DENPASAR, Balipolitika.com– Industri jasa boga Pulau Dewata, Bali resmi memasuki babak baru menuju era efisiensi tinggi dan teknologi mutakhir.
Komitmen itu tampak dalam gelaran “Bali Live Cooking” yang diprakarsai DPD Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI) Bali di Ballroom Hotel Kartika Plaza, Kuta, Sabtu, 21 Februari 2026.
Ketua DPD APJI Bali, I Gusti Ayu Inda Trimafo Yudha menyebut “Bali Live Cooking” yang menjadi panggung deklarasi transformasi dapur profesional di Pulau Dewata ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem kuliner Bali dalam rangka mendukung program penguatan gizi nasional dan kemitraan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Dapur bukan lagi sekadar ruang produksi makanan, tetapi ruang strategis pembangunan kualitas generasi. Kami ingin organisasi ini benar-benar menjadi rumah bagi pemilik katering dan restoran agar lebih solid, profesional, dan bersertifikasi,” ucap Gek Inda– sapaan akrab I Gusti Ayu Inda Trimafo Yudha diwawancarai di lokasi acara, Sabtu, 21 Februari 2026 malam.
Efisiensi Tanpa Batas dengan Teknologi Jerman
Magnet utama “Bali Live Cooking” adalah kehadiran Rational Cooking Systems, produsen peralatan dapur asal Jerman yang telah berinovasi selama 53 tahun.
Melalui lini iCombi Pro dan iVario, Rational menawarkan solusi dapur cerdas yang mampu melakukan proses steaming, baking, roasting, hingga grilling secara otomatis.
Tommy Sutanto, Sales Director Rational Indonesia menjelaskan bahwa teknologi ini tidak bertujuan menggantikan peran chef, melainkan menjadi asisten pintar agar chef bisa fokus pada kreativitas resep.
“Sistem kami memonitor suhu dan kelembapan secara otomatis. Menariknya, jika dihitung berdasarkan masa pakai alat yang bisa mencapai 20 tahun, biaya investasinya tidak lebih dari harga satu gelas es kopi per hari,” ungkapnya.
Rantai Pasok Senilai Ratusan Miliar Rupiah
Transformasi teknologi ini didukung penuh oleh kekuatan distribusi dari PT Sukanda Djaya.
General Manager Sukanda Djaya, Nares Changsamlee membeberkan skala bisnis luar biasa yang menopang kebutuhan pangan Bali.
Ia merinci perputaran kategori daging impor di Bali mencapai lebih dari Rp100 miliar per bulan dengan serapan volume daging sapi impor mencapai kurang lebih 25 ton per bulan.
Terkait logistik, untuk mengelola 4.000 SKU produk, dibutuhkan dukungan 80 unit truk distribusi yang bergerak setiap hari ke seluruh pelosok Bali.
“Bali secara geografis kecil, tapi permintaannya luar biasa. Kami hadir untuk memastikan standar bahan baku, dari kualitas premium hingga ekonomis, tetap stabil di pasar,” kata Nares Changsamlee.
Dampak Domino bagi Petani Lokal
Modernisasi ini juga membawa angin segar bagi sektor hulu di Bali Utara di mana Gek Inda mencontohkan satu dapur kapasitas 3.000 porsi membutuhkan pasokan 3.000 butir telur setiap hari, belum termasuk beras dan sayuran.
“Hal ini secara otomatis mendorong kesejahteraan petani dan peternak lokal,” tandasnya.
Imbuhnya, saat ini, APJI Bali tengah melakukan pendataan dan persiapan sertifikasi bagi tenaga dapur di 10 hingga 15 titik dapur MBG yang mulai berjalan.
Proses sertifikasi yang memakan waktu hingga 15 bulan ini bertujuan menjamin standar higienitas dan keamanan pangan.
“Dengan sinergi antara teknologi Jerman, kekuatan distribusi Sukanda Djaya, dan visi strategis APJI, industri jasa boga Bali kini siap melompat ke level global, menciptakan standar baru yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan,” tegasnya. (bp/ken)













