Tidak Setiap Sunyi Kesepian
Sunyi batu
Sunyi harimau
Sunyi angkasa
Sunyi pikiran
Tanpa perasaan
Kesunyian milik kebenaran
Kesepian milik kebimbangan
Sepi daun tanpa angin
Sepi tanah tanpa air
Sepilah aku tanpa Dia
2026
Tanpa Judul
Dari Bener Meriah menuju Takengon
Di kiri kanan sepanjang perjalanan
Ada tertulis sebuah kalimat;
Kampret Prabowo
Joged saja kerjanya
Makan saja pikirannya
Jalanan menjelma kolam
Sungai-sungai menjadi ngarai
Rimba raya tinggal kenangan
Dari Bener Meriah menuju Takengon
Seribu luka terlupakan
2026
Aku Hendak Kau Harus
Sejatinya manusia adalah robot Tuhan,
tidak berdaya,
ditentukan segala apapun,
bentuk tubuh,
takdir
dan nasib,
kesombongan dan kesintingan bertarung dengan kerendahan hati dan kearifan.
Hanya pengabdi teguh berbajukan taqwa.
Apa yang diharapkan angin,
air,
api,
tanah,
serta matahari,
bulan
bermilyar bintang-bintang di
angkasa sepi,
tidak lain hanyalah kepatuhan,
keseimbangan perputaran,
kehidupan.
Di dunia fatamorgana ini,
kesetiaan perjuangan hidup
/2025
Aku Kau Dia
Jadilah buta huruf
Agar Tuhan dapat menampakkan hikmah-Nya
Lihatlah, tapi jangan dituliskan
Seribu cahaya berbinar-binar
Akulah besi
Engkau api
Akulah api
Engkau air
Akulah air
Engkau kehidupan
Akulah hidup
Engkau penggerak
Akulah bergerak
Mencari-Mu
Aku dihukum
Karena aku ada
Aku adalah sifat
Aku ialah perilaku
Susah itu tergantung hati menyikapinya.
Agar hati tidak gelisah, kesusahan itu datangnya dari Allah, mungkin sebagai ujian dan cobaan atau sebagai ingatan.
Kekuatan doa pada akal pikiran
Aku berpikir
Karena itu aku takluk
Untuk apa kau naikkan batu ke puncak bukit, secara alamiah dia akan berguling ke bawah sesuai kodratnya.
Tidak akan baik prilaku seseorang, bila yang bersangkutan tidak mau memperbaikinya.
Hidup di antara para hati yang kacau
ingatan lurus jadi tersendat
hanya gelisah
hanya ceracau
purnama berlalu dalam sunyi
Igau
sehebat apapun otak
hati jualah yang menentukan
dan akupun tenggelam
dalam pusaran ketiadaan
dalam mencari kedalaman kelam
bertemu terang meniadakan
angin terlupa ingatan
angin yang membangunkan
hidup hanya ibadah
selebihnya mengisi kesepian
BIODATA
Din Saja, lahir di Banda Aceh, 31 Januari 1959 dengan nama lengkap Fachruddin Basyar. Puisi-puisi Din dimuat di media cetak dan antologi bersama. Pada 2015 antologi puisinya berjudul “Dari Rahim ke Kuburan” terbit dan dikupas oleh Muhrain yang saat itu masih menjadi mahasiswa Pascasarjana Bidang Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah, Banda Aceh. Antologi ini semacam perjalanan batin Din yang dibahas di Rumoh Budaya. Antologi puisinya juga menjadi salah satu pemenang Buku Hari Puisi Indonesia pada 2017, penghargaan ini menjadi catatan penting dalam perpuisian Indonesia yang diterimanya di Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Oktober 2017. Buku puisinya bertajuk “Hanya Melihat Hanya Mengagumi” ditetapkan sebagai Pemenang Terpilih bersama empat buku karya penyair Indonesia lainnya.










