KETIKA kegagahan berakting di atas panggung sekadar menjadi role mode yang kaku, saat itulah rasa keaktoran justru sering kali tenggelam. Kita sering terjebak pada keinginan untuk terlihat hebat, alih-alih menjadi manusia yang hidup. Namun, bagaimanakah semestinya kita bermain peran?
Seni peran bukanlah hitungan matematika yang mutlak. Memang, perwatakan bisa dipelajari, namun ia tetap membutuhkan ruang eksplorasi yang luas. Seni peran adalah kesadaran bahwa setiap manusia sejatinya membutuhkan teater dalam hidupnya, juga sebagai bentuk cara untuk menempatkan diri dan terus bertumbuh melalui pencarian.
Aktor yang baik tidak menghafal dialog seperti robot. Ia tidak sekadar meniru gaya orang lain agar terlihat keren. Karena teater adalah tentang kesadaran hidup. Seperti kata WS Rendra, teater lebih dari sekadar seni pertunjukan, ia adalah alat untuk membangun dan mengasah kesadaran hidup.
Seorang aktor tidak boleh hanya menjadi penghafal gerakan. Setiap ekspresi, gestur, dan ucapan harus memiliki artikulasi yang lahir dari motivasi batin. Jika motivasi itu tidak dihidupkan, maka akting hanyalah tempurung kosong, cacat dalam jiwanya akan segera terlihat oleh penonton.
Metode hanyalah sebuah kompas, bukan jalan itu sendiri. Kehidupan yang mengalir adalah guru yang sebenarnya. Dalam momen-momen spontanitas, teknik mendengarkan dan merespons menjadi kunci. Tujuan utama seni peran, terutama monolog, bukan untuk diadili atau sekadar dinilai, melainkan untuk menyampaikan cerita dan menggerakkan emosi penonton.
Proses pencarian yang dinamis inilah yang saya saksikan di Tegalmengkeb Art Space, tempat digelarnya final Lomba Monolog se-Indonesia, hasil kolaborasi Luh Luwih Foundation dan Pasraman Kayumanis.
Perjalanan Para Militan
Sembilan peserta yang hadir di Tegalmengkeb bisa saya katakan pejuang yang sedang mencari jadi dirinya untuk menjadi peemonolog sejati. Mereka datang dari Tasikmalaya, Temanggung, Solo, Bengkulu, Palu, dan Sumba. Ada satu peserta dari Kalimantan Selatan yang terpaksa mundur karena kendala biaya, namun semangat yang lain tidak surut sedikit pun. Mereka adalah aktor-aktor militan yang siap “Merobek Maya” (tema lomba kali ini—demi mengungkapkan arti sesungguhnya tanpa topeng artifisial).
Setiap peserta membawa cerita perjalanan yang luar biasa. Kisah Muhammad Syafa’at dari Palu, misalnya, sungguh mengharukan. Mereka berangkat di tengah ketidakpastian pasca gempa, dengan dana yang pas-pasan dan kondisi fisik yang sempat tumbang akibat demam. Perjalanan yang memakan biaya besar bagi dompet mahasiswa tidak menyurutkan langkah mereka untuk sampai ke pelosok Tabanan.
Lalu ada mahasiswi asal Solo yang berangkat seorang diri dengan uang saku yang sangat terbatas. Ia harus memutar otak, menempuh perjalanan panjang dengan kereta api ekonomi, menyambung dengan kapal laut, hingga berjalan kaki untuk tiba di titik jemputan. Belum lagi tim lain dari Solo yang sempat dicegat polisi di Gilimanuk. Saat akting mereka menutupi ketidaksiapan surat-surat kendaraan gagal total, mereka akhirnya memilih jujur. Kejujuran itulah yang justru meluluhkan sang polisi.
Di sisi lain, ada peserta yang merasa pulang ke kampung halaman karena suasana Tegalmengkeb mengingatkan mereka pada perkampungan di Bengkulu. Ada pula aktor asal Sumba yang dengan rendah hati belajar menjadi “manusia Bali” karena kuliah di ISI Bali untuk memperkaya identitas keseniannya karena juga dengan ada hal masa lalunya yang kelam ia bertekad membahagiakan orang tuanya khusus ibunya. Sementara itu, pasangan suami-istri dari Temanggung menunjukkan bahwa bagi mereka, hidup adalah teater itu sendiri.
Tentu ada duka yang menyelinap. Dua komunitas dari Tasikmalaya mengalami kecelakaan lalu lintas saat subuh karena sopir yang mengantuk. Namun, di balik semua kejadian itu, ada rasa solidaritas yang kental saat malam ramah tamah. Canda tawa dari pendiri Pasraman Kayumanis dan perangkat desa menghangatkan suasana, melupakan sejenak lelahnya perjalanan.
Bukan Sekadar Lomba
Dalam pemeranan atau bermain peran aktor sangat dituntut untuk menyelami kehidupan itu. Lalu meleburkan seluruh egonya. Di sinilah tampak apakah kita bisa menghadirkan wajah orang lain. Di sini juga seorang aktor terlibat langsung dalam toleransi. Ibarat menyatukan seluruh vokal, perasaan, gerak ekspresi sebagai satu kesatuan bentuk, hal yang musikal semua membawa bunyi yang sunyi.
Mengutip apa yang disebutkan Arifin C. Noer, memandang teater sebagai media katarsis dan proses pemanusiaan.
Bahwa benar lewat pendalaman karakter, olah rasa, dan pementasan, teater melatih aktor maupun penonton untuk lebih berempati, memahami realitas sosial, dan mengasah kepekaan spiritual serta emosional terhadap sesama.
Di Tegalmengkeb sembilan finalis hadir tidak sekadar berkompetisi; mereka tengah ditempa menjadi pribadi yang kuat militan. Perjalanan menuju titik tegalan yang tersembunyi ini adalah bagian dari lakon hidup yang semoga saja menemukan bentuk atau sedang membentuk jati diri mereka atau sudah ada yang terbentuk, kemudian di Tegalmengkeb yang sunyi itu mereka berbagi diam-diam dan saling bertukar cindramata pemikiran.
Pada akhirnya, akting di atas panggung hanyalah puncak gunung es. Jawaban atas bagaimana cara bermain peran yang baik ternyata bukan terletak pada teknik yang kaku, melainkan pada keberanian kita menaklukkan “gelombang” hidup.
Mereka, menjadi petarung atau pejuang di Tegalmengkeb ini, telah membuktikan bahwa sebelum membuka mulut untuk berdialog di depan penonton, mereka sudah selesai memerankan dirinya sebagai manusia yang jujur dan tangguh.
*penulis adalah aktor teater.










