LANGIT SORE menggantung jingga sedikit kusam di atas bukit sampah di selatan kota. Asap tipis mengepul dari beberapa titik, bercampur dengan bau busuk yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan warga di sana. Truk-truk sampah masih keluar masuk melewati jalan berlumpur, sementara burung-burung camar berputar rendah di udara seperti sudah hafal tempat mencari makan.
Rakha duduk di depan rumah kecilnya sambil memilah kabel bekas dan botol plastik. Tangannya hitam oleh debu dan oli. Di sampingnya, sebuah radio tua tergeletak dengan antena bengkok dan cat yang hampir mengelupas. Rumah itu sempit dan rapuh. Dindingnya terbuat dari papan bekas yang ditambal di sana-sini. Atap sengnya bocor jika hujan turun deras.
Namun bagi Rakha, rumah itu lebih berharga dari apa pun. Di sanalah ia tumbuh. Di sanalah ayahnya hidup. Dan di sanalah semua kenangan mereka hidup.
“Rakha, bantu ibu angkat ini.” Lestari muncul dari belakang rumah sambil menyeret karung berisi botol plastik. Napasnya terdengar berat. Batuk kecil sesekali keluar dari mulutnya. Rakha segera berdiri membantu.
“Ibu jangan terlalu dipaksa,” Kata Rakha dengan nada khawatir.
Lestari hanya tersenyum tipis. “Kalau ibu berhenti kerja, kita makan apa?”
Rakha diam sesaat. Kalimat itu terlalu sering mereka ulang sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu. Di sudut rumah, Nala sedang bermain dengan roda sepeda rusak yang ia temukan di dekat rumahnya. Anak kecil itu tertawa sendiri sambil mendorong roda menggunakan sebatang kayu.
“Kak, lihat! Aku balapan.”
Rakha tersenyum kecil melihat adiknya.
Nala memang selalu bisa menemukan kebahagiaan di tempat yang bagi orang lain terlihat menyedihkan, padahal hampir setiap malam anak itu batuk karena udara kotor. Bahkan tak jarang Nala sampai sulit tidur, namun Nala jarang mengeluh.
Malam datang bersama suara ombak samar dari arah pantai. Lampu kota wisata terlihat berkilau dari kejauhan seperti dunia lain yang tak pernah benar-benar menyentuh hidup mereka. Rakha duduk di depan rumah sambil memperbaiki radio tua. Tangannya berhenti sejenak ketika mengingat ayahnya.
Dulu Darma sering duduk di tempat yang sama. Lelaki itu selalu membawa pulang barang rusak dari gunungan sampah lalu memperbaikinya sampai hidup dan bisa digunakan kembali.
Rakha kecil pernah heran melihat ayahnya begitu telaten memperbaiki barang bekas yang dibuang orang.
“Ayah kenapa repot-repot benerin barang beginian?” Darma tertawa kecil sambil memutar obeng.
“Sampah itu cuma barang yang belum menemukan gunanya,” Kata Darma sambil sibuk memperbaiki radio tua.
Rakha waktu itu tidak benar-benar mengerti. Baginya sampah tetaplah sampah, namun Darma selalu punya cara melihat harapan di benda-benda rusak. Kadang radio bekas bisa dijual lagi, kadang kipas rusak bisa dipakai tetangga, bahkan mainan patah yang sudah diperbaiki bisa membuat anak kecil kembali tersenyum.
Kini, di rumah sederhana yang jauh dari kata mewah, Rakha masih sering melamun, banyak pertanyaan dalam benaknya, “Kenapa harus begini?”
Rakha menunduk pelan, kadang ia masih marah karena tempat yang ia huni telah mengambil ayahnya terlalu cepat. Dulu dokter bilang paru-paru Darma rusak akibat terlalu lama menghirup asap dan gas dari sampah. Darma meninggal dunia meninggalkan Rakha, Lestari, dan Nala yang masih balita. Semenjak itu, Rakha sering duduk bengong di depan gubuk kecil mereka, memandangi langit sore yang mulai gelap. Pikirannya menerawang mengingat suara ayahnya yang dulu selalu menguatkannya setiap pulang memulung. Namun bagi Rakha, hidup harus tetap berjalan. Ia berhenti sekolah dan menggantikan pekerjaan ayahnya sebagai pemulung.
