Jubah Badra
—Fragmen serial Si Buta dari Gua Hantu
Jangan kau sebut aku kalah pada pertarungan ini.
Pada pergulatan sepi ini. Sebab kau bakal menelusuri
segala penjuru pertarungan dengan kaki telanjangmu.
Dengan rendah hati, terima kulit tebalku, kunyah
daging kolotku, sebagai bekal yang bakal menahan
badanmu dari serangan semua seteru yang tak tertera
arah gelapmu. Dan pasti kau berkerabat dengan wangi
kelindan: mana yang berupa sabetan atau segala rupa
tendangan yang menyapa di kiri kanan. Tapi, izinkan
aku papar tantanganku pada ragamu, gerak rahasiamu
yang memulangkan semua pada sunyi. Agar kutahu
bahwa tak salah bila ragaku pasrah dituntun langgam
bayang tongkatmu. Atau pori-porimu sanggup mendaras
semburan wisa memburuku. Lalu dengan apa kau sudahi
perkelahian ini bila memang serangan ini sungguh samar
lagi tak tertafsir sebagai itikad mengakhiri hikayatmu.
(2024)
Babak Selanjutnya
Mengapa next stage game semakin rumit
Seolah kami kaum pemburu kepelikan
Percayalah, bahwa jemari kami lebih
mengidamkan kenyamanan menapak puncak.
Sebab hari kami sudah dikutuk serupa
sisipus menyorongkan batu ke atas,
menjatuhkan ke bawah, mendorong lagi,
begitu terus, berurutan lagi dan lagi.
Lalu mengapa pula jari-jari kami terjebak
dalam kesibukan remeh temeh ini. Bahkan
kami rela menggali ceruk dompet kami
yang terus dangkal, berkejaran pula dengan
subsidi yang berulang dicabut dari tubuh kami.
Maka, tak salah pula bila kami serahkan
peruntungan pada kakek yang menghantar
pesan kearifan melalui petir-petirnya. Agar
kami meyakini bila keberuntungan memang
masih bisa kami resapi sekaligus kami sesali.
Kami buka satu per satu iklan yang lalu lalang.
Jalan ceritanya menggoda kami: tentang menara
yang harus kami pertahankan, para prajurit yang
hobi berhitung tapi amatir kala menentang Titan,
hingga tualang yang jatuh di bumi penuh najis.
Sebab tak ada pula keberuntungan nyata yang
kami tenteng hari ini, yang harus kami hidangkan
di hadapan kecerewetan yang menunggu di sebalik
pintu rumah.
(2024)
Memahami SC9863A
Dia hindar diri dari segala kepintaran revolusioner.
Sebab sadar, arsitektur sirkuitnya sekadar pintar mengantar
Partikel-partikel sederhana. Bilang saja ia jembatan imitasi
Yang mematutkan gawai lampaumu dengan semua
Genggaman pengendali masa depan. Dia tak benar kenal
Rata kiri atau kanan yang seimbang. Maka akan ditempa sabar
Mereka yang setia menapaki jalurnya:
untuk paparan frame rate patah-patah.
Atau malah cara pindah ke lain jendela
yang tak benar-benar gegas.
Sekali lagi bersabar. Jalan ninjanya tak badass,
Tak lekas-lekas. Dan berkali-kali pemutakhiran ini
Tak ia gapai.Tak sampai tertaut pada sirkuit lampaunya.
(2025)
Merapal Rupa Pedang Shadow Moon
Pedang ini pedang fiksi. Kau tak jumpa
hikayatnya dalam kitab. Siapa sangka pula
ia anugerah angkasa. Bilahnya ditempa dari
asteroid nyangsang menjelang pagi.
Serta gagangnya direndam dalam tujuh sumber air.
Kau tak bakal merupakan ia dalam sajakmu. Lebih-lebih
menafsirnya dalam genggaman padri berjanggut kriwul.
Kukata penggenggamnya pemilik badan lapis baja.
Dengan tatapnya kilau hologram. Ia pelihara geming kala
ditantang lawan. Lalu daya-daya pun tersekutu dalam sabuknya.
Menyatu pula langkahnya dengan muslihat jahat di sekitar.
Pedang ini paling jahanam. Tak sudi berlembar-lembar
kitab jawi merawinya. Dalam sekali ayun deraunya
sigap menyigar batu. Tak bakal ampuh, tak bakal semua
pedang bertuah bila beradu dengannya. Maka kuujar
biar ia abadi saja dalam kitab fiksi. Jangan kau
panggil-panggil lagi. Pantang kau seru-seru rupanya
dengan lantang.
(2021)
Separuh Semangka
Merah bersemangat. Dagingnya meluas tanpa
batas. Tapi renjana diadang selubung putih
Antartika. Dengan hijau yang tak mudah terkuak.
Dan suhu tropika hangat di telapak tangan. Belukar
mengistimewakan tubuhnya di atas tanah basah.
Noktah hitam sederhana berjajar, hinggap,
hingga berenang menubuhi kedalamannya.
Meski si pemanen gandrung mengenyahkannya.
Umpamakan dia selaku bola paling istimewa,
menuju yang utama, yang satu belaka. Bisa pula
setitik planet yang tak gampang goyah diombang
gelombang raya lautan antariksa. Sedang kau
hanya badan dahaga belaka, yang rindu pulang
pada hamparan, genangan sirup merah bikinan mama.
(2021)
Menjadi Shin Hayata
Bila aku pulang ke bumi
mengapa harus tubuh buruk
ini kau berkahi. Bukankah,
kekuatan hanya laik bagi mereka
yang tak terbuang dan berpunya
putih hati. Pun jiwa ini kurasai
lenyap di antariksa. Aku mau
hilang ke dalam diri, tapi mengapa
masih harus kutantang segala gergasi
alam raya dan bandit-bandit galaksi.
Telah bersihkah diri bila daya
mahaagung ini sudah memilih.
Baiklah, benar tak ada yang
kekal dari pertarungan. Sebab
kelak akan pulang semua
kedigdayaan yang bersarang. Semua
kembali bareng dengan tumbangnya
gergasi di layar tivi.
(2021)
BIODATA
Dody Kristianto, lahir di Surabaya dan tinggal di Serang. Bergiat bersama Komunitas Madah Doa. Bekerja sebagai Widyabasa Muda di Kantor Bahasa Provinsi Banten.










