Data Buku
Judul: Sekolah Tikus
Penulis : Tan Lioe Ie
Penerbit : Ladang Publishing, Yogyakarta
Edisi : Cetakan Pertama, Agustus 2025
Tebal : 156 halaman
Tan Lioe Ie dalam kata pengantarnya menegaskan bahwa menulis puisi adalah sebuah permainan sungguh. Ia mengibaratkannya seperti permainan basket atau sepak bola, permainan yang menuntut strategi, konsentrasi, dan keseriusan. “Permainan sungguh” ini bukan berarti puisi hanyalah hiburan atau main-main yang dangkal, melainkan ruang untuk mengolah pengalaman, peristiwa, dan kenyataan, lalu memberinya roh lain. Baginya, puisi tidak pernah sekadar merekam, tetapi meminjam peristiwa untuk dihidupkan kembali dalam tubuh bahasa.
Di dalam Sekolah Tikus, gagasan tersebut tampil nyata. Tan Lioe Ie mengingatkan bahwa puisi-puisi dalam buku ini selalu memiliki tema tak tunggal, selalu ada lompatan diskursif yang membuat teksnya bergerak dari satu dunia ke dunia lain. Ia juga mengajak pembaca untuk ikut “bermain”, sebab tanpa partisipasi pembaca puisi akan berhenti sebagai teks yang mati. Justru dalam jeda, patahan, dan ruang kosong di puisinya, pembaca dilibatkan untuk mengisi, menafsir, dan menyambungkan fragmen-fragmen yang dibiarkan terbuka.
Ada tiga strategi yang tampak dominan dalam permainan puitik Tan Lioe Ie. Pertama, penggunaan tipografi dengan enjambemen ekstrem. Baris-baris puisinya sering hanya terdiri dari satu atau dua kata, membuat setiap kata menjadi unit ritmis yang berdiri sendiri. Hasilnya adalah ritme patah-patah, seperti musik stakato, yang memaksa pembaca memperhatikan bunyi sekaligus makna. Dalam puisi “Bunyi”, misalnya, rangkaian suara: tangis bayi, jet tempur, sirene, lonceng gereja, tidak berhenti sebagai katalog, tetapi menjadi semacam orkestra sosial yang menghadirkan ketegangan antara kehidupan dan kematian, antara keseharian dan ancaman peperangan.
Kedua, repetisi yang ia gunakan bukan pengulangan kosong, melainkan perangkat musikal dan sugestif. Ia berfungsi mirip mantra yang mengikat pembaca dalam alur intensitas. Dalam “Ketika Puisi Tak Lahir”, kata “puisi” diulang berkali-kali dengan peran yang berbeda: lahir, tak lahir, hanyut, mengembara, mencatat luka. Repetisi ini menghadirkan kesan bahwa puisi adalah organisme hidup yang terus-menerus datang dan pergi, rapuh sekaligus abadi. Secara musikal ia menciptakan irama, sementara secara ideologis repetisi menegaskan realitas yang terus berulang: lapar, kemiskinan, korupsi, bukanlah kebetulan, melainkan struktur yang mesti disadari dan dibongkar.
Ketiga, lompatan diskursif. Puisi Tan Lioe Ie bergerak asosiatif, melompat dari satu wacana ke wacana lain tanpa harus menjelaskan penghubungnya. “Lidah” misalnya bergerak dari makanan ke politik, dari birahi ke fitnah, sementara “Kerangka Ikan” melompat dari tubuh ikan ke otak, ke samudera, kapal, lalu kembali pada tubuh si lapar. Lompatan ini bukan incoherensi, melainkan strategi untuk membuka ruang tafsir. Ia menolak keutuhan linear yang kaku, lalu menawarkan struktur cair yang justru memperluas kemungkinan makna.
