KEPADA HUJAN YANG BERCERITA
Selama hujan belum mereda
Itulah tanda kau masih menjadi yang terpuja
Karena pada hujanlah aku bisa bercerita tanpa ada prasangka
Hujan pernah membasahi tubuh kita
Gigilkan raga
Tapi karena hujan pula aku bisa memelukmu dengan leluasa
Mengubah dingin menjadi sepanas bara
Lelehkan kebekuan hati
Hidupkan kembali kisah lama
Pada musim yang telah menapak setengah purnama
Hujan menunjukkan
Betapa semesta tersenyum melihat kita
Lantunkan kidung asmaradhana
Bersenandung diantara derainya
jangan lari
hujan tak akan menyakiti
jangan malu
hujan tak pernah meragu
masih panjang alur cerita
batu sandungan bukanlah petaka
Genggam erat tangan
Lalui kisah bersama
Tak usah menunggu hujan mereda
Biarkan tetesnya merangkai aksara
PANTAI JODO, 01 Januari 2025
MELEPAS KEINGINAN TERPENDAM
Mencumbu malam
Melepas dahaga panjang
Tumpahkan segala rasa
Tanpa kendala
Wujudkan keinginan yang sekian lama dipendam
Tak terhitung pendakian tertuntaskan
Tapi selalu ingin mengulang
Seibarat kemarau panjang mendamba hujan
terengah
tersengal
ubah malam dingin menjadi bara
memacu langkah
melayang di awang-awang
Mencumbu malam
Lepas keinginan
Memejam mata
Lupa pada yang terluka
Orgasme mengalahkan semua
GRINGSING, 25 Januari 2025
PADA HUJAN DI KOTAMU
Ada hujan mengguyur jalan
Sama seperti saat dulu kita terbasahkan
Menyusuri trotoar pecinan
Tertawa di bawah payung hitam
Bedanya
Hujan yang sekarang aku sendirian
Gigil tanpa pelukan
Hujan di kotamu membawa kenangan
Hujan yang lembut
Meski membuat rambutmu menjadi tak indah
Di kotamu
Kebahagiaan mengiringi setiap hari
Tanpa luka
Tanpa kecewa
Hanya tawa semata
Karena kamu tahu apa yang kita mau
Memanjakan dengan kata
Tenangkan hati
Songsong senja di sela pucuk cemara
Pada hujan yang sesekali datang
Bolehkah aku menuliskan puisi tentang keinginan yang tak pernah padam?
GRINGSING, 19 Maret 2025
MEMIKAT SENYUMMU
Senyummu semanis gula batu
Memaniskan seteguk teh di poci lesehan pinggiran kota
Membuang ragu
Hadapi hari tanpa cemburu
Senyummu
Seibarat seduhan teh panas di pintu pagi
Sibakkan kabut
Mengganti gigil dengan pelukan
Rangkai aksara
Mencari diksi yang berlarian meminta pelampiasan
Ketuk dinding kamar
tapi
terkadang aku lupa
saat kau minta tak diganggu
tak sadar tiba-tiba sudah menelanjangimu
Senyummu
Bukan sekedar rayu
Apalagi berwujud janji semu
Tapi lebih pada keabadian
Meski aku sering berpaling pada masa lalu
Terbuai tarian hujan di altar rerumputan
Senyummu
Ah,
Aku tak mampu lupakan itu
GRINGSING, 06 Juni 2025
HUJAN YANG MENETESKAN KENANGAN
Salahkah aku jika tetap memaki hujan karena terbakar api rindu?
Hujan tak sekedar tetes air dari awan
Tapi juga membawa cerita
Tentang rembulan
Tentang lautan
Tentang padang ilalang
Tentang pertemuan yang berakhir menyakitkan
Semua ingin menyatu
Menjadi puisi pada derat aksara dari masa lalu
Ingatkah dulu kita pernah menerobos hujan saat rembang petang?
Bergandeng tangan
Sesekali memeluk mencari kehangatan
Lalu tertawa bersama karena salah mengambil jalan
rambutmu basah
menetes bulir air
hembus angin birukan jemari
Hujan masih membawa cerita itu
Meski badai ingin menghapus
Selalu ada jalan untuk kembali mengingatmu
Hari ini
Aku masih menunggu
Berharap hujan meluruh
Berbagi penantian
Sekedar memadamkan rindu
GRINGSING, 05 September 2025
BIODATA
Edi S Febri lahir pada 6 Februari. Antologi puisi tunggalnya adalah Metamorfosis (2021). Ia tinggal di tanah kelahirannya di Batang, Jawa Tengah dan bekerja sebagai jurnalis.













