ANGIN berdesir pelan di sela jendela kayu yang catnya mulai mengelupas. Di sudut ruangan yang remang, seorang lelaki duduk terpaku memandang langit-langit seperti tengah menghitung umur waktu. Sinar mentari menggurat tipis di lantai semen, memantul di atas punggung tangannya yang keriput dan bergetar pelan. Di luar, burung-burung pipit berceloteh, tapi tak satu pun kata dari mereka dimengertinya.
Parjo. Begitu orang-orang memanggilnya. Ketika semua suara di sekitarnya terdengar seperti gema dalam gua, nama pun hanya menjadi semacam gema itu sendiri, samar dan berulang. Sudah bertahun-tahun ia tinggal di rumah tua ini. Rumah peninggalan orang tuanya yang setengah lapuk, terkurung oleh tembok ia bangun sendiri. Bukan dari batu atau kayu, tapi dari penyesalan dan kata-kata yang tak pernah diucapkan. Cangkangnya tak terlihat, tapi ia tahu kalau ia ada di sana.
Ia menggedor-gedor dinding itu setiap pagi, dengan cara yang berbeda-beda. Kadang dengan menggerutu kepada Tuhan. Kadang dengan menyusun puisi-puisi di kepala yang tak pernah dituliskannya. Kadang hanya dengan menatap bayangannya di cermin tua yang menggantung miring di kamar. Ia juga pernah punya mimpi, tapi mimpi-mimpi itu seperti layang-layang yang benangnya terputus sebelum sempat terbang tinggi. Ibunya seorang perempuan tangguh yang membesarkannya dengan tangan keras dan kasar. Yang telah menentukan jalannya sejak ia belum pandai memilih baju sendiri untuk dikenakan.
“Ayahmu tidak pernah punya kemewahan untuk memilih. Kau pun tak usah belajar bermimpi terlalu banyak,” begitu ibunya berkata suatu kali, saat Parjo hendak membicarakan gadis yang dicintainya.
Gadis itu Minah. Dia adalah cahaya kecil yang sempat bersinar sebentar di hatinya. Suaranya seperti gerimis, matanya seperti halaman pertama sebuah buku yang membuatmu ingin terus membaca. Tapi Minah bukan pilihan ibunya. Dan karena itu dia bukan pilihan yang bisa diperjuangkan. Parjo sebagai anak lelaki semata wayang, tahu betul bahwa dalam keluarganya mencintai adalah hak yang hanya boleh dibicarakan dalam bisik, atau lebih baik tidak sama sekali. Begitulah akhirnya Parjo menikah dengan Sinem. Gadis pilihan ibunya yang lembut, patuh, dan ramah. Perempuan sempurna di mata mertua, tapi tak pernah benar-benar singgah di hatinya.
Hari-hari tanpa warna. Setelah pernikahan adalah suasana di mana seperti menonton film hitam putih yang suaranya rusak. Ia menjalani hidup sebagaimana hidup seharusnya dijalani. Bangun, bekerja, makan malam, tidur. Lalu berulang terus menerus sampai waktu tak lagi punya rasa.
Anak pertama mereka lahir, seorang lelaki kecil dengan tangan mungil yang menggemgam jari Parjo dengan erat. Tapi saat itu Parjo hanya bisa menatap anaknya dengan rasa kosong. Hingga Sinem suatu malam pernah bertanya, ketika hujan mengguyur atap seng dengan ritme seperti ratapan.
“Kenapa aku selalu merasa seperti orang asing di rumah ini, Mas?” tanyanya pelan. Suaranya hampir kalah oleh suara hujan. Parjo diam lama sebelum menjawab.
“Aku hanya ingin menuruti Ibu,” katanya. Singkat tanpa menatap mata istrinya. Setelah itu Sinem tidak pernah bertanya lagi. Mereka hidup seperti dua bayangan di dinding yang menempel tapi tak pernah menyatu. Dan cangkang itu adalah dinding tak kasat mata di sekeliling dirinya. Semakin mengeras, menguat, dan mengurungnya.
Lalu suatu hari, saat ia nyaris lupa seperti apa rasanya gairah, hasrat itu muncul kembali. Bukan dari istri yang saban hari merawatnya. Bukan dari anak-anak yang mulai dewasa dan menjauh. Tapi dari seseorang yang datang tiba-tiba, seperti angin yang membuka jendela lama tertutup. Wanita itu datang membawa sekeranjang buku. Ia mengetuk pintu rumah itu dengan senyum pelan dan suara ramah.
