KATAKAN PADAKU, KATAKAN PADAKU
belum matang rindu di bibir, tumbuh lagi rindu lain
di belakang telingaku. sedikit-sedikit berbisik
seperti tangkai dandelion di pinggir trotoar
tempat pengamen duduk dan bermain rumput
menjadi senar-senar, lalu mendentingkan
nyanyian-nyanyian yang biasa dikecupkan
di kening masing-masing kita.
katakan padaku, rindu ini bukanlah sekadar
suaramu yang menjabat ilalang dan daun pisang
lalu bertingkah serupa petualang di rumpun
napasku yang berdebar begitu tinggi, seolah
hendak meraih kedip matamu yang berloncatan
seperti belalang di dapur ibu. atau seperti kupu-kupu
yang mencari pengantin di jendela kamar.
sekali lagi, katakan padaku, dan katakanlah padaku
apa yang sebaiknya kulakukan terhadap jembatan
kayu di pinggir senyummu, di mana pelangi belajar
melengkung, lalu belajar mewarnai pipi dan kuku
hingga dapat kulihat jelas jemarimu yang dapat
kujadikan ujung peta bagi rindu, pula pelukan
pun hangat akan menjalar ke sekujur usia
dan katakan padaku, kau merindukannya pula, bukan?
KATAKAN PADAKU, KATAKAN PADAKU : BOTOL MINUM
1.
baru saja kau membuka botol minuman di tanganmu
rindu keluar sebagai jin yang siap mengabulkan harapan
ia menawarimu tiga permintaan, dan kau hanya meminta
sebuah pertemuan untuk hadir tanpa diakhirkan.
2.
katakan padaku, apa kau tahu aku menyamar jadi ranting
yang selalu menjatuhkan salju di buku yang kau baca?
dan kau mendongak padaku dengan mata yang bingung
hingga debarku gemas dan kepedihan seketika ranggas
3.
telah kutemukan senyummu sebagai arah yang kutanam
di hamparan garis-garis peta yang menjauhkan kening kita
kemudian menunjukkan pedih masa lalu milikmu yang mana
harusnya dihapus dari deretan nama samudera di dada
4.
katakan padaku, apa yang sebaiknya kulakukan untuk
memunguti remah napas mungil-mungilmu di bibir malam?
lalu kurangkai dan kubangunkan sarang untuknya di telingaku
dan membiarkannya berdengung berkali-kali dalam tidur
berdengung berkali-kali
berkali-kali.
KATAKAN PADAKU, KATAKAN PADAKU : SAYAP
Sebentar, sebaiknya kau jangan tidur dulu. Bukankah di punggungmu ada sayap yang kulihat-lihat tak punya kegunaan lain selain terbang? Ukurannya terlalu lebar untuk tubuh mungilmu. Beratnya terlalu mengganggu gugup napasmu yang selalu mencemaskan angka di timbangan, mencemaskan bulat pipi di pantulan cermin. Bentuknya tak praktis dan tak pernah terlipat dengan sempurna. Kau sulit berbaring, aku sulit memelukmu.
Bagaimana jika kau cabut saja sayap itu, lalu kuajari cara terbang dengan kecupan-kecupan?
Kucoba mengamati garis-garis wajahmu kala terlelap. Aku membaca kenangan beberapa kali letih dan beristirahat di pinggiran bibirmu. Sesuatu yang kunamai khatulistiwa membaitkan bahwa rindu seringkali terbit, berkeliiling dan mencahayai banyak debar-debar di sana. Katakan padaku, di bibirmu sebelah mana aku dapat menemui tempat rindu itu terbenam, lalu menyaksikannya sebagai desir angin yang memberi wangi laut tempat harapanku siap berlayar dan menaklukkan banyak ombak?
Pada akhirnya, aku tak mampu mengejar rindu yang selalu berjalan sekian tak hingga lebih cepat dari kecepatanku merasakannya.
Sebentar, sebaiknya kau jangan tidur dulu. Bantal yang hendak kausandari itu tengah retak. Sekian patahan mulai terukir di sana. Dan aku tahu, bantal itu tak akan sanggup menahan beban-beban yang masih mengendap di kepalamu.
Jadi, bagaimana jika kupinjamkan pundakku sebentar?
KATAKAN PADAKU, KATAKAN PADAKU : DARI SINI
dari sini, kutatap lampu-lampu di bukit yang jauh
bau gerimis lindap di balkon tempat rindu duduk
memetik gitar dan memainkan lagu-lagu tentang kau
juga gesekan daun-daun palem membunyikan
suara-suara yang kudengarkan diam-diam
dari balik bibirmu
dari sini, lampu-lampu jalan direbuti serangga
yang terbang berlari-larian, serupa bocah dengan
riuh tawanya yang membuatku mengingat
renyah tawamu, remah hangat dari senyummu
katakan padaku, selain awan-awan yang membentuk
wajahmu, atau geletar lembut angin pegunungan
yang sesejuk kulitmu kala kusentuh pipimu dari
cubitan-cubitan, apalagi yang dapat kutemui
pada malam dengan rerinduan awan yang wangi?
sementara, dari sini, aku duduk dan masih saja
menata lampu-lampu dari percik lampu matamu
yang sebelumnya menyala-nyala dan berkedip
di gelap dadaku.
KATAKAN PADAKU, KATAKAN PADAKU : KUNING
sementara, pada beberapa penyebab rona hati
milikmulah yang paling mampu
memulangkan warna kuning pada pelangi
kau senang memakai warna itu
: sebagai kalung, anting-anting, gelang,
atau jepit rambut. atau tongkat sulap
yang bisa mengubahku jadi batu
dan membiarkan rindu-rindu ini
tak pernah kaudengarkan
warnamu itu bersinar, ketika dadaku
tiba-tiba mati lampu. seberkas lilin
mengatakan padaku segala pijar
berada di kukumu. seketika aku lupa
pada warna-warna yang menandai
malam dan bongkah cirinya
sebab begitu jendela mata kubuka
kau selalu terbit sebagai
sebibir pagi yang tak pernah berlalu
tanpa mengecup keningku lebih dulu
BIODATA
Andi Wirambara, lahir 24 September di Ambon dan berdomisili di Malang. Praktisi hukum yang menyenangi sastra. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi Harmonika Lelaki Sepi (2010), kumpulan cerpen Sekeping Tanda (2011), kumpulan puisi Lengkung (2012), dan kumpulan cerpen Tentang Pertemuan (2014).













