PERCAKAPANNYA dengan perempuan itu sore tadi mengingatkan Igor Sulaiman kepada sesuatu yang mesti ditulisnya. Perempuan yang tiba-tiba saja menguasai sel-sel otaknya, menguasai pikirannya. Dia ingin membawa perempuan itu ke dalam puisi, namun gagal. Berkali-kali dia mencoba, mengingat-ingat kembali wajah perempuan itu dan cara perempuan itu bicara. Lalu perempuan itu menyebutkan namanya Frida, dan dia sempat terpikir pada nama Frida Kahlo seniman Meksiko, istri Diego Viera yang terkenal sebagai maestro seniman rakyat Amerika Latin di atas lukisan-lukisan muralnya. Namun, dia tak ingin menghubung-hubungkan dan menghentikan berpikir tentang puisi. Dia terdiam.
Seketika seseorang datang melintas, menatapnya lama tanpa kedip dengan tatapan seperti orang mengasihani. “Hei, tak baik berdiam seperti itu! Mana pesananku?”
Igor yang kaget terlempar dari lamunannya itu menatap sedikit kesal pada kawannya Edi, yang biasa dipanggil atau dijulukinya sebagai Edi Kangguru lantaran kalau bicara atau bercerita suka meloncat-loncat. Dengan wajah kesal dia pergi ke belakang mengambil pesanan.
“Lagi bikin apa kau?” teriak Edi memecah keheningan.
“Puisi. Tapi gagal,” sahut Igor
“Tentang apa?”
“Perempuan. Sesosok perempuan yang kutemukan sore tadi, namanya Frida, tapi selalu gagal.”
“Kenapa?”
“Entahlah.”
“Kok entah? Jawaban yang tak menggoreskan optimisme. Setidaknya jawaban harus menafsir keadaan.”
“Mungkin, wajah perempuan itu terlalu prosais.”
“Nah!”
Igor melangkah ke depan Edi Kangguru, menatapnya lama dengan tatapan aneh sambil memberikan pesanannya.
“Maksudnya?”
“Ya, kalau kau sudi serahkan saja tentang perempuan itu padaku. Biar ku buat dia jadi cerita.”
Igor sang penyair gagal paham dengan keinginan Edi Kangguru, pengarang.
“Seorang penyair mengembangkan proses kreatif bersumber dari dalam dirinya, sedang kau mengembangkan proses kreatif bersumber dari mana saja. Aku tak sudi pengalamanku dijadikan fiksi!”
“Ha ha ha…proses kreatif bersumber sebagai sumber mata pencarian kita juga…seiring menghasilkan karya, menghasilkan uang,” ujar Edi Kangguru semangat. “Baiknya aku antar pesanan ini dulu, nanti aku balik lagi. Kau tidak cepat tidur kan?”
Tanpa menunggu jawab, Edi Kangguru melangkah pergi.
Igor Sulaiman dan Edi Kangguru dua sahabat setia. Igor Sulaiman penyair, sedang Edi Kangguru pengarang, menulis cerpen dan novel. Tapi karena penghidupan makin sulit dan pendapatan semakin minus belakangan ini Igor Sulaiman mulai mencoba usaha kuliner kecil-kecilan dengan membuat tape ketan uli untuk menopang hidupnya sebagai penyair, dan Edi Kangguru turut membantunya membawakan dan mengantarkan pesanan.
Menjadi penulis di zaman digital ini makin sulit, bagi keduannya yang ada tinggal bertahan. Mereka mungkin memang generasi yang kuat bertahan- bertahan dengan kesulitan. Meski mereka terus yakin dan merasa belum kehilangan momentum untuk menjadi sastrawan terkenal. Sementara generasi baru telah tumbuh berderai- membawa zaman baru ke pelukan mereka.
Igor Sulaiman dan Edi Kangguru dua seniman yang hidup dan tumbuh sejak era analog mencoba untuk survive di era dgital, yang telah menjadi milik dan ranah generasi baru milenia dan gen Z.
Igor sampai hari ini masih berjuang menjadi penyair. Bagi Igor menjadi penyair sudah takdir hidup yang harus dijalani dengan segala keyakinan dengan segala kegundahan dengan segala ketakutan dengan segala kepasrahan dengan segala keniscayaan dengan segala keberuntungan, dan dengan segala kegembiraan sebagai perayaan hidup.
