DENPASAR, Balipolitika.com– Antusiasme untuk musik klasik di Indonesia semakin meninggi. Baik siswa muda maupun dewasa yang memainkan alat musik atau menyanyi klasik sering merasakan kebahagiaan dari kemajuan teknis sekaligus kepuasan emosional yang mendalam saat berhasil menguasai karya yang tidak mudah.
Perasaan ini muncul karena orang tua sadar bahwa musik klasik sangat bermanfaat bagi anak. Musik ini dapat meningkatkan kreativitas, kecerdasan, daya ingat, fokus, penalaran, dan pemikiran kritis.
Selain itu, pendidikan bermain instrumen melalui “menerjemahkan” not balok juga membantu anak mengekspresikan emosi, mengurangi stres, serta meningkatkan empati.
Banyak orang menemukan bahwa mempelajari karya dari Mozart, Beethoven, Rachmaninov, hingga komposer modern negara lain seperti Jepang (Toru Takemitsu, Joe Hisaishi), Australia (Peter Sculthorpe, Betty Beath), dan Indonesia (Ananda Sukarlan) tidak hanya melatih otak, tapi juga membangun kepercayaan diri dan kesabaran melalui latihan yang disiplin.
Pada akhirnya, musik klasik menjadi kekuatan yang mengubah hidup: mendukung perkembangan pribadi, memperkuat hubungan sosial dalam kelompok seperti orkes atau grup musik kamar, serta memberikan kesejahteraan mental di tengah dunia yang serba cepat.
Hobi yang awalnya sekadar rasa ingin tahu pun berubah menjadi kegiatan menyenangkan yang memperkaya hidup.
Setelah memapankan Ananda Sukarlan Award yang didirikan tahun 2008 oleh Pia Alisjahbana (pendiri Femina Group), kini sang komponis yang ditulis oleh harian Sydney Morning Herald sebagai “one of the world’s leading pianists, at the forefront of championing new piano music” ini telah mendirikan dan mengembangkan Kompetisi Piano Nusantara sejak 2016, yang setelah vakum selama pandemi ditambahkan kata “Plus” untuk menandakan bahwa kompetisi ini adalah untuk semua instrumen dan vokal klasik.
Selain itu KPN+ juga berkontribusi mempopulerkan berbagai karya puisi, lewat kategori Tembang Puitik (solo vokal klasik) maupun Vocal Ensemble, melalui puisi-puisi yang digubah menjadi musik klasik oleh Ananda Sukarlan maupun komponis dunia lainnya seperti Franz Schubert, Benjamin Britten, dan lain-lain.
Tahun ini KPN+ akan diselenggarakan di 11 kota di 4 pulau, menjadikannya kompetisi musik klasik terbesar di Indonesia, dengan 587 peserta tahun 2025 lalu, dan diharapkan lebih tahun ini.
Pendidikan musik klasik, dan musikus andal yang berhasil berkarir di bidang ini masih terpusat di Pulau Jawa dan Sumatra.
Bali memiliki beberapa sekolah musik, tapi sampai sekarang belum terlalu menunjukkan taringnya di bidang ini.
Tahun ini situasi tersebut akan berubah. Kompetisi Piano Nusantara Plus tahun 2026 akan diselenggarakan juga di Pulau dewata.
Berlokasi di Grand Hall Sekolah HighScope, Jalan Tukad Buaji No. 2, Sesetan, Denpasar, kompetisi akan diadakan hari, Sabtu, 28 November 2026.
KPN+ di Bali ini diselenggarakan oleh Amadeus Enterprise yang juga penyelenggara KPN+ di Surabaya, 2 minggu sebelum Bali, yaitu 7 November 2026.
Walau demikian, kompetisi di Bali ini juga terbuka untuk semua peserta dari Pulau Jawa dan peserta seluruh Indonesia, terutama region yang belum diselenggarakan KPN+ tahun ini, terutama di Indonesia bagian Tengah dan Timur.
“Kami berharap dapat menemukan talenta musik klasik yang masih tersembunyi di Bali. Semoga bisa menembus babak final, bahkan mendapatkan Golden Ticket ke babak final Ananda Sukarlan Award tahun depan, yang hadiahnya adalah berbagai beasiswa ke Perancis dan Australia. Kedepannya, kami berharap berbagai provinsi lain di Indonesia dapat menjadi mitra penyelenggara kami, sehingga musik klasik tidak terlalu tersentralisasi di Jawa dan Sumatra,” ujar Ananda Sukarlan yang bulan ini juga berkeliling ke beberapa kota untuk berbagai acara pendidikan seperti masterclasses dan seminar.
Di Denpasar, Ananda Sukarlan sebagai juri akan didampingi oleh pianis muda kelahiran Surabaya, Nitya Primantari.
Lulusan Ecole Normale de Musique de Paris yang ternama, Nitya telah memenangkan berbagai kompetisi piano internasional di Prancis dan Italia, antara lain juara pertama di “Concours International de Piano d’Ile de France”, salah satu kompetisi piano paling berpamor di Prancis, yang membuka jalan baginya untuk bermain resital piano solo di Paris dan Toulouse.
Nitya Primantari telah tampil solo maupun konserto dengan orkestra di berbagai tempat di seluruh dunia, termasuk “Salle Cortot” yang legendaris di Paris, “Esplanade” di Singapura, dan “Federation Square” di Melbourne, dan masih banyak lagi.
Nitya mendirikan Nitya Piano Studio di Surabaya pada tahun 2016. Banyak muridnya telah meraih penempatan di kompetisi nasional dan internasional, serta beasiswa untuk melanjutkan studi musik mereka di luar negeri.
Selain mengajar, Nitya juga telah diundang sebagai juri di kompetisi paling bergengsi di Indonesia, Ananda Sukarlan Award.
Bersama para pemenang dari kota-kota lainnya, para pemenang KPN+ di Bali berhak bertanding di babak Grand Final di Jakarta, 12 dan 13 Desember 2026 nanti.
Selain dianugerahi penghargaan tertinggi untuk warga sipil dari Kerajaan Spanyol “Real Orden de Isabel la Católica” dari Raja Felipe VI, Ananda Sukarlan juga telah dianugerahi gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020.
Ia juga seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000.
Ananda juga masuk sebagai salah satu dari 100 “Asia’s Most Influential” atau “Orang Asia Paling Berpengaruh” di dunia seni tahun 2020 oleh Majalah Tatler Asia yang terbit di Hong Kong. (bp/ken)