“Selamat siang, Pak. Saya dari program baca bersama. Kami keliling dari rumah ke rumah, membacakan cerita untuk anak-anak atau siapa saja yang ingin ditemani dan dongengkan,” katanya. Parjo nyaris tak memercayai matanya.
Mata, suara dan geraknya yang tenang. Semua itu seperti potongan-potongan dari masa lalu yang berserakan. Dan kini, entah mengapa datang menyatu kembali seperti puzzle yang baru saja tersusun utuh.
“Namamu siapa?” tanyanya nyaris gugup, seperti seorang pemuda yang baru pertama kali jatuh cinta.
“Minah,” jawab wanita itu. Degup jantung Parjo melonjak. Dunia di sekelilingnya seakan mengecil, mengecil dan mengecil, lalu meledak dalam keheningan panjang.
“Tak mungkin, ini benar-benar mustahil. Apakah ini Minah yang dulu?” batinnya. Minah sudah menikah dan pindah kota, lalu menghilang dari hidupnya puluhan tahun lalu. Lalu kenapa wanita ini seperti Minah?
Ia pun berpikir diam-diam mungkin inilah jalan keluar dari cangkangnya. Bukan dengan memecahkannya, tapi dengan keluar perlahan. Merayap, menjulurkan diri seperti siput yang kembali belajar percaya bahwa dunia di luar rumahnya mungkin tidak sekejam yang ia kira.
Minah, begitu ia memperkenalkan diri dan datang kembali seminggu kemudian. Membawa buku yang berbeda, tapi suara yang sama. Suara yang menggetarkan bagian dalam dari diri Parjo yang selama ini tertidur.
“Bagaimana kabar Bapak minggu ini?” tanyanya sambil mengeluarkan buku dari tas kanvas lusuh. Parjo tak langsung menjawab. Ia hanya menatap, lama. Seperti mencoba menyulam dua wajah menjadi satu dalam pikirannya. Minah dari masa lalu, dan Minah yang kini duduk di depannya, membuka halaman pertama sebuah cerita berjudul ‘Sebuah Rumah Tanpa Jendela’.
“Apa kamu pernah tinggal di Jalan Mangga tahun sembilan puluhan?” tanyanya pelan. Minah tersenyum samar.
“Jalan Mangga? Entahlah, sepertinya tidak. Tapi saya pernah punya teman di sana dulu. Mengapa, Pak?”
“Tidak apa-apa. Mungkin saya salah ingat,” jawab Parjo buru-buru. Tapi jantungnya berdetak lain. Ada sesuatu dalam tatapan wanita ini menyisakan celah bagi harapan yang ia kubur puluhan tahun lalu. Suara tawanya, cara ia membenarkan rambut yang jatuh ke dahi, senyum kecil yang muncul setiap kali ia sedang membaca sajak.
“Suaramu mirip seseorang,” kata Parjo tanpa sadar.
“Siapa?” terlihat raut penasaran di wajahnya.
“Yang tidak pernah benar-benar pergi dari hidup saya.” jawab lelaki itu kemudian.
Minah hanya tersenyum, lalu mulai membacakan cerita. Nadanya tenang. Setiap kata mengalun seperti mantera membasuh luka lelaki itu. Matanya terpejam, tapi pikirannya terjaga penuh. Ia mendengarkan, bukan hanya suara, tapi waktu yang pernah hilang.
Hari-hari setelah pertemuan itu, Parjo mulai berubah. Ia bangun lebih awal, menyisir rambutnya dengan teliti, bahkan mulai memeriksa jadwal kunjungan Minah lewat kalender yang dicoretnya dengan spidol merah. Sinem istrinya memperhatikan semua itu dengan diam.
“Mas… kamu berubah akhir-akhir ini,” ucap Sinem suatu malam sambil melipat pakaian.
“Berubah bagaimana?” tanya Parjo, berpura-pura tidak mengerti.
“Entahlah. Sepertinya kau sedang menunggu sesuatu, atau seseorang.”
