SURABAYA, Balipolitika.com- Anomali cuaca berupa lonjakan suhu ekstrem kini tengah menerpa berbagai pelosok Indonesia sepanjang musim kemarau 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena udara panas ini dipicu oleh tingginya intensitas paparan sinar Matahari, kelembapan yang merosot tajam, serta minimnya tutupan awan di atmosfer. Mengingat periode kemarau kali ini diproyeksikan bakal berlangsung lebih panjang dan kering, ketergantungan masyarakat terhadap perangkat pendingin ruangan (Air Conditioner/AC) dilaporkan meningkat drastis.
Kondisi tersebut langsung memicu lonjakan permintaan unit pendingin udara di pasaran. Kendati demikian, publik diimbau tidak terburu-buru melakukan pembelian hanya tergiur iming-iming harga murah tanpa memperhitungkan spesifikasi teknis ruangan.
Pemerhati pendingin ruangan dari platform TerbaikAc.id, Dennis Sugijanto, membeberkan bahwa kesalahan umum konsumen saat ini adalah mengabaikan kesesuaian kapasitas pendinginan (British Thermal Unit/BTU) dan tingkat efisiensi konsumsi daya listrik.
Ia memaparkan bahwa pemakaian unit AC yang tidak seimbang dengan luas dan posisi ruangan—seperti lantai atas atau bawah—akan memaksa kompresor bekerja ekstra keras. Dampaknya, usia pakai komponen bisa merosot drastis dan memicu biaya tagihan listrik bulanan yang membengkak.
“Kami selalu merekomendasikan masyarakat untuk memprioritaskan AC berlabel ENERGY STAR,” tutur Dennis saat memberikan keterangan resminya, Sabtu (25/7/2026).
Skema label efisiensi tersebut, sambung Dennis, menjadi jaminan utama agar penggunaan pendingin udara secara terus-menerus selama musim panas tidak membakar kantong konsumen.
Di samping faktor efisiensi daya, ketersediaan layanan purnajual (after sales) dan kepraktisan instalasi wajib menjadi pertimbangan utama. Untuk ruang dengan keterbatasan bujet pasang, AC jenis Window dari Reiwa dapat menjadi opsi lantaran tidak memerlukan jalur pipa freon tambahan. Konsumen hanya perlu menyediakan celah pada dinding atau jendela.
Sementara itu, bagi masyarakat yang mengutamakan kepastian suku cadang jangka panjang, AC Split Wall Bestlife Seri DSC menawarkan jaminan kuat. Langkah produsen ini yang tancap gas mengucurkan investasi pabrik senilai Rp178 miliar di Indonesia dinilai menjadi bukti komitmen servis yang andal. “Keberanian mereka berinvestasi sebesar itu di Indonesia menjawab kekhawatirannya konsumen soal servis jangka panjang,” beber Dennis.
Pasaran elektronik tanah air juga menyuguhkan beragam fitur khusus. Changhong Seri Guardian NVS, misalnya, memboyong teknologi Baby Care Mode serta filter pemurni udara. Adapun pabrikan lokal Polytron melalui Seri Deluxe VH mengandalkan fitur auto cleaning dan jaringan pusat perbaikan terluas di Indonesia dengan harga di bawah Rp2,5 juta. Bagi masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir atau berpolusi tinggi, AC Midea Seri MSFT menjadi salah satu produk populer karena dibekali lapisan anti-karat goldfin dan garansi kompresor hingga 10 tahun.
Di akhir penjelasannya, Dennis mewanti-wanti agar proses pra-pemasangan tidak digarap secara asal-asalan. Kapasitas daya listrik rumah, kesiapan jalur perpipaan (ducting), serta penggunaan teknisi bersertifikat merupakan penentu utama agar unit pendingin dapat bekerja optimal dan tahan lama.
“Dengan persiapan matang dan pilihan AC yang tepat sesuai bujet serta fungsi, masyarakat bisa melewati musim kemarau ekstrem ini dengan nyaman tanpa cemas tagihan listrik membengkak,” pungkasnya. (BP/CHA).













