LULU bersama Sang Ayah dan para tetangga, yang berjumlah total lima belas orang, melihat Tuto, laki-laki dua puluh dua tahun yang terkapar.
Semuanya mengenakan pakaian senada, laki-laki tuxedo sedang perempuan women’s tuxedo. Di balik pintu penjara bawah tanah, tubuh Tuto hanya menampakan kulit pucat dan tulang belulang yang ingin keluar melalui pori-pori. Bau busuk menyengat pada ruang kedap udara ini. Lulu menutup hidungnya.
“Turunkan tangan itu!” Ucap Ketua Komplek (KK) menunjuk. “Nikmati aroma. Tahan muntah. Ini pelajaran untuk kita semua.” Lanjutnya. Seraya memberi isyarat tangan untuk melihat kembali pada Tuto yang kuping kirinya tinggal sebelah oleh lahap belatung.
“Sekarang awal Maret. Biasanya sudah habis. Tapi dia awet.” Sahut Ayah Lulu yang tak pejam mata melihat tubuh telanjang Tuto. Kepalanya menggeleng-geleng, bibir senyum sumringan. Seperti menyimpan kagum.
“Sungguh mengerikan.” Lulu menimpal dengan wajah hambar.
“Tanggal berapa dia masuk kesini? Ayah lupa lagi…”
“Setelah ritual akhir tahun.”
“Dari awal Januari berarti?”
“Ya.”
“Dari tiga babi tidak ada yang dapat dipamerkan?”
“Tidak. Bahkan ketiganya dibiarkan mati di kandang.” Sahut KK. Yang mengenakan dasi berwarna hijau tanpa motif.
“Benar-benar kesalahan fatal.” Nada Ayah Lulu hambar. Ditutup dengan batuk kecil sebab usia yang bakal menginjak delapan puluh satu.
Pintu penjara ditutup. Tidak ada agenda lain hari minggu ini, KK menyampaikan “Terimakasih untuk minggu ini sebab tak ada yang berbuat yang bukan-bukan. Tetap seperti ini: teliti dan hati-hati.” Dengan tubuh setengah membungkuk ujaran ini dikata, menjadi penutup pertemuan. Semua pulang menuju rumah masing-masing di Blok A.
Jarak Blok A dengan penjara hanya tujuh ratus meter. Semuanya berjalan kaki, KK pun turut serta, ia menjadi pemimpin barisan sambil menyanyikan lagu Mars Blok A.
Blok A adalah hunian yang hanya berjumlah lima rumah. Setiap rumah diberikan jatah tiga babi untuk dipelihara pada pekarangan yang telah disediakan oleh KK. Segalanya dipasok baik makanan, vitamin hingga jadwal perawatan untuk pertumbuhan babi yang diharapkan oleh KK pada ritual pergantian tahun baru: setiap rumah harus membawa paling sedikit satu babi untuk dipamerkan. Untuk dinilai kualitas kelayakan, untuk nanti dibawa oleh KK, untuk disembelih, untuk dikonsumsi dagingnya, untuk dijadikan rendaman mandi darahnya.
Agenda wajib mingguan di blok A adalah; senin akan ada pemeriksaan hewan dan kandang. Kamis evaluasi bersama atas perawatan, minggu (seperti hari ini) jika tidak ada yang melakukan pelanggaran maka tidak akan ada hukuman.
Berbeda dengan tiga minggu lalu. Di balai desa, penghuni rumah nomor tiga, satu keluarga dihukum karena kurang setengah kilo memberikan kedelai. Perkara itu terpantau melalui kamera pengawas Blok A yang disimpan secara rahasia oleh KK.
Suami-istri dan dua anak laki-laki itu kepalanya ditutup oleh kain hitam, dimasukan pada kurungan ayam raksasa tanpa celah dan kedap suara dan terbuat dari baja. Di atasnya pengeras suara berukuran besar memutarkan Simfoni No.9 Beethoven, diulang-ulang sampai lima jam. Keluarga itu mengerang dan meminta ampunan. Tak ada yang menolong, tak ada yang menghiraukan. Keringat ketakutan membasahi pakaian mereka.
“Tidurlah, sayang.” Ucap Ayah Lulu dikediaman nomor satu mereka.
“Aku masih menggundahkan hal yang sama, Ayah.” Lulu terlentang pada kursi. Lampu tembok yang berwarna kuning menyinari wajah dewasa awalnya. Di luar tak ada suara apapun selain babi.
“Bagaimana kata Dokter?” tanya Ayah Lulu.
“Tak bisa disembukan.”
“Jangan dulu lapor pada KK.”
“Kenapa?”
“Kamu mungkin bakal dibiarkan mati kelaparan seperti Tuto.”
“Separah itu kah?”
“Kamu alergi dengan kulit babi. Kamu tak bakal bisa memelihara babi karena penyakit itu.”