Parjo tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke arah langit-langit seperti biasa. Tapi kini, diamnya mengandung gema. Ia merasa canggung berada di kamar yang sama dengan perempuan yang telah menemaninya lebih dari dua puluh tahun, tapi tak pernah benar-benar ia cintai.
“Apa kau menyesal menikah denganku?” tanya Sinem akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar.
Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih dingin dari malam itu sendiri. Parjo ingin menjawab jujur. Mengatakan bahwa hidup ini seperti lukisan yang diwarnai orang lain, dan ia hanya menonton sambil berharap warna merah itu akan berubah menjadi biru. Tapi ia tahu, beberapa kebenaran hanya akan menyakiti.
“Maaf,” hanya itu yang akhirnya keluar dari mulutnya.
Sinem tersenyum kecil, namun senyum itu lebih seperti garis luka di wajah terlalu sering menelan kecewa. “Maaf itu datangnya selalu terlambat ya, mas?”
Minah semakin sering datang. Ia tidak hanya membacakan cerita, tapi mulai mengajak Parjo berbicara. Tentang masa kecilnya, tempat-tempat yang pernah ia kunjungi, buku-buku yang paling ia sukai, dan lain sebagainya
“Aku dulu suka membaca puisi,” kata Parjo suatu sore. “Sajak-sajak Chairil, atau Sapardi. Tapi sekarang rasanya seperti membaca diriku sendiri yang tak selesai.”
“Kau masih bisa menulis,” ujar Minah sambil menyodorkan kertas kosong dan pulpen. “Tak ada kata terlambat.”
Parjo menatap kertas itu lama. Tangan kirinya masih lemah karena stroke ringan dua tahun lalu, tapi tangannya yang lain masih bisa menggenggam, seperti merasa kembali punya alasan untuk mengguratkan makna.
“Apa kamu percaya bahwa seseorang bisa hidup di dalam cangkang?” tanyanya pelan dan tiba-tiba.
Minah terdiam sebentar lalu menjawab, “Cangkang bukanlah penjara kalau kau tahu cara keluar darinya.”
“Dan bagaimana kalau cangkangnya adalah hidup itu sendiri?” lanjut Parjo.
Minah menatapnya dalam. “Maka barangkali kita semua hanya siput-siput yang takut kehilangan rumah.”
Suatu malam Parjo bangun dari tidurnya dengan jantung berdegup kencang. Ia bermimpi berada di sebuah taman kota, duduk di bangku yang dulu sering ia datangi bersama Minah. Tapi dalam mimpi itu, Minah menatap tanpa mengenalinya. “Aku bukan orang yang kau pikirkan,” katanya dalam mimpi itu.
Pagi harinya Parjo membuka album-album tua. Foto pernikahan, kelahiran anak-anak, potret dirinya yang makin hari makin asing di mata sendiri. Ia tak menemukan satu pun foto Minah, tapi ia ingat segalanya. Ia menulis sepucuk surat malam itu, surat yang ditujukan pada dirinya sendiri. Isinya hanya satu kalimat: “Andai saja aku berani memilih.”
Parjo mulai menulis lagi. Bukan puisi atau cerita pendek, hanya catatan acak di kertas bekas yang ia kumpulkan dari tiap sudut rumah. Kalimat-kalimat itu mengalir seperti air dari keran yang tak pernah dibuka puluhan tahun.
“Hidup bukan tempat untuk diam. Tapi kadang suara yang paling nyaring justru datang dari dalam keheningan.”
Ia menyimpan catatan itu di dalam kotak sepatu usang di antara surat-surat tua, kwitansi rumah sakit, dan satu kartu pos bergambar danau, yang dulu dikirim Minah dari Bandung. Itu satu-satunya peninggalan masa muda yang ia anggap sakral.
Sejak Minah wanita yang membawa buku itu mulai rutin datang, dunia Parjo seolah bergerak lagi. Ada hari-hari yang patut ditunggu. Ada alasan untuk bangun lebih awal. Ia bahkan mulai menyisir halaman rumah, menanam kembali bunga melati yang dulu layu. Sinem memperhatikan semua itu. Tapi ia sudah terlalu letih untuk bertanya. Terlalu lama hidup dalam diam telah menjadikan hatinya seperti batu karang, keras di luar tapi berlubang-lubang di dalam.
