Rindu Tanpa Aksara
Kujatuhkan tubuhku
di atas kursi reyot
mataku menatap dinding kusam
tanpa kalender
tanpa gambar
puluhan tahun sudah
tak pernah pulang
dalam bayang sunyi
Wajah ibu jelas terbayang
Matanya bening
Air matanya menahan rindu
Bibirnya bergetar
mungkin menyebut namaku
dalam doa-doa malam
yang tak terhitung jumlahnya
ibu,
apa yang hendak kubawa
jika aku pulang?
tubuh letih?
saku kosong?
napas beraroma arak?
Kubiarkan rinduku mengendap
Kubiarkan asap menulis kalimat
sebuah pengakuan tanpa aksara
sebuah ratap tanpa suara
dalam hati aku penuh tanya
apakah aku masih bisa pulang?
Medan, 28 September 2025
Balada Seorang Peminta-Minta
/1/
Ia masih setia di persimpangan jalan
Deru kendaraan membelah udara
Angin sepoi menyingkap ubannya
menyeret tubuhnya rapuh
ke dalam dingin nasib tanpa ujung
Sekali waktu
sekeping koin terjatuh
Dentumnya sebentar
lalu sunyi kembali menyapa
serupa doa yang tak sempat terucap
/2/
“Berilah aku sekeping rezekimu,”
bisiknya pada langkah-langkah yang berlalu.
Namun kata-kata itu
lenyap dalam riuh lalu lintas kota
Ia mendongak pada langit yang perlahan mendung
menunggu tangan-tangan lembut
yang mungkin masih sudi brbagi
/3/
Malam turun perlahan
Lampu jalan bercahaya pucat
membuat bayangannya tampak lebih tua
daripada tubuhnya sendiri
Ia merapatkan baju lusuhnya
tangannya mendekap dada
menghalau dingin udara malam
Di kalengnya terkumpul kepingan logam
untuk ditukar bekal makan malam
andai esok ada wajah yang berbagi
menyapanya dengan belas kasih
Medan, 30 September 2025
Penggali Kubur
di tanah kuburan
aku mengayun cangkul
mengubur tubuh kaku
di tanah kubur
aku bagai jarum jam
berdetak pelan
di dada bumi
di tanah kubur
aku mengucap doa
lalu tenggelam bersama hening
dan tubuh beku
yang menyatu dengan tanah
Sidikalang, 1 Oktober 2025
Hampa Di Ujung Malam
/1/
duduk di kursi taman
matanya kosong
menatap dedaun jatuh
/2/
nama itu
masih bergema
tapi hanya di kepalanya
tak lagi di bibirnya
/3/
lampu taman meredup
cahayanya terurai di tanah basah
ia mencari wajah kekasihnya
namun hanya bayang yang tersisa
/4/
malam menutup wajahnya
waktu mengiris pelan
ia terjebak di ruang kosong
antara ingin pergi
atau harus kembali
/5/
ia pemuda
dengan hati yang patah
ia pemuda
menyimpan rindu tak berbalas
di telapak tangan yang gemetar
Tamrek Sidikalang, 1 Oktober 2025
Penantian
air matanya jatuh
membasahi serat kain
nama anak
terselip dalam doa
pintu diketuk
tak ada siapa-siapa
hanya bayangan
duduk di sudut
ia menunduk
tangan gemetar
menyulam rindu
malam panjang
tak kunjung selesai
kadang ia mendengar
langkah pulang di teras
kadang ia melihat
senyum kecil di balik tirai
namun pagi tiba
dan rumah tetap sepi
kecuali doa
yang belum selesai ia ucapkan
Pusda Sidikalang, 10 Agustus 2025
BIODATA
Jan Eduart Sipayung. Lahir di Simalungun, 20 Maret 1987. Berkerja sebagai seorang guru SD di Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. Aktif menulis dan menjabat sebagai Editor Sastra Daerah Simalungun di Majalah Sastra Mikro Indonesia. Beberapa cerpen dan puisinya dimuat di Harian Sinar Indonesia Baru dan Majalah Elipsis. Dalam rangka Hari Puisi Nasional 2025, karyanya yang berjudul “Catatan senja“ dimuat dalam buku Antologi Si Binatang Jalang.