Dunia penyair kini yang tak mudah yang berubah yang patah oleh desakan lompatan kemajuan teknologi digital dan AI. Dunia mengalami gelombang percepatan yang tak lagi menunggu atau meminta jeda. Informasi, data dan media bergerak cepat, penuh waktu 24 jam tanpa henti, Semua perubahan dan lompatan ini mengubah gerak hidup, mengubah arti hidup. Lantas bertanya dan menafsir posisinya. Bagaimana dengan puisi? Penyair? Sastra? Orang semua memuja informasi, data! Siapa memuja puisi sekarang? Atau setidaknya berharap? Puisi, yang bukan informasi bukan data, mungkin hanya gelembung-gelembung busa sabun yang ditiup menarik perhatian dan menyenangkan hati kanak-kanak.
Hidup puisi yang berubah; ekosistem yang berubah struktur yang berubah penanda yang berubah metafora yag berubah waktu yang berubah ruang yang berubah jarak yang berubah, segala yang berubah dan berubah. Realitas?
Realitas mengalami pergeseran dimensi, dan tidak mudah menempatkan posisi dan memaknai realitas. Realitas analog dan realitas digital sebagai loncatan tak terperi. Di mana ‘aku’sang subjek? Hilang, mulai pergeseran dimensi, kesemuan bias digital.
Semakin lama orang hidup dalam pengalaman analog makin terasa pergeseran dimensi, seyogyanya berbeda dengan generasi milenia yang tak lama dengan pengalaman analog atau gen Z yang secara otomatis hidup dalam dunia digital dan tak bersinggungan lagi dengan pengalaman analog.
Igor sempat memutuskan mulai mengambil jarak dengan realitas; perkara hidup dan ekonomi manusia yang tak berkurang malah makin eksis. Eksistensi masalah berkembang, dan eksistensi manusia makin kabur.
Di tengah realitas ini itu dia bertemu realitas yang lain: realitas Edi Kangguru, penulis fiksi yang suka melepaskan himpitan ruang himpitan waktu, menulis cerita tentang pengalaman orang atau yang lain daripada pengalaman atau hal dirinya, juga sebagai yang dibilang ghost writer. Edi yang cekata dengan lompatan-lompatan alur ceritanya.
Dan sekarang dia telah kembali dan tiba-tiba telah berada di depannya.
“Seperti apa perempuan yang bernama Frida yang kau temukan sora tadi itu?” Edi Kangguru langsung memburu dengan pertanyaan ketika telah kembali di rumah Igor, seakan dia merasa cerita tentang perempuan bernama Frida telah dan akan menjadi miliknya.
Igor Sulaiman mengangkat wajahnya dan menatap wajah lawan bicaranya sambil sejenak berpikir, dan berkata:
“Aku membayangkannya sebagai Frida Kahlo, hanya sedikit pendek dan gemuk,” Igor mencoba memancing respon pertanyaan Edi Kangguru.
“Sedikit gemuk dan pendek? Tapi itu tak masalah anggap saja karakter polinesia. Apakah dia memiliki susunan bakat yang menyerupainya, atau mendekatinya Gor?”
“Sebelum sampai ke sana, ku katakan padamu bahwa dia perempuan yang tidak mudah percaya pada orang.”
“Itu dikatakannya padamu Gor?”
“Nyaris dia mengatakannya apabila tidak terjadi sesuatu di antara kami. Tiba-tiba dalam percakapan ada jeda dan kami terkepung dalam kerumunan orang di taman dan kami terpisah, tiba-tiba dia menghilang.”
“Bagaimana perempuan itu membahasakan dirinya sehingga kau berani menyimpulkan?”
“Cara dia bicara….srtruktur bahasanya ketat, kalimatnya pendek dan putus-putus.”
“Apakah perempuan itu menatap dirimu saat berbicara atau menuduk atau mencari arah yang lain?”
“Hmmm sebentar aku ingat-ingat. Sepertinya wajahnya mengarah padaku, tapi matanya mencari arah yang lain.”
“Hmmm…Aku merasakan jawabanmu mulai tak jujur.”
“Baiklah, aku katakan padamu, bahwa sejujurnya aku tak berani menatap wajah perempuan itu. Jadi, aku tak tahu apakah dia menatap diriku saat bicara.”
“Di awal kau bilang perempuan itu terlalu prosais, dan kemudian kau bilang lagi struktur bahasanya ketat, kalimatnya pendek dan putus-putus, di sini aku meragukan dua informasimu yang bertolak belakang?”
