You wear a mask for so long, you forget who you were beneath it. (Alan Moore)
DI JALANAN metropolitan ini, setiap tatapan adalah misteri. Aku berjalan di antara kerumunan, di tengah gelombang manusia yang seolah hidup dalam zonanya masing-masing. Mata mereka, yang seharusnya menjadi jendela, justru menjadi cermin, memantulkan bayangan diri mereka yang kian asing di tengah hiruk-pikuknya.
Mereka tersenyum, tapi senyum itu tak sampai ke mata. Senyum itu palsu, seolah-olah dipajang untuk menyembunyikan kehampaan di baliknya. Aku melihat banyak tatapan yang kosong, wajah-wajah yang lelah, dan langkah-langkah tergesa yang simpang siur seolah tanpa arah. Kami semua ada di sini, tapi tidak benar-benar bersama. Kami hanya gugus siluet yang lewat, bersinggungan sebentar, lalu menghilang ke dalam labirin jalanan yang tak berujung.
Di sebuah persimpangan, seorang pria tua menjual topeng. Bukan topeng biasa, melainkan topeng yang dapat mentransfer emosi. Jika hatimu terluka, dia akan memberimu topeng tawa yang sempurna. Jika kau murka, dia akan memberimu topeng ketenangan. Aku membelinya satu, topeng kebahagiaan. Begitu ia menempel di wajahku, dunia berubah menjadi panggung sandiwara yang gemerlap. Orang-orang di sekitarku, mereka semua ikut tertawa, padahal aku tak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka memakai topeng yang sama, menari dalam arena tanpa alunan musik, tenggelam dalam kebahagiaan palsu yang kaku.
Setiap langkahku terasa seperti mengarungi lautan topeng. Topeng yang terbuat dari senyum paling ramah, dari sorot mata paling meyakinkan, tapi di baliknya tersimpan kebekuan. Aku melihat seorang wanita muda tertawa lepas di sebuah kafe, suaranya renyah dan riang. Namun, bayangan di jendela memperlihatkan matanya yang kosong, seolah tawa itu adalah perintah yang harus ia lakukan. Di seberangnya, seorang pria paruh baya mengangguk-angguk setuju pada ucapan rekannya, bibirnya melengkung membentuk kurva kesopanan. Tapi bayangan di pantulan kaca mobil di jalanan sungguh kontras, menunjukkan tangannya yang terkepal erat di bawah meja, mencengkeram amarah yang tak terucap.
Aku sadar, aku pun membawa topeng yang serupa. Topeng yang kuhias dengan ornamen yang paling indah. Di dalamnya, ada senyum cerah yang kuberikan pada atasanku, senyum yang kubuat seolah-olah aku menikmati setiap detik pekerjaanku, padahal di dalam hatiku meronta ingin segera beranjak pergi. Ada tatapan kagum yang kuberikan pada rekan kerjaku yang baru saja naik jabatan, padahal di sudut hatiku, iri berbisik-bisik, menggerogoti. Aku adalah bagian dari mereka. Aku adalah cermin yang memantulkan wajah-wajah asing, karena wajahku sendiri pun kini terasa asing bagiku.
Hingga suatu malam bertabur bintang, aku memutuskan untuk melepaskan topeng. Aku ingin merasakan diriku yang ‘telanjang’, diterpa udara dingin yang menerpa kulit wajahku. Malam itu, wajah-wajah yang melintas di depanku terlihat hambar, tanpa ekspresi. Mereka tak mampu melihatku, seolah aku adalah hantu yang tersesat di rimba ilusi. Aku mencoba berbisik, memanggil nama mereka, tapi suaraku lenyap ditelan angin. Mereka hanya menatap nanar dengan mata kosong, melanjutkan tarian mereka yang sunyi.
Panik merayap, mencengkeram jiwaku. Aku ingin kembali ke dunia tawa yang penuh dusta itu. Aku mencari pria penjual topeng, namun dia menghilang begitu saja bagai asap. Di tempatnya, kini berdiri sebuah cermin besar, kusam dan usang. Aku menatap pantulan diriku, tapi yang kulihat bukan diriku. Itu adalah seorang lelaki dengan wajah datar, tanpa ekspresi, tanpa topeng. Dia adalah mereka.