“Aku sudah tujuh belas tahun. Dan Ayah sudah delapan puluh jalan. Waktunya pensiun. Kewajiban pemeliharaan akan segera pindah tangan.”
“Tidurlah. Jangan dibuat galau terus menerus. Semoga akan datang keajaiban, semoga. Yang penting jangan curang. Ingat itu, nak.” Ayah Lulu mematikan lampu seluruh rumah.
Suara babi riuh dari tiap rumah. Membuat kebisingan. Saklar lampu dinyalakan oleh Ayah Lulu, “Bangunlah. Sudah pagi. Lihat jam.” Lulu terperanjat, sepuluh menit lagi pukul tujuh. Lulu lekas bergegas membasuh wajah dengan air. Langsung menuju pekarangan. Dilihatnya seluruh penghuni Blok A serentak melakukan hal yang sama dengannya. Membersihkan kandang, membuang sisa pakan, menyiram lantai, memeriksa setiap sudut kandang agar tetap kering karena kelembapan tinggi dapat memicu penyakit kulit dan gangguan pernapasan, ditutup dengan pemberian makan pagi berupa ransum dan gandum. Sesuai jadwal.
Setelah itu, seluruh penghuni komplek duduk dimuka jendela, menunggu KK tiba pada pukul delapan. Semua tak saling tegur sapa. Masing-masing mata melihat fajar yang berwarna pucat sampai suara mobil itu tiba. Blug! Suara pintu mobil ditutup, kendaraan yang membawa KK dan empat pembantunya.
Dimasukinya oleh lima orang itu satu persatu pekarangan, diperiksa ketiga babi oleh para pembantu. Dari keseimbangan tubuh, kelurusan punggung, kelebaran dada, ketebalan paha belakang, otot bahu, lurus kaki, tingkat kurus-gemuk yang sesuai, semua itu dicatat oleh KK.
“Dari semua rumah tak ada yang menghawatirkan. Kecuali ada masalah sedikit, rumah nomor empat terlalu abai pada pakan, menyebabkan kelurusan punggung agak kurang. Segera perbaiki. Lihat kembali buku panduan perawatan.” KK sambil melihat catatan. Seluruh penghuni Blok A berbaris tak mengeluarkan satu ucappun.
“Ini surat pergantian jabatan. Untuk sekarang dan seterusnya, kamu yang bertanggungjawab atas babi-babi di rumah nomor satu.” Buku dokumen berukuran saku diberikan oleh KK pada Lulu. Seluhur penghuni blok A bertepuk tangan dengan wajah datar.
“Baiklah. Saya cukupkan. Dan untuk rumah nomor empat, saya kira kamu bisa menangani masalah ini. Jadi untuk kamis ini tak ada evaluasi. Juga minggu tentunya tak bakal ada hari hukuman. Saya senang dengan ketekunan kalian sekarang. Selamat bertemu dipesta akhir tahun sepuluh bulan lagi.” KK melangkah masuk menuju pintu mobil. Ia berlalu dengan para pembantu.
Belum sampai Desember. Bulan Juli, Ayah Lulu meninggal. Mayat diperlakukan seperti lazimnya, ditelanjang dan diberikan aroma kesukaan saat masih hidup, untuk dilemparkan ke hutan. Setiap anggota keluarga yang ditinggalkan wajib memilih warisan berupa satu organ tubuh. Lulu memilih mata, disiramnya biji mata kanan itu dengan air keras agar membatu, kemudian diberikan bingkai cincin olehnya. Tertempel sampai sekarang November pada jari manis Lulu.
Lebih-kurang lima bulan, Lulu membiasakan diri merawat babi walau harus menggunakan sarung tangan khusus yang dibelinya secara rahasia dan wearpack. Waktu memberi makan pun menjadi berubah waktu, baik pagi ataupun sore. Masing-masing lebih awal satu jam dari jadwal, dari kebiasaan Blok A. Agar caranya memberi makan dan merawat tak diketahui oleh para tetangga.
Maka ketika setiap tetangga membuka pintu secara serentak dan melakukan kegiatan seragam, Lulu hanya berpura-pura dengan cara macam turut serta. Padalah setiap gerak-geriknya jika diperhati, berbeda dengan yang lain, Lulu condong menjauhi babi, tidak menyentuhnya, hanya membersihkan kandang.
Ketika tengah melakukan kegiatan pura-pura, ditemui oleh Lulu secara tak sengaja, satu babinya mengalami pitak pada bagian tubuh bawah. Risau menghampirinya. “Padahal ini babi andalan yang bakal aku bawa dihari pergantian tahun.” Tegunnya. “Yang dua tak bisa kuandalkan, yang satu ketebalan paha kurang, satu lagi kakinya tak lurus.” Lanjut lamunannya; yang diam-diam berharap keluar sebagai pemenang perawat terbaik tahun ini. Dirinya yang muda, dan rumah nomor satunya, bakal mendapatkan penghargaan serta sorotan sebagai teladan.