“Nah! Itulah yang mengganggu puisi. Aku mencoba melihatnya sosok yang bukan kompleks, tapi perempuan itu dari awal kehadiran sudah kompleks.”
“Itu bukan sesuatu yang mengganggu, bagiku dia bisa menjadi awal rajutan cerita menarik. Aku ingin memastikan biar tak salah, ngomong-ngomong tadi kau bertemu dengan perempuan itu di mana?”
“Taman Kota.”
“Dia mengenakan pakaian apa?”
“Blues dan rok panjang.”
“Kau mengatakan sesuatu yang mungkin akan diingatnya?”
“Untuk diingat?”
“Ya, seorang laki-laki selalu mengatakan sesuatu yang akan diingat perempuannya.”
“Entah, aku lupa. Terakhir aku katakan padanya, aku akan buatkan puisi untuknya.”
“Ya, seperti itu! Dia pasti akan mengingat kata-kata terakhirmu itu.”
Setelah selesai dengan pernyataan itu Edi Kangguru membuka laptop dan membuat ceritanya. Igor juga tak ingin menambah pembicaraan karena sepertinya Edi Kangguru tengah bergegas, siap melompat-lompat bersama paragraph-paragraf ceritanya. Igor selintas memainkan kertas dan pulpen di tangannya. Suasana mereka merayap hening.
Satu jam berselang dalam keheningan itu Edi Kangguru telah rampung dengan cerpennya. Dia menyerahkan laptopnya kepada Igor, Igor membacanya dan menurutya cerpen itu cukup baik dan menarik.
“Tanpa judul!”seru Igor memancing.
Edi Kangguru senyum dan mengambil laptopnya dari Igor, segera membubuhkan judul cerpennya: Frida.
“Mana puisimu? Biar dia kuletakkan di bagian atas pembuka cerpen ini,” Edi Kangguru menyeringai.
“Igor mengambil laptop Edi dan menuliskan sebaris puisi di bawah judul. Puisinya berdenting di atas not huruf-huruf laptop diketiknya: suara perempuan itu seperti suara saxophone yang tertinggal dalam kamar. Edi sekilas menatap Igor, dan tersenyum.
Frida dengan pusi perempuan Igor itu beberapa hari kemudian dimuat di media sasttra.com.
Mereka berdua pergi ke taman. Tampak Igor menatap foto Frida Kahlo yang sedang menunggu dengan wajah dingin yang tergambar dalam google.com Entah apa yang ditunggu? Mungkin revolusi yang berpindah nyawa.
Kemudian ditatapnya dari kejauhan Frida yang sedang duduk di bangku taman kota.
“Ayo kita temui dia,” ujar Igor sambil menarik tangan Edi Kangguru.
Perempuan bernama Frida itu ternyata seorang nenek yang berusia lebih dari 90 tahun nyaris mendekati 100 dan suka menulis puisi sejak sebelum Indonesia merdeka. Puisi-puisinya sebagai catatan pribadi dan tak pernah dikirim ke media untuk diterbitkan, seperti sosok Emilie Dickingson di negeri nun jauh di sana.
Edi Kangguru kaget dan menahan gelisah memandang sosok Frida di hadapannya yang jauh dari apa yang terbayang sebagai perempuan muda dan sexy di atas cerita cerpennya. Igor memperhatikan temannya itu sambil tersenyum-senyum.
“Oma Frida, selamat sore,” menyapa Igor dengan ceria.
“Sore juga Igor,” balas Frida, senang dengan kehadiran Igor. “Mana puisi untukku?”
“O tentu ada Oma Frida,” jawab Igor sambil merasa takjub akan daya ingat Oma Frida akan janji puisinya. “Oh iya Oma Frida, perkenalkan ini Edi, kawan kita pengarang.”
“Wow hebat sekali kamu pengarang!” sambut Oma Frida sambil menancapkan pandangannya lekat-lekat ke wajah Edi. Edi menyalami Oma Frida sambil senyum-senyum gelisah.
“Edi ini pengarang handal, dia juga telah membuatkan Oma Frida cerita dan ceritanya langsung dimuat di media,” tambah Igor semangat. Sementara Edi Kangguru makin gelisah.
“Hebat, hebat, benar-benar hebat kamu. Terima kasih ya Edi,” Oma Frida merasa kagum dan senang.
“Ayo, tunjukkan pada Oma Frida cerpenmu yang hebat itu Ed!” tambah Igor.