Suatu sore, Sinem berkata pelan, “Kau tampak lebih hidup sekarang, Mas.” Parjo hanya mengangguk tanpa menatap.
“Kau tahu,” lanjut wanita itu, “aku tak pernah minta dicintai seperti perempuan dalam novel. Tapi… kupikir setidaknya aku pantas jadi seseorang yang kaurindukan saat pulang.”
Kata-kata itu menghantam dada Parjo seperti palu. Tapi ia tak tahu harus berkata apa. Sinem sudah terlalu baik untuk dibenci, dan terlalu benar untuk ditinggalkan. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang tetap menolak. Sebuah ruang kosong yang tak bisa diisi oleh siapa pun kecuali satu nama: Minah.
Minah semakin sering hadir dalam pikirannya, bahkan ketika ia tak sedang membacakan cerita. Kadang Parjo mendengar suara Minah saat bangun tidur, kadang ia merasa Minah sedang duduk di kursi makan meminum teh yang disiapkan Sinem. Ia mulai menulis surat. Surat itu tidak pernah dikirim. Tapi ia menulisnya dengan sepenuh hati, seolah surat itu akan menjadi pintu keluar dari labirin batin yang selama ini mengurungnya.
“Minah, Jika waktu bisa diputar, aku akan memilihmu. Meski berarti harus melawan ibuku. Meski harus kehilangan rumah dan nama baik. Aku ingin hidup yang bukan sekadar layak, tapi bermakna. Dan makna itu adalah kamu. Tapi sekarang, aku hanya lelaki tua dalam cangkang yang pelan-pelan membatu.”
Ia melipat surat itu, menyimpannya dalam buku harian yang sudah menguning. Halaman pertama buku itu bertuliskan:
“Catatan Harian Parjo – Tahun 1996”
Tahun pernikahannya.
Suatu hari, Ia berniat pergi. Di hari minggu yang mendung, Parjo mengambil keputusan ingin bertemu Minah di luar rumah. Mengajaknya minum kopi di warung kecil dekat pasar, tempat dulu ia dan Minah pernah duduk memandangi hujan dari balik jendela plastik.
Ia mencukur kumisnya. Memilih kemeja lama yang masih muat. Mencoba memakai sepatu berdebu yang sebelumnya sudah dibersihkan. Sinem melihat itu dan bertanya, “Mau ke mana, Mas?”
“Hanya ingin jalan sebentar,” jawabnya.
“Aku ikut,” katanya.
“Tak perlu,” sahut Parjo, buru-buru. “Aku butuh udara sendiri.”
Ia berjalan dengan langkah pelan, tapi matanya menyala. Sesekali berhenti karena napasnya tersengal. Ada semacam semangat muda yang kembali mengalir di nadinya. Sesampainya di warung itu, ia duduk, menunggu.
Jam dinding berdetak. Satu jam. Dua jam. Minah tak muncul.
Ia bertanya pada pemilik warung, “Ibu lihat perempuan muda, bawa tas kanvas, sering bawa buku… namanya Minah?”
Perempuan pemilik warung mengernyit. “Tidak Pak. Saya jarang lihat orang muda di sini, apalagi yang bawa buku.”
Parjo terlihat kecewa dengan jawaban pemilik warung tersebut, hatinya mulai gulana. Setelah menunggu yang tak kunjung usai, ia memutuskan untuk pulang.
Ia pulang dengan tubuh lunglai, masuk ke kamar lalu membuka buku harian lamanya. Surat yang ditulis masih ada di sana. Tapi ketika ia membukan tulisan itu, tangannya terlihat bergetar kacau tak seperti biasanya. Ia membuka halaman-halaman sebelumnya, hampir semua kosong. Hanya coretan-coretan tak jelas, kalimat setengah jadi, bahkan ada satu halaman yang hanya bertuliskan satu kata: “Sinem.”
Parjo mengerutkan kening, ia merasa aneh. Seolah ada yang meleset dari ingatannya. Ia mulai ragu apakah benar Minah datang setiap minggu? Apakah benar ia bicara, membaca cerita, tertawa? Atau hanya suara di dalam kepalanya?
Suatu malam, Parjo mendengar percakapan dari ruang tamu. Suara Sinem dan seorang perempuan. Ia mencoba menguping dari balik pintu.
