ADA satu pengalaman yang terus tinggal dalam ingatan saya setelah menghadiri Madiun Batik Heritage Festival 2026. Malam itu saya mendapat kesempatan tampil bersama Yan N Co Orkestra memainkan biola dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-108 Kota Madiun. Dari fotonya terlihat sedikit pemain musik karena terbagi dua space, sisi kanan dan kiri panggung. Di sela-sela persiapan pertunjukan, saya menyempatkan diri berjalan mengelilingi stan-stan batik yang memenuhi Selasar Balai Kota Madiun. Saya melihat orang-orang berhenti di depan sehelai kain, memperhatikannya dengan saksama, lalu bertanya tentang motif, proses pembuatan, hingga makna yang terkandung di dalamnya. Saat itulah saya menyadari bahwa batik sesungguhnya bukan sekadar kain. Ia adalah bahasa yang digunakan sebuah masyarakat untuk menceritakan dirinya kepada dunia.
Festival bertema “Merajut Warisan, Menenun Masa Depan” tersebut memperlihatkan optimisme baru bagi perkembangan batik Kota Madiun. Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, bahkan mengapresiasi perkembangan batik Madiun yang dinilainya semakin kaya motif, semakin berani mengeksplorasi warna, dan memiliki peluang besar menjadi daya tarik wisata sebagaimana kuliner pecel yang telah lebih dahulu dikenal luas. Ia juga mengingatkan pentingnya regenerasi agar generasi muda tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga memahami nilai budaya yang dikandungnya.
Bagi saya, pesan itu terasa penting. Namun saya juga bertanya dalam hati: apakah yang sesungguhnya harus diwariskan kepada generasi muda? Apakah hanya teknik membatik? Ataukah cara membaca makna yang tersembunyi di balik setiap motif?
Pertanyaan itu menemukan jawabannya ketika saya berhenti di stan milik Ibu Siti Rowiyah, perajin Batik Fortuna dari Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun. Beliau memperlihatkan dua karya yang segera menarik perhatian saya, yakni Batik Motif Kangkung yang diciptakan pada tahun 2012 dan Batik Motif Madu Mongso yang mulai menjadi identitas khas Banjarejo sejak tahun 2022. Keduanya tidak menghadirkan bunga-bunga eksotis ataupun satwa langka sebagaimana lazim ditemukan pada banyak motif batik Nusantara. Sebaliknya, kedua motif tersebut justru lahir dari hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Motif Kangkung menghadirkan tanaman yang tumbuh tegak dengan daun-daun memanjang dan bunga berwarna kuning yang mekar di atas latar ungu. Secara visual, komposisinya sederhana, tetapi menyimpan ritme yang tenang dan elegan. Tanaman itu seolah terus tumbuh ke atas, menghadirkan kesan optimistis. Namun kekuatan motif ini bukan semata-mata terletak pada keindahan bentuknya, melainkan pada keberaniannya mengangkat sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Kangkung adalah sayuran rakyat. Ia tumbuh di sawah, di lahan basah, bahkan di tempat-tempat yang sering kali luput dari perhatian. Barangkali justru karena itulah ia menjadi lambang yang jujur tentang kehidupan masyarakat agraris. Dari tanaman sederhana ini kita belajar bahwa kebermanfaatan lebih penting daripada kemewahan. Kangkung mengajarkan ketangguhan karena mampu tumbuh di berbagai kondisi, mengajarkan kerendahan hati karena semakin subur semakin menundukkan daunnya, sekaligus mengingatkan manusia bahwa akar kehidupan selalu berhubungan dengan tanah tempat kita berpijak.
Sementara itu, Motif Madu Mongso membawa saya pada ingatan tentang aroma dapur, hajatan keluarga, dan suasana hari raya. Bentuk bungkus Madu Mongso disusun berulang di antara sulur-sulur tanaman sehingga tampak seperti buah yang bergelantungan. Pilihan visual ini sangat cerdas. Kuliner yang biasanya hanya hadir sebagai makanan berhasil diangkat menjadi bahasa visual yang penuh makna. Di balik motif itu tersimpan cerita tentang kesabaran, karena Madu Mongso dibuat melalui proses fermentasi dan pengolahan yang panjang. Tersimpan pula makna kebersamaan, sebab makanan tradisional ini hampir selalu hadir dalam peristiwa-peristiwa yang mempertemukan keluarga dan masyarakat. Batik akhirnya menjadi ruang yang mempertemukan cita rasa, ingatan, dan identitas dalam satu hamparan kain.
Di titik inilah saya memahami bahwa kekuatan sebuah batik sesungguhnya bukan terletak pada kerumitan motifnya, melainkan pada cerita yang dikandungnya. Motif dapat ditiru, warna dapat disalin, bahkan teknik membatik dapat dipelajari oleh siapa saja. Namun cerita yang lahir dari tanah tempat masyarakat hidup tidak dapat dipindahkan begitu saja. Cerita itulah yang membuat sebuah batik memiliki jiwa.
Pemikiran ini mengingatkan saya pada pandangan Ki Hadjar Dewantara yang mengatakan, “Kebudayaan adalah buah budi manusia dalam hidup bermasyarakat.” Kebudayaan tidak lahir di ruang kosong. Ia tumbuh dari pengalaman hidup, dari hubungan manusia dengan alam, dari tradisi yang diwariskan, dan dari cara suatu masyarakat memaknai kehidupannya. Karena itu, ketika kita berbicara tentang batik, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang hasil olah budi sebuah peradaban.