Jika dibaca dengan kacamata teori sastra modern, apa yang dilakukan Tan Lioe Ie sejalan dengan intertekstualitas sebagaimana dibicarakan Roland Barthes maupun Julia Kristeva. Setiap teks selalu hadir sebagai mosaik kutipan, dialog dengan teks lain. Puisinya menyerap unsur seni rupa dalam bentuk ekphrasis, musik dalam bentuk repetisi dan stakato, juga ritual-ritual Tionghoa dan fragmen politik modern. Semua ini membuat puisinya tidak berdiri sebagai monolit, melainkan sebagai teks yang selalu terbuka pada pertemuan lintas tradisi. Dari perspektif dekonstruksi Derrida, penggunaan enjambemen ekstrem dan minim konjungsi memecah linearitas bahasa. Makna tidak hadir tunggal, melainkan cair, berlapis, dan penuh jeda. Sementara itu, dalam kacamata teori resepsi pembaca Wolfgang Iser, jeda dan fragmentasi tersebut justru mengundang pembaca untuk berpartisipasi aktif, mengisi ruang kosong, dan meneguhkan makna yang tidak pernah selesai.
Namun Sekolah Tikus tidak hanya penting sebagai eksperimen estetik. Di dalamnya terdapat kesadaran politik yang tajam. Banyak puisi menyingkap realitas sosial Indonesia dengan cara yang kritis. “Sekolah Tikus”, yang sekaligus menjadi judul buku, menghadirkan korupsi sebagai praktik yang sistematis, diwariskan turun-temurun, bahkan seolah diajarkan dalam sebuah institusi simbolis. “Kerangka Ikan” memperlihatkan tubuh si lapar yang hanya mendapat sisa-sisa, seakan lapar adalah takdir, padahal ia adalah akibat dari ketidakadilan struktural. “Citra Diciptakan” membongkar bagaimana politik modern bergantung pada pencitraan, media, dan kebohongan publik, sebuah gema yang mengingatkan pada kritik Guy Debord tentang masyarakat tontonan. Dengan kata lain, puisi-puisi dalam Sekolah Tikus adalah kesaksian, sekaligus bentuk perlawanan.
Apa yang dikerjakan Tan Lioe Ie selaras dengan kritik ideologi sebagaimana diajukan Terry Eagleton: sastra sering kali berfungsi membongkar ideologi yang tersembunyi di balik keseharian. Puisi-puisi dalam buku ini menyingkap luka sosial yang acap kali ditutup-tutupi, mengingatkan pembaca bahwa lapar, miskin, atau korup bukanlah nasib yang jatuh dari langit, melainkan buah dari sistem yang timpang.
Pada akhirnya, Sekolah Tikus adalah bukti bahwa puisi bisa menjadi ruang bermain yang sungguh serius. Bermain dalam arti estetik, karena Tan Lioe Ie bereksperimen dengan tipografi, repetisi, dan lompatan imaji. Serius dalam arti politis, karena ia menyuarakan penderitaan, kritik, dan perlawanan. Ia tidak terjebak dalam lirisisme personal yang steril, tetapi juga tidak larut dalam erudisi intelektual yang dingin. Ia menjembatani keduanya dalam bentuk puisi yang musikal, fragmentaris, partisipatif, dan penuh energi sosial.
Dengan cara ini, Tan Lioe Ie menghidupkan kembali kemungkinan puisi sebagai orkestra sosial, sebuah musik patah-patah yang tidak hanya mengajak kita merenung, tetapi juga mengingatkan pada realitas yang sering disembunyikan. Sekolah Tikus menegaskan bahwa puisi masih relevan sebagai ruang bahasa untuk melawan kebekuan, untuk menyingkap luka, dan untuk menyalakan kesadaran.
Kampung Sawah Baru, 2025
BIODATA
Dedy Tri Riyadi, penyair kelahiran Tegal, mukim di Jakarta. Buku puisinya “Liburan Penyair”dan “Berlatih Solmisasi” sempat masuk long-list Kusala. Menulis buku “Penyair tentang Puisinya” (Basabasi, 2025), yang meringkas sejarah puisi di dunia dan mengenalkan pembaca pada pandangan para penyair tentang puisi mereka.








