Orang-orang Aikmel
Leluhur kami orang lang-lang,
prajurit Selaparang yang mengikat dendam di kening
yang melingkarkan mantra-mantra di sarung kelewang
Ketika perang pasang
kami lebih dulu bangun daripada pagi
mengasah tombak dan petuah-petuah
Lalu, dengan genderang gendang
beralun-alun kami ke barat
memangkul mimpi seringan tabiat
Kami tebas prajurit-prajurit musuh
melampaui waktu, melampaui maut
Tidak peduli sejauh mana musim
memendekkan umur kami
Pada masa penyucian
tuan guru dari desa selatan
menghampiri kami dengan kitab syair
Dalam jubah, ia penuh rahasia:
mungkin dusta
Ia mengajarkan kami menutup jendela-jendela
dan membawa anak-anak pulang
sebelum magrib tiba
Agar yang masuk bukan sendikala
tapi gema-gema dari menara
yang meninggi dengan puluhan toa
: kami tuli tutur-kata para tetangga
“Sekarang kalian orang-orang bermi;
orang-orang paling pandai lamunkan nabi”
Sebab itu kami tidak lagi bersapuk merah
Kami sarung kelewang
sampai mantra-mantra karat kemudian
Ketika subuh tumpah dari menara tadi;
Kami lebih dulu nyala-merekah daripada pagi
Kami pun merunduk pada orang-orang berpeci putih,
bersorban panjang;
sepanjang lamunan
Dan kami membungkuk pada yang berpeci hitam,
yang pernah terpampang
sepanjang pinggir jalan
Sebab, barangkali hidup bisa dicari
dengan menundukkan kepala
melihat kaki-kaki mereka
memperhatikan cara mereka melangkah
dan terbang
Aikmel, 2022
Angin Menggelar Lamunan Bukit
Angin menggelar lamunan bukit: putih kabut yang nanti menutup jejakmu
agar kau tak bisa pulang,
agar kau tak pernah selesai
Mendakinya seperti menaiki tangga
dengan menutup mata:
dunia yang kau inginkan
tak perlu dilihat dengan mata
Dan, jika kau menunggu jawaban
tak akan pernah ada kabar terselesaikan
Lalu kau hilang akhirnya,
dan jadi mitos dalam tragedimu sendiri
melayang-layang di dinginnya dini hari
Di sini selalu dini hari:
ruang yang paling aman menafsir
dan membikin misteri
Aikmel, 2024
Awal Tahun di Pesisir Labuaji
Keasingan malam ini terlalu pekat
pesisir ini seperti diam sendiri
di antara orang-orang menyembunyikan kesedihan
dan pura-pura melihat tahun depan
Aku tiba-tiba sulit menerka diri sendiri
Ada perahu-perahu yang kalah, menyerah melabuh mengangkat bubuh
mengosongkan diri, sebab kehilangan cadik
dan kembali bersandar di atas pasir, tertidur panjang tanpa cerita
Masa lalu terkubur di kerindangan ilalang kepalaku
Aku ingin menjadi penyair arif, menulis tentang dermaga tua
tempat sepasang kekasih bercumbu
rela kehilangan cahaya, tertelan dalam hitamnya fatamorgana
Sederet kedai tumbuh dari bayang-bayang rencana
Kembang api sudah mulai habis
keinginan pun tumbuh sebagai sebuah tanda,
letusan-letusan pendek yang tunduk pada kegelapan
seperti kegagalan yang terhisap dalam kekosongan
Tidak ada kalimat yang tepat untuk malam singkat ini
ia sulit diterka kata-kata
Pesisir ini seperti mengutukku: aku larut ke dalam kebahagiaan mereka
Saat aku menafsirkan semuanya
angin tiba-tiba menderas seperti suara-suara petaka
Labuhan Haji, 2022
Di Taman Kota Selong
Di taman kota Selong,
masa lalu tumbuh jadi anak remaja yang terus terjaga
Ia sering duduk di bawah beringin,
dalam kegelapan
waktu membeku
Di luar bundaran tugu,
lampu-lampu kota
memerankan tokoh-tokoh humoris
dari semacam tragedi
Sementara itu, lampu remang-remang adalah mata kota,
sisa pelayaran dan peperangan yang belum padam dalam bayang-bayang
Bulan murung
dan langit mulai irit bintang
Sunyi masih merayakan diri sendiri
pada ingatan-ingatan
dari sepasang kekasih
yang sedang bergandengan tangan
Tidak ada cara untuk bisa menerka semuanya
kota ini hanya mengetahui dirinya sendiri
Di taman kota Selong,
Masa lalu tidak pernah tua
Ia selalu remaja
tidak tertidur untuk tetap ada di mana-mana
Selong, 2022
Pelayaran Selat Alas
Di pangkal musim hujan,
Selat Alas
sepanjang ingatan
seluas masa depan
Tapi dalam pelayaran, waktu cepat menua,
penumpang terlelap
di mata seorang perempuan
Mata yang melihat masa depan:
melihat nelayan dijaring masa silam
Ferry ini sampai
Selat Alas selesai;
para penumpang hilang,
mata perempuan itu terpejam
Mata yang melamunkan masa silam:
melihat masa depan yang dijaring nelayan
Sumbawa, 2023
Dinihari
Adakah kau lihat langit itu, nak?
sehening maut, mata paling asing bagi manusia
malam yang masih muda, dinginnya seperti usia yang menua
saat malam seperti ini, dalam keadaan buta
kita mencoba menafsirkan cahaya
Tidak ada yang bisa mendonga langit malam ini,
kemisikinan menundukkan kepala manusia
Hanya penyair yang bisa melihat langit malam ini, nak
kemiskinan membuat orang-orang tidak peka,
bahkan tidak tahu apa yang mereka bicarakan
Mata penyair itu,
mata yang selalu terjaga di antara angka-angka di nota hutang
Aku ingin masuk ke dalam tubuhmu, nak
sebab aku tidak ingin memahami segalanya
Di gendongan ayahnya, anak itu mendonga
bertanya-tanya, dari mana asal gelap itu, apakah malam atau mata ayahnya?
Tidurlah, tidurlah
Bermimpilah sebelum pagi tiba
Dengan lagu-lagu sendu
ia tertidur dalam jantung waktu
Rakam, 2022
BIODATA
Zajima Zan, berasal dan lahir di Aikmel, Lombok Timur. Karya-karyanya tersiar di beberapa media online dan media cetak. Aktif menulis di komunitas Rabu Langit, Lombok Timur. Sekarang sedang menjadi pengurus Perpustakaan di Desa Aikmel. Buku antologi puisi perdananya Panorama (Akarpohon, 2025).