Aku menyentuh permukaan cermin yang begitu dingin, dan…seketika ia pecah berkeping-keping. Bukan dengan suara gemerincing kaca pecah yang nyaring, melainkan dengan keheningan yang menyesakkan, seolah dunia baru saja usai bernapas. Setiap pecahan memantulkan wajah-wajah beragam, bukan wajahku. Mereka adalah wajah-wajah yang kukenal, yang kulihat setiap hari. Wajah Ibu dengan senyum yang menyembunyikan kekhawatiran di balik matanya, hingga wajah teman-temanku dengan tawa yang dipaksakan.
Saat itulah aku menyadari kebenaran yang sungguh menakutkan: Sebenarnya aku tak pernah memakai topeng. Mereka yang memakainya. Dan aku… aku hanyalah cermin yang memantulkan setiap wajah mereka, setiap topeng, setiap kebohongan. Aku adalah pantulan dari kecemasan Ibu, dan kehampaan teman-temanku. Aku adalah sebuah pantomim, meniru ekspresi mereka, mengucapkan kata-kata mereka, hidup dalam drama. Aku selalu berpikir aku bersembunyi di balik topeng, tapi ternyata, aku tidak pernah punya topeng sendiri. Aku hanya memakai topeng yang mereka berikan padaku, yang mereka pantulkan padaku.
Pecahan-pecahan cermin itu, kini berserakan di lantai, seolah-olah pecahan dari diriku sendiri. Aku melihat pecahan yang memantulkan wajah kekasihku, yang mengatakan “Aku mencintaimu,” namun matanya memancarkan rasa bosan. Ada juga pecahan yang menampilkan wajah dosenku, yang selalu memujiku di depan kelas, namun di balik itu ia menganggapku hanyalah mahasiswa yang biasa-biasa saja – tak lebih.
Aku mulai mengumpulkan pecahan-pecahan itu satu per satu hingga jariku berdarah akibat serpihan kaca yang tajam. Aku tak merisaukannya, lebih tercurah pada eksperimen memadukan mereka. Harapanku, melihat kembali wajahku sendiri. Namun, setiap kali aku hendak menyatukannya, yang muncul bukanlah diriku, melainkan mosaik wajah-wajah mereka. Sebuah kolase dari kebohongan dan kekecewaan, sebuah potret dari dunia yang memaksaku menjadi apa yang mereka inginkan.
Keheningan itu menusuk. Di antara serpihan kaca yang berserakan di lantai, aku berupaya mencari dan memunguti serpihan diriku. Namun yang kutemukan hanyalah pantulan-pantulan bayangan orang-orang lain yang pernah kucerminkan. Ada wajah mantan kekasih yang kini hanya menyisakan kerinduan, senyum palsu dari teman yang mengkhianati, dan bayangan ambisi orang tua yang tak pernah benar-benar menjadi ambisiku. Aku telah menghabiskan seluruh hidupku untuk menjadi cermin bagi mereka semua, hingga lupa bagaimana rasanya menjadi diriku sendiri.
Serpihan kaca itu kini terasa panas dalam genggamanku, seolah energi yang terpendam selama bertahun-tahun mulai mengalir. Aku menyadari, kaca itu tidak pecah karena kecelakaan. Aku yang menghancurkannya. Di tengah keputusasaan, aku telah meremukkan cermin yang telah memenjarakanku. Aku membebaskan diriku dengan sebuah kehancuran.
Aku memejamkan mata, bersikeras mengusir bayangan-bayangan yang ada. Di kegelapan itu, aku mulai mendengar suara-suara. Bukan suara mereka, tapi suaraku. Suara yang sudah lama terkunci di dalam. Ada tawa riang dari masa kecil, bisikan mimpi yang pernah kucintai, dan desakan untuk melepaskan beban yang selama ini kutanggung. Aku menarik napas panjang, menyesap udara dingin, mengambil peluang untuk ‘hidup’ lagi.
Perlahan, aku bangkit. Kaki telanjangku menginjak pecahan kaca, namun rasa sakitnya tak seberapa ketimbang sakitnya menjadi orang lain. Aku mulai melangkah, melewati fragmen masa lalu yang kini tak lagi penting. Langkah pertama terasa berat, namun setiap langkah berikutnya menjadi lebih ringan. Aku tidak tahu ke mana langkahku akan pergi, atau siapa yang akan kutemukan di sana. Tapi yang pasti, aku tidak akan menengok lagi karena hendak kucampakkan segenap kenangan tersebut.
Dinoyo-Malang, 2025
*Penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.













