida mana?”
“Ida yang disebut-sebutnya dalam
Pidatonya semalam. Kau kenal, Yasmin?”
Dalam gerak kata pembawa Ida!Ida!Ida! Chairil terbayang akan kekasihnya tersebut, yang bukan kekasih di dunia realitas, tapi kekasih dalam dunia ide, gagasan masa depan tentang Ida! Ida! Ida!: Indonesia?
BIODATA
Muhammad Solihin Oken lahir di Jakarta, 26 Oktober 1970. Pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, dan mengikuti Program Course Paska Sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Aktif bersastra sejak mahasiswa. Pernah menekuni profesi wartawan sejak 1996 hingga 2013. Sejak 2009 ia rajin menulis puisi di media sosial. Buku puisi terbarunya berjudul “Sajak Selikur” (2022).













