DEBU DI CELAH JARI
Aku lapar, Tuhan
Tak tahu dengan apa hendak mengganjal perut ini
Setelah ribuan hari menggiling jutaan janji
Mengerami diksi
Tiada satu pun menetaskan kenyang
Musim-musim berlalu di tanah yang kikir
Malam-malam bersenggama dengan ringkih tulang
Harapan jadi debu di celah jari
Tuhan
Kalau pintaku terlalu tinggi untuk mengecap embun sampai esok
Menatap anak harapan berlarian di terang
Hingga senja menjemput
Dan asap singgah di mata
Maka, beri aku jawaban
Agar lelah segera binasa
ESOK, DIRIMU AKAN KERJA APA
Malam tak pernah absen memelukmu
Dalam mimpi-mimpi gelap dan sunyi
Menyandarkan lelah di gemerisik daun
Hingga
Terang membentur tulang di cadas kehidupan
Menggerus tulang sampai berdebu
Engkau hanya diam
Tatkala letih memandikan dirimu
Kau tak lagi menyimpan dalam hati
Saat seseorang melempar kata-kata suci
Dari liurnya yang berbau basi
Ketika seseorang menjilat liurnya sendiri
Kau hanya berkata
Hidup memang se-menjijikkan ini
Kau diam
Dan kau kembali membawa otakmu berlari
Di bawah sinar matahari
Mencari penawar atas luka di sekujur badan
Hingga malam kembali
Membawa mimpi berkejaran
Perlahan dan panjang kau hirup udara
Lalu mengempasnya pelan
Memenjaranya di bola mata
Mengintimidasinya agar ia mau berkata
Esok, dirimu akan kerja apa
Daun di Ujung Ranting
ingatan tentangmu serupa daun kuning di ujung ranting
mudahnya tanggal dan terkubur
tatkala angin bertiup kencang
namun
waktu berjalan teramat lambat
membiarkan daun itu terus melekat
mengibarkan tanya
andai engkau masih di sini
adakah tinta tetap mengalir
puisi tetap hidup
seperti waktu yang telah lalu
gencarnya dirimu menyemangatiku
menyuntik kata yang bikin terkesima
betapa kini
adamu seperti pohon yang terus meninggi
seperti awan yang memudar tersapu angin
tiada terjangkau dan terabadikan
SUNYI DI DASAR
Semilir angin bertiup, berputar, menggilas kepala
Langkah berlari menuju tangga
Diri tercabik, siapa peduli
Terlihat bayang-bayang berebut anak tangga
Menara dingin menjulang, menanti
Jemari menarik kawan, menarik lawan
Di pintu menara
Siku beradu, napas memburu
Sekian kepala melayang dan terjatuh
Tak terbilang berapa nyawa menghilang
Berapa dapat diselamatkan
Di atas menara wajah berseri-seri
Nama tetap suci
Di dasar tangga duka itu sunyi
Tiada bunga, tiada nisan
Di dasar tangga
Atas nama luka
Panah api melesat menuntut balas
Membakar diri, membakar rumput, membakar tangga
AKHIR SEBUAH PUISI
Pada akhirnya adalah sunyi, ujung dari segala puisi
Suara-suara, bayangan yang mengabur ditelan jarak
Saat seribu tanya dilemparkan
Hanyalah pedang kebaikan yang mampu menangkal
Dan bila, pedang tak sanggup menebas
Adakah doa-doa menderas menyelamatkan?
Yakin
Doa akan menderas dari empat penjuru mata angin
Melibas, meluluh setiap tanya yang datang
Menangkal vonis yang dialamatkan
Aamiin
BIODATA
Mimi Marvill, lahir dan menetap di Temanggung. Menulis puisi sebagai refleksi diri.