Bulan Desember telah tiba, walau sekarang masih tertanggal awal, kalender masih menunjung angka tiga, namun Lulu sudah bersiaga. Ketika malam hari, jadwal babi-babi istirahat dan para penghuni Blok A tertidur, Lulu melancarkan aksinya. Ditempelkannya cairan yang didapat secara rahasia pada bagian pitak babi. “Tidak ada pilihan lain. Maaf Ayah.” Matanya mengeluarkan air mata sambil tangan terus mengoles-oleh bahan bercorak lendir ini. Tak lama, sekitar dua belas menit, dampaknya muncul dimuka. Pitak itu kasat, cairan berubah nyaris seperti kulit alami babi. “Cairan ini akan luntur dengan ramuan rahasia dari bapaknya Ayah. Semoga KK tidak mengetahuinya karena ini rahasia keluarga.” Lulu mencium cincin di jarinya.
Suara kembang api meledak-ledak. Akhir tahun telah tiba. Seluruh penghuni Blok A berjalan bersama menuju alun-alun yang jaraknya tak lebih dari tiga puluh meter. Setiap rumah membawa babi-babi yang dirasa pantas untuk dipamerkan ke tanah lapang ini. KK bersama empat pembantu sudah berjaga. Lulu membawa satu babi, rumah nomor dua; dua babi, nomor tiga; dua babi, nomor empat; tiga babi, nomor lima; satu babi.
Para penghuni rumah berdiri tepat di depan hewan hasil pemeliharaan masing-masing. Diperiksa secara rinci oleh para pembantu dan KK langsung turun tangan kini. Keseimbangan tubuh, kelurusan punggung, kelebaran dada, ketebalan paha belakang, otot bahu, lurus kaki, tingkat kurus-gemuk yang sesuai, tak ada yang luput dari pemeriksaan.
“Rumah nomor dua. Saya hanya akan membawa satu. Yang satunyanya lagi tak layak. Tubuhnya tak seimbang.” Yang disebutkan hanya mengangguk.
“Rumah nomor lima, walau satu kamu, babi ini baik. Bagus. Saya akan bawa.” Yang disebutkan hanya mengangguk.
“Lulu walau satu kamu, babi ini baik. Bagus. Saya akan bawa.” Yang disebutkan hanya mengangguk.
“Rumah nomor tiga. Saya akan membawa dua-duanya.” Yang disebutkan hanya mengangguk.
“Rumah nomor empat, tak ada babi yang layak. Untuk apa membawa tiga kekeliruan kehadapan saya?” Penghuni rumah nomor empat; seorang perempuan empat puluh tahun dan dua anak kembar berusia lima belas tahun, lansung mengambil posisi, tepat dibelakang babi-babi.
Dengan posisi tubuh seperti babi, kepala mereka menengahan pada bulan secara bersamaan. Tak boleh menengok dan mengeluarkan suara. Para pembantu KK memukuli masing-masing lima puluh kali pada bagian tengkorang dan tulang bokong dengan bambu kuning seukuran jempol kaki orang dewasa. Setelah itu, penghuni rumah nomor empat digiring kepenjara bawah tanah.
“Apakah mereka akan dibiarkan kelaparan sampai mati?” tanya penguhi rumah nomor dua.
“Tidak. Karena mereka masih membawa babi. Tak seperti Tuto.”
“Tapi tak ada babi yang bisa KK bawa. Sama bukan?”
“Mereka sudah merawat walau tak becus. Mereka akan disini empat tahun. Rumahnya kamu yang urus karena babi mu yang terbaik diantara yang lain.”
“Baik. Terimakasih.” penguhi rumah nomor dua dadanya membusung. Ia seorang diri, laki-laki berusia empat puluh tujuh tahun.
“Saya akan memandikan semua babi ini dengan ramuan dari kakek Lulu untuk memastikan tak ada virus. Blok B dan C semua babinya mati. Tak ada yang dapat jadi persembahan. Terimakasih untuk tahun ini. Bubar.” Semuanya pulang pada rumah masing-masing.
“Aku masih menggundahkan hal yang sama, Ayah.” Lulu terlentang pada kursi. Lampu tembok yang berwarna kuning menyinari wajah dewasa awalnya. Di luar tak ada suara apapun selain babi. (***)
BIODATA
Ridwan Kamaludin tinggal di Bandung. Mulai aktif menulis saat terlibat di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Daunjati ISBI Bandung. Belakangan waktu, fokus menulis fiksi, khususnya Cerpen. Beberapa cerpen telah dimuat di media digital lokal, serta sempat terpilih untuk menjadi tamu dalam pameran sastra di salah satu universitas negeri di Indonesia. Selain cerita pendek, pada tahun 2022, lakonnya dengan judul “limPung temPurung” menjadi naskah yang dipertimbangkan (13 terpilih dari 46 pengirim) untuk diterbitkan oleh Kalabuku dalam bentuk antologi.