“Dia makin parah ya, Bu?” suara perempuan itu bertanya.
“Iya, Mbak. Kadang dia pikir sampean itu perempuan masa lalunya, Minah,” jawab Sinem lirih.
“Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu. Tapi tadi waktu saya antar buku dari komunitas literasi, dia seperti mengenali saya.”
“Tidak apa-apa Mbak. Terima kasih sudah sabar. Kadang kami hanya butuh orang lain untuk membuatnya merasa hidup.”
Parjo terduduk di balik pintu, tangannya gemetar. Dunia seperti berputar perlahan lalu berhenti.
Wanita itu… dia bukan Minah. Ia hanya relawan dari komunitas baca keliling, dan semua percakapan yang selama ini ia simpan mungkin hanya terjadi di kepalanya.
Malam itu, Parjo tidak bisa tidur. Ia memandangi langit-langit dengan mata terbuka lebar, napas pelan seperti seseorang yang baru saja tersesat di kota yang ia bangun sendiri. Kata-kata perempuan muda itu, relawan komunitas baca, bergaung di kepalanya. “Saya tidak bermaksud mengganggu, tapi tadi waktu saya antar buku…,”
Ia mencoba mengingat. Apakah benar mereka pernah duduk bersama di ruang tamu? Membaca buku, tertawa, bercengkrama. Ia ingat nada suara. Ingat gerak tangan yang membalik halaman. Tapi satu hal tak bisa ia pastikan: apakah itu benar terjadi, atau hanya semacam gema dari masa lalu? Minah cinta pertamanya sudah lama pergi. Ia bahkan tak pernah tahu pasti kabarnya. Sementara Sinem adalah satu-satunya wanita bertahan dalam diam. Menyulam luka dalam rumah yang tak pernah menjadi surga, tapi juga tak sanggup ia tinggalkan.
Parjo berjalan menuju cermin besar di ruang tengah. menatap dirinya sendiri. Tapi pantulan itu seperti orang asing. Mata sayu, kulit mengendur, bibir kering. Seorang lelaki tua dengan tatapan kosong. Di balik cermin itu, ia seolah melihat bayangan lain, seorang pria muda dengan jas abu-abu dan seikat bunga di tangan, menatap seorang perempuan di pelaminan dengan pandangan kosong.
Ia mundur. Dunia bergoyang. Lelaki itu menangis.
Besok paginya, Parjo berdiri di halaman, menatap pohon kamboja yang sudah tua. Angin pagi lembut, tapi hatinya panas. Ia merasa ingin lari, tapi tubuhnya sudah tidak bisa. Ia hanya bisa menggigil. Dada berat, napas pendek.
Sinem menghampirinya sambil membawa jaket. Parjo menatap istrinya, wajah yang tak pernah ia kagumi, tapi kini tampak lelah dan jujur. Perlahan ia bergumam,
“Aku lelaki dalam cangkang yang terlalu lama diam. Tapi kau adalah perempuan yang terus mengetuk dan berharap aku keluar. Maaf, karena aku tidak pernah membuka pintu itu. Jika boleh memilih ulang, aku tidak tahu apakah aku tetap akan mengecewakanmu. Tapi satu hal yang kusesali adalah tidak pernah belajar mencintai dirimu. Dan kini aku sadar, cangkang yang mengurungku ini, tak boleh terus memisahkan diriku dari kenyataan.”
Sejenak, ia membayangkan hidupnya seperti jendela yang perlahan terbuka. Udara segar masuk. Cahaya menyusup perlahan. Dan dalam cahaya itu, ia melihat Sinem muda, dengan baju sederhana, menunggu di teras. Tersenyum diam-diam… cantik sekali.
BIODATA
Khairani Piliang. Dia berprofesi sebagai tenaga Kesehatan. Mulai menulis sejak SMP dan menekuni literasi dari tahun 2014. Buku solo pertamanya bertajuk “Suatu Pagi di Dermaga” (2017). Karya-karyanya tergabung dalam banyak antologi bersama cerpen dan puisi, dan beberapa tulisannya dimuat di media online dan cetak. Aktif berkesenian dan meraih beberapa prestasi panggung dan literasi, serta juri pada beberapa event menulis. FB Khairani Piliang. IG @khairanipiliang76