Beberapa hari kemudian suasana kawasan sekitar berubah tegang. Mobil pemerintah masuk melalui jalan sempit di antara rumah warga. Orang-orang langsung berkumpul dengan wajah penuh curiga. Seorang pria berkemeja cokelat turun dari mobil paling depan.
“Itu Pak Surya,” bisik salah satu warga.
“Katanya kawasan ini mau ditutup.” warga lain mengimbangi.
Rakha langsung berdiri. Pak Surya membuka map tebal di tangannya lalu mulai berbicara tentang relokasi dan penutupan kawasan pembuangan.
“Kawasan ini sudah terlalu berbahaya untuk ditinggali.”
Keributan langsung pecah.
“Terus kami kerja apa?”
“Kami hidup dari sini!”
“Rumah kami di sini!”
Rakha maju paling depan. “Bapak gampang ngomong pindah. Tapi hidup kami di tempat ini.”
Pak Surya menatap Rakha cukup lama. “Saya mengerti.”
“Enggak. Bapak enggak ngerti apa-apa.”
“Kalian berhak hidup lebih layak.”
“Kami enggak butuh dikasihani.” Suasana mulai memanas.
Beberapa warga ikut berteriak. Namun Pak Surya tetap tenang.
“Saya dulu tinggal tidak jauh dari sini,” katanya pelan. “Saya tahu seperti apa baunya saat hujan.”
Rakha mengepalkan tangan.
“Tapi tempat ini ga bisa terus dipakai selamanya.” Pak Surya berusaha membujuk warga.
Bagi Rakha semua alasan itu tetap terdengar sama. Mereka ingin mengambil rumahnya, menghapus semua kenangan tentang ayahnya.
Hari-hari berikutnya semakin sulit. Truk sampah mulai dibatasi masuk. Banyak pemulung kehilangan penghasilan. Warga mulai sibuk membicarakan relokasi dengan wajah cemas. Rakha semakin mudah marah. Suatu sore ia pulang dengan emosi setelah bertengkar dengan petugas keamanan baru.
“Mereka mulai nutup akses!”
Lestari yang sedang memilah plastik menoleh pelan. “Mungkin memang sudah waktunya pindah.”
Rakha langsung berdiri. “Ibu juga mau ninggalin rumah ini?”
Lestari diam beberapa detik. “Ibu capek, Rakha.”
“Ini rumah ayah!” tegas Rakha
“Kalau kita pergi, semua kenangan ayah hilang.”
Lestari menatap anaknya dengan mata lelah. “Kenangan ayah tidak tinggal di rumah ini saja.”
Rakha tidak menjawab. Ia keluar rumah dengan napas berat. Di belakang rumah, gunungan sampah tampak lebih besar di bawah langit mendung.
Malam itu hujan turun deras, air hitam bercampur lumpur mulai mengalir di sela rumah-rumah warga. Bau busuk semakin menusuk. Di dalam rumah, Nala sedang tidur ketika tiba-tiba batuk keras. Awalnya Rakha mengira biasa, namun kali ini berbeda. Napas Nala terdengar berat. Tubuh kecilnya gemetar.
“Nala…” Lestari buru-buru menghampiri putrinya.
Batuk anak itu semakin parah sampai wajahnya pucat.
Rakha mulai panik.
“Napasnya sesak…”
Nala mencoba bicara tetapi suaranya terputus-putus.
“Kak…”
Belum selesai berbicara, tubuh kecil itu tiba-tiba limbung lalu jatuh ke lantai.
“Nala!” Rakha langsung memeluk adiknya.
Tubuh anak itu terasa dingin.
Lestari menangis panik. “Cepat bawa ke pos kesehatan!”
Hujan masih deras ketika Rakha menggendong Nala melewati jalan berlumpur. Air hitam mengalir sampai mata kaki. Lampu-lampu rumah terlihat samar tertutup hujan.
“Nala… jangan tidur…” Rakha terus berlari sambil menggendong adiknya.
