BULELENG, Balipolitika.com– Umat Hindu dan krama adat Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng kembali menggelar salah satu kegiatan sakral tahunan, yaitu tradisi Bukakak.
Tradisi monumental ini merupakan bentuk ekspresi rasa terima kasih dan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) atau Dewa Kesuburan atas limpahan hasil pertanian dan keberkahan tanah garapan di Desa Sudaji.
Berdasarkan penuturan tokoh adat setempat, Jro Made Darsana, keberadaan tradisi Bukakak memiliki akar sejarah spiritual yang sangat panjang.
Sejarah tradisi ini berkaitan dengan keberadaan Pura Bedugul sejak sekitar tahun 1719.
Kala itu, kawasan pertanian Desa Sudaji mengalami masa krisis dan tidak memberikan hasil panen alias gagal panen berkepanjangan.
Masyarakat setempat pun akhirnya melaksanakan ritual permohonan spiritual yang dikenal sebagai bentuk syukuran kepada dewa ini.
Mahasiswa KKN Universitas Udayana berkesempatan menghadiri dan mengikuti prosesi Bukakak Desa Sudaji secara langsung.
Kesempatan langka juga dilakukan dengan wawancara eksklusif bersama tokoh adat Desa Sudaji.
Jro Made Darsana mengisahkan bahwa tradisi ini dikenal dengan sebutan Pekakak, ketika pada tahun 1957 dan era sebelumnya, babi diikutsertakan secara langsung dalam rangkaian kegiatan ritual.
Kegiatan ini dikaitkan dengan hal spiritual di mana beberapa warga mengalami kerauhan (kerapuhan/trance) sebelum akhirnya persembahan dihaturkan menuju segara (laut).
Pelaksanaan tradisi Bukakak ini adalah rangkaian dari Karya Utama di Pura Desa.
Dalam prosesinya, tradisi ini menggunakan dua ekor babi berukuran besar yang sudah dipanggang dan dibelah.
Saat persiapan ritual, terlihat beberapa warga desa atau petugas yang ditunjuk bergerak membawa daun kelapa kering (don nyuh) yang sudah dibakar serta memikul makanan menuju ke arah pura subak.
Kedua babi panggang tersebut kemudian diarak mengelilingi perempatan jalan yang berlokasi tidak jauh dari Pura Desa.
Suasana ritual makin meriah dan terasa magis saat berlangsung atraksi langka yang jarang terlihat, yaitu pemuda desa melakukan pembakaran daun kelapa kering (don nyuh) yang kemudian dipukulkan ke arah babi panggang beberapa kali yang sedang diangkat dan diarak.
Atraksi tradisi ini berlangsung selama kurang lebih 30 menit dan terdapat pula pergeseran peran yang positif dalam pelaksanaan tradisi ini.
Jika pada masa lalu tugas pengangkatan dan pemikulan Bukakak dilakukan oleh krama Subak, kini berganti dan diteruskan oleh pemuda desa yang hadir atau disebut ngayah dengan penuh keikhlasan dan semangat tinggi demi melestarikan warisan tradisi leluhur.
Seluruh rangkaian ritual yang berlangsung khidmat ini akhirnya ditutup dengan suasana spiritual yang hening.
Kegiatan resmi berakhir setelah seluruh pemuda menerima tirta suci yang diberikan langsung oleh Jro Made Darsana.
Partisipasi mahasiswa KKN Universitas Udayana dalam Bukakak menjadi kesempatan langka dalam mengimplementasikan program kerja sosial budaya melalui video dokumenter Bukakak masyarakat Desa Sudaji.
Kegiatan sosial budaya dalam bentuk dokumentasi ini akan menjadi referensi video bagi desa guna memperkenalkan tradisi Bukakak kepada wisatawan domestik dan mancanegara yang hadir ke Desa Sudaji sebagai desa wisata. (bp/ken)