Kelurahan Banjarejo sendiri sesungguhnya memiliki modal budaya yang sangat besar untuk berkembang sebagai kawasan ekonomi kreatif berbasis warisan lokal. Masyarakat luas telah mengenalnya melalui kuliner Ayam Panggang Banjarejo yang menjadi tujuan wisata kuliner. Di sisi lain, berkembang pula perajin batik yang terus menggali identitas daerah melalui motif-motif khas. Potensi ini masih dapat diperkuat dengan mengangkat kekayaan budaya lain yang telah hidup di tengah masyarakat selama bergenerasi.
Salah satunya adalah keberadaan Punden Nyai Padmo Wiloyo beserta kawasan Punden Asem Gede Sedoro yang selama ini menjadi pusat tradisi Bersih Desa. Setiap tahun masyarakat berkumpul, berziarah, berdoa bersama, mengadakan kenduri, dan mengarak tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur. Tradisi seperti ini bukan sekadar serangkaian seremoni tahunan, melainkan memuat nilai gotong royong, penghormatan kepada sejarah lokal, serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan lingkungan sosialnya. Nilai-nilai inilah yang sebenarnya dapat menjadi sumber inspirasi tanpa harus kehilangan relevansinya di masa kini.
Dalam masyarakat Jawa, berbagai cerita rakyat, pantangan, maupun legenda sering kali menyertai tradisi tersebut. Sebagian orang menyebutnya mitos. Terlepas dari benar atau tidaknya secara historis, mitos memiliki fungsi penting sebagai media penyimpan pesan budaya. Ia bekerja melalui simbol, sehingga mudah diingat lintas generasi. Banyak nilai mengenai penghormatan terhadap alam, etika hidup bersama, dan kehati-hatian dalam bertindak diwariskan melalui kisah-kisah semacam itu. Oleh sebab itu, pendekatan yang bijaksana bukanlah mempertentangkan mitos dengan ilmu pengetahuan, melainkan memahami keduanya berada pada ranah yang berbeda. Sejarah bertugas menjelaskan fakta masa lampau berdasarkan bukti, agama membimbing kehidupan spiritual dan moral, sedangkan folklor atau mitos menyimpan imajinasi budaya serta nilai-nilai sosial yang membentuk identitas suatu masyarakat. Ketiganya dapat saling melengkapi apabila ditempatkan sesuai konteksnya.
Kesadaran inilah yang menurut saya perlu terus dibangun sebagai bagian dari literasi budaya. Di banyak negara, warisan budaya tidak hanya dipelihara sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga diolah menjadi sumber kreativitas. Tokoh-tokoh legenda, hewan mitologis, cerita rakyat, hingga simbol-simbol lokal dihadirkan kembali dalam bentuk batik, ilustrasi, desain produk, pertunjukan seni, film animasi, cendera mata, maupun berbagai karya ekonomi kreatif lainnya. Yang dipasarkan sesungguhnya bukan benda semata, melainkan pengalaman budaya yang menyertainya.
Mungkin sudah saatnya kita melihat batik dengan cara pandang yang lebih luas. Batik bukan produk akhir. Batik adalah pintu masuk. Dari sehelai kain kita dapat mengenal kuliner, mengenal sejarah kampung, mengenal tradisi masyarakat, mengenal lanskap alam, bahkan mengenal cara suatu komunitas membangun hubungan dengan lingkungannya. Semakin kaya cerita yang mampu kita hadirkan, semakin kuat pula identitas budaya yang kita bangun.
Karena itu, saya percaya bahwa masa depan batik Madiun tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan motif-motif baru, tetapi juga pada kemampuan masyarakat merawat cerita yang melahirkannya. Motif Kangkung dan Motif Madu Mongso karya Ibu Siti Rowiyah telah menunjukkan bahwa inspirasi terbesar tidak selalu datang dari sesuatu yang megah. Ia justru tumbuh dari sayuran yang akrab di meja makan, dari kudapan tradisional yang menemani kebersamaan keluarga, dan dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang selama ini mungkin kita anggap terlalu biasa untuk diceritakan. Di tangan seorang perajin, hal-hal sederhana itu berubah menjadi identitas yang bernilai budaya sekaligus bernilai ekonomi.
Ketika malam semakin larut dan alunan musik kembali memenuhi panggung Madiun Batik Heritage Festival, saya kembali memandangi hamparan batik yang bergoyang pelan tertiup angin. Saya merasa seolah setiap motif sedang berbicara dengan bahasanya sendiri. Ada yang berkisah tentang tanah, ada yang berkisah tentang dapur, ada yang berkisah tentang kerja keras, dan ada pula yang berkisah tentang harapan.
Barangkali, pada akhirnya, tugas terbesar kita bukan hanya melestarikan batik. Tugas yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa generasi mendatang masih mampu membaca cerita yang ditulis oleh leluhurnya di atas sehelai kain. Sebab ketika sebuah masyarakat kehilangan kemampuan membaca budayanya sendiri, yang hilang bukan sekadar motif atau tradisi, melainkan arah untuk memahami siapa dirinya. Dan bukankah sebuah peradaban yang besar selalu dimulai dari masyarakat yang mengenal akar budayanya, lalu dengan percaya diri menenunnya menjadi masa depan. (*)Â