Nala tidak menjawab. Dadanya terasa naik turun dengan susah payah. Pos kesehatan kecil dekat jalan utama sudah penuh warga yang sakit. Bau obat bercampur lumpur memenuhi ruangan sempit itu.
Petugas segera memeriksa Nala. “Dia terlalu sering menghirup udara kotor.”
Kalimat itu membuat Rakha diam. Seorang petugas memasangkan alat bantu napas kecil untuk Nala. Rakha berdiri di samping ranjang sambil menggenggam tangan adiknya erat. Untuk pertama kalinya ia benar-benar takut kehilangan seseorang lagi.
Di sudut ruangan, Lestari duduk lemas di kursi. Wajahnya pucat.
“Ibu tidak apa-apa?” tanya Rakha yang masih panik
Lestari mencoba mengangguk. Namun beberapa detik kemudian tubuhnya tiba-tiba oleng.
“Ibu!”
Bruk.
Tubuh perempuan itu jatuh pingsan. Rakha membeku. Dalam satu malam, ibu dan adiknya terbaring lemah di tempat yang sama. Suara di sekelilingnya terasa jauh. Ia keluar dari ruangan dengan langkah goyah, di luar hujan masih turun deras. Dari kejauhan bukit sampah terlihat samar di bawah kilatan petir, saat itulah kenangan tentang ayahnya datang begitu kuat. Saat Rakha kecil sakit demam tinggi, Darma pernah menggendongnya melewati jalan becek di kawasan pembuangan. Rakha masih mengingat suara ayahnya malam itu.
“Ayah…Kenapa kita tinggal di tempat begini?”
Darma diam cukup lama. Karena gelap, Rakha kecil tidak bisa melihat jelas wajah ayahnya.
“Hidup kadang membawa kita ke tempat yang tidak kita pilih.”
“Kalau aku besar nanti kita pindah?”
Darma tersenyum kecil. “Kalau nanti ada kesempatan hidup lebih baik, jangan takut pergi.”
Ingatan itu menghantam Rakha begitu keras. Selama ini ia terlalu sibuk mempertahankan rumah sampai lupa bahwa ayahnya sendiri tidak pernah ingin mereka selamanya hidup di sana. Darma bertahan karena keadaan, bukan karena tempat itu layak dipertahankan. Rakha menutup wajahnya dengan kedua tangan, air matanya masih berjatuhan bercampur hujan yang turun semakin deras. Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, ia menangis sejadi-jadinya. Beberapa hari kemudian hujan besar kembali turun, sebagian lereng gunungan sampah longsor. Lumpur hitam masuk ke beberapa rumah warga. Orang-orang berlarian menyelamatkan barang seadanya. Pak Surya datang bersama petugas membantu evakuasi, Rakha melihat lelaki itu mengangkat seorang nenek tua keluar dari genangan lumpur. Kemeja cokelatnya penuh kotoran. Saat melewati Rakha, Pak Surya berkata pelan, “Tempat ini perlahan membunuh kalian.” Rakha tidak membantah lagi. Karena kini ia mulai sadar itu benar. Minggu-minggu berikutnya kawasan pembuangan mulai ditutup bertahap. Sebagian warga pindah dengan hati berat. Rakha akhirnya membantu ibunya berkemas.
Hari terakhir sebelum meninggalkan rumah, ia berdiri lama di depan pintu kayu yang lapuk. Dinding rumah itu masih dipenuhi bekas tambalan ayahnya. Radio tua peninggalan Darma masih tersimpan di sudut ruangan, Rakha mengambil radio itu perlahan. Debunya tebal, namun benda itu masih menyimpan suara ayahnya dalam ingatan.
“Ibu siap?” tanyanya pelan.
Lestari mengangguk meski matanya berkaca-kaca. Nala berdiri di samping mereka sambil memegang boneka lusuh hasil temuannya bertahun-tahun lalu.
“Kita bakal punya rumah baru ya, Kak?”
Rakha memandang adiknya cukup lama. Lalu tersenyum kecil, “Iya.”
