DENPASAR, Balipolitika.com– Pendidikan politik dan kesadaran demokrasi bagi generasi muda kini dibentuk secara nyata sejak dini di lingkungan sekolah.
Kegiatan Forum Diskusi Terpumpun (FDT) yang menginisiasi konsep Pemilihan OSIS (Pemilos) serentak bermanfaat untuk memberikan pembelajaran teknis kepemiluan yang nyata, menggeser cara berkampanye konvensional ke media digital yang ramah lingkungan, serta mengubah perilaku pemilih muda agar lebih bijak, objektif, dan tidak terpengaruh oleh praktik politik uang maupun sikap apatis (golput).
Ketua KPU Kabupaten Badung, I Gusti Ketut Gede Yusa Arsana Putra menyampaikan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk melahirkan konstruksi berpikir baru dalam pemilihan OSIS.
“Kami menyadari bahwa dalam kepemiluan, persentase terbesar jumlah pemilih diisi oleh kaum muda yang jumlahnya melebihi 50%. Dinamika politik dan pemilihan nantinya akan sangat berpengaruh terhadap suara pemilih muda,” ujar Yusa Arsana Putra.
Langkah ini dipandang sangat strategis mengingat potensi pemilih dari kalangan milenial dan Gen Z diperkirakan mencapai sekitar 64% pada Pemilu 2029 mendatang.
Anggota KPU Provinsi Bali, I Gede John Darmawan, menjelaskan bahwa pihaknya ingin membangun pola demokrasi dan pelaksanaan pemilihan yang secara pribadi mirip dengan pemilu sebenarnya.
“Pemilu tidak hanya soal kehadiran di TPS, namun secara kualitas juga menyangkut seberapa mampu pemilih menghargai dan memahami pentingnya hak pilih tersebut. Oleh karena itu, kami di KPU ingin mengajarkan tata cara pemilihan secara teknis agar pemilih pemula nantinya siap secara kualitas dan kuantitas untuk menyukseskan Pemilihan Tahun 2029,” ungkap I Gede John Darmawan.
Melalui simulasi dan tata cara pemilihan OSIS yang dirancang mendekati mekanisme pemilu sebenarnya, sekolah dapat difungsikan sebagai laboratorium demokrasi yang ideal guna melahirkan pemilih pemula yang cerdas.
Dalam pemaparannya, Anggota KPU Kabupaten Badung, Agung Rio Swandisara turut mengutip pandangan filsuf Plato untuk menekankan pentingnya membangun nalar kritis pemilih muda.
“Demokrasi akan runtuh apabila kita memilih pemimpin seperti memilih penyanyi favorit. Pemilihan OSIS serentak ini kami rancang untuk menghadirkan pendidikan pemilih dan mendekatkan proses demokrasi yang nyata di sekolah terlebih dahulu, agar nantinya melahirkan pemilih pemula yang siap menyalurkan hak pilihnya,” tegas Agung Rio Swandisara.
Ia menambahkan bahwa ketika pemilihan OSIS mampu menggeser paradigma dari penggunaan baliho ke media sosial.
Hal tersebut sekaligus dapat mengatasi permasalahan lingkungan dengan mengurangi metode konvensional berbahan plastik.
Berbagai masukan penting juga disampaikan oleh perwakilan sekolah dan instansi terkait selama diskusi berlangsung.
Isu yang dibahas mencakup penyelarasan jadwal kegiatan, kesiapan anggaran, serta penyediaan fasilitas dan dokumen kampanye yang inklusif bagi siswa penyandang disabilitas.
Selain itu, muncul pula saran agar proses pelantikan OSIS dapat dilakukan secara independen oleh Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga guna menjaga netralitas dari kepentingan politik praktis.
Forum mendiskusikan opsi pelaksanaan Pemilos serentak beserta Latihan Kepemimpinan (Latpim), baik untuk diterapkan pada tahun ini maupun tahun mendatang.
Sebagai tindak lanjut, peserta merumuskan kesepakatan untuk melakukan audiensi terlebih dahulu dengan Kepala Disdikpora Provinsi Bali guna mematangkan keputusan resmi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya.
Kegiatan Forum Diskusi Terpumpun bertajuk Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan Demokrasi dalam Pemilihan OSIS Tingkat SMA/SMK di Wilayah Kabupaten Badung ini diselenggarakan oleh KPU Kabupaten Badung pada Jumat, 24 Juli 2026 di Ruang Rapat Nayakottama, Gedung Graha Pemilu Alaya Giri Nata, Jalan Kebo Iwa No. 39, Denpasar. (bp/ken)