Edi dengan senyum-senyum gelisah perlahan-lahan menunjukkan cerpennya di sastra.com kepada Oma Frida pada layar hp-nya.
Oma Frida menatap senang kepada Edi. Tapi dia mengalami kesulitan membaca lewat layar hp. Igor telah mengantisipasi sebelumnya. Dia mengeluarkan sesuatu dari tas. “Ini Oma Frida aku buatkan print-nya.”
Oma Frida meraihnya dengan senang dan mulai membaca. Sambil sesekali membenarkan letak kaca matanya Oma Frida tampak senyum-senyum membaca cerpen Edi Kangguru. Edi Kangguru merasa tak enak hati karena sosok Frida yang ditulisnya jauh dari yang asli yang duduk di hadapannya.
“Maaf Oma Frida kalau cerpen itu salah penuh kekeliruan,” kata Edi pelan.
“Kenapa salah! Cerpenmu ini bagus, saya menyukainya. Tak ada yang salah dalam cerpen, tak ada yang salah dengan fiksi.”
Edi Kangguru sekali lagi kaget dan menatap heran Oma Frida. Bagaimana Oma Frida dapat berkata demikian. Sebegitu bijaknya dalam memahami keberadaan cerpen, memandang fiksi.
Igor menambahkan keyakinan pada kata-kata Oma Frida.
“Benar sekali Oma Frida, sebuah cerpen tak pernah salah, fiksi punya logikanya sendiri. Cerita Edi berdiri kokoh di atas logika fiksi, dan struktur ceritanya semua berjalan logis. Dia tergerak dan masyuk dalam alamimajinai. Edi memang pengarang hebat.”
Edi percaya pada keluasan pemahaman Igor akan sastra. Jadi, ketika Igor menyatakan cerpennya bagus, dia tidak yakin Igor tidak sedang menyesatkan dirinya. Dunia cerpen punya logika yang berdiri di atas ranah fiksi. Dia merasa senang pada Igor dan punya keyakinan baru atas fiksi.
“Ini puisi penyair Igor, Oma Frida,” kata Edi menunjukkan.
“Puisi yang hening, sunyi, membangun relasi perempuan, ruang dan bunyi suara yang melengking di kesunyian, di kesndirian,” ucap Oma Frida. “Igor adalah pemilik makna kata-kata sendiri.”
Igor tidak tahu dari mana Oma Frida mendapatkan pengertian puisi, hanya pikirnya pengalaman kadang memungkinkan perasaan kepekaan yang lebih akan bahasa.
Igor dan Oma Frida kemudian mulai bersama memainkan bahasa, memainkan kata-kata saling bersambut.
“Dari mana lukisan potret memungkinkan perempuan bicara tentang diri, ke sana dunia memahami kehidupannya, seperti potret Frida Kahlo.”
“Yang melahirkan sugesti, bawakan kesenangan.”
‘Yang tak terjawab, larut dalam kesedihan.”
“Dalam pita-pita tertancap luka.”
“Dinding-dinding dingin yang suka lupa.”
‘Bertanya sejarah dirinya.”
“Revolusi di ujung kata: pengasingan Dan penjara?”
“Oh dukanya duka.”
“Oh dupanya dupa.”
“Seikat mawar yang pernah jadi.”
“Hidup di atas ladang-ladang gandum.”
“Mengalir ke sungai keabadian.”
“Jantung peradaban…”
“Komunisme yang tidur.”
“Kapitalisme menggusur.”
“Dalam kabut tipis, ada suara memanggil: Trotski! Dimana?”
“Di bayang mimpi kaum proletart.”
“Di atas tembok-tembok kota mural Diego Viera.”
“Dibalik senyum merah lukisan potret diri Frida Kahlo.”
Di atas taman kota senja menggantung. Sebelum kata-kata dicekam sunyi dan pergi ke rumah majikannya. Waktu bulir-bulir cahaya mengendap ke sisi gelap. Mereka bertiga Igor, Edi dan Frida berjalan menuju tempat parkiran. Dan kemudian berpisah.
BIODATA
Muhammad Solihin Oken lahir di Jakarta, 26 Oktober 1970. Pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, dan mengikuti Program Course Paska Sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Aktif bersastra sejak mahasiswa. Pernah menekuni profesi wartawan sejak 1996 hingga 2013. Sejak 2009 ia rajin menulis puisi di media sosial. Buku puisi terbarunya berjudul “Sajak Selikur” (2022).