Untuk pertama kalinya jawaban itu tidak terasa menyakitkan. Rakha sempat berhenti melangkah ketika melewati jalan kecil menuju keluar kawasan. Matanya memandang tumpukan seng bekas, gerobak tua, dan beberapa rumah kosong yang mulai ditinggalkan pemiliknya. Tempat itu terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada suara anak-anak bermain. Tidak ada ibu-ibu yang memilah plastik sambil bercanda. Semuanya tampak sunyi seperti perlahan ikut mati bersama bukit sampah itu. Tiba-tiba Rakha teringat satu sore bertahun-tahun lalu ketika ia membantu ayahnya memperbaiki radio tua di depan rumah.
“Ayah capek enggak hidup begini terus?” tanya Rakha kecil waktu itu.
Darma tertawa pelan sambil mengusap kepala anaknya. “Capek. Tapi selama masih bisa lihat kalian makan dan tidur tenang, ayah kuat.”
“Kalau nanti aku udah besar, aku bakal bikin ibu sama ayah tinggal di rumah bagus.”
Darma tersenyum bangga. “Nah, itu baru anak ayah.”
Ingatan itu membuat dada Rakha terasa sesak sekaligus hangat. Ia sadar, selama ini ia terlalu takut kehilangan tempat sampai lupa pada mimpi ayahnya sendiri. Darma tidak pernah berharap anak-anaknya tetap hidup di tengah sampah. Lelaki itu hanya ingin keluarganya bertahan sampai menemukan kehidupan yang lebih baik. Rakha menggenggam radio tua di tangannya lebih erat sebelum akhirnya berjalan menyusul ibu dan adiknya menuju jalan utama, meninggalkan senja terakhir di bukit selatan.
Mereka berjalan meninggalkan kawasan itu bersama warga lain. Langit sore tampak merah keemasan. Bukit sampah berdiri diam di belakang mereka seperti raksasa tua yang perlahan kehilangan napasnya. Rakha menoleh sekali lagi, kenangan tentang ayahnya tetap tinggal di sana. Namun kini ia mengerti, rumah bukan hanya tempat menyimpan masa lalu. Rumah adalah tempat di mana orang-orang yang kita sayangi masih bisa hidup dan berharap untuk hari esok yang lebih baik.
Beberapa bulan setelah pindah, kehidupan mereka memang belum sepenuhnya mudah. Rumah kontrakan kecil di pinggir kota itu jauh lebih sempit dibanding bayangan Nala tentang “rumah baru”. Dindingnya masih lembab dan perabot mereka hanya sedikit. Namun setidaknya tidak ada lagi bau menyengat dari gunungan sampah setiap pagi. Udara terasa lebih ringan untuk dihirup. Rakha mulai bekerja di bengkel kecil milik seorang kenalan Pak Surya. Awalnya ia hanya membantu membersihkan dan memilah barang bekas mesin. Namun lama-kelamaan, kemampuan memperbaiki barang yang dulu diajarkan ayahnya mulai berguna. Ia belajar membetulkan kipas rusak, radio tua, bahkan televisi bekas pelanggan. Suatu sore, Rakha berhasil menyalakan kembali radio peninggalan ayahnya. Suara berisik memenuhi ruangan kecil mereka sebelum akhirnya terdengar lagu lama mengalun pelan. Nala langsung tersenyum senang.
“Hidup lagi, Kak,” katanya kagum.
Rakha memandang radio itu cukup lama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ayahnya tidak benar-benar pergi. Ada bagian dari Darma yang masih hidup dalam tangannya, dalam caranya memperbaiki barang rusak, dan dalam keberanian untuk memulai hidup baru.
Di luar rumah, langit senja perlahan berubah keemasan. Rakha tersenyum kecil sambil menatap cahaya matahari terakhir yang jatuh di ujung jalan. Kini ia percaya, harapan bisa tumbuh bahkan dari tempat yang paling kotor sekalipun.
BIODATA
Ni Putu Santi Rahayu adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Ia memiliki ketertarikan pada dunia kepenulisan, khususnya cerpen yang mengangkat kehidupan sosial dan kemanusiaan.










