MUNGKIN ADA
h.a
Mungkin ada yang mengendap. Di suatu malam. Saat rimis tiba. Menjengukmu. Saat engkau tertidur. Dan kata-kata itu tersusun. Dalam mimpimu. Tentang ia menjejakkan kakinya. Di tanah basah. Di halaman rumah.
Mungkin ada yang menjengukmu. Di dalam mimpi. Saat engkau coba menyusun kata-kata. Seperti malam itu. Engkau demikian merasa ada yang melintas di tengah rimis.
Mungkin ada yang menulis. Menyusun mimpi-mimpi. Di suatu malam. Setelah menjenguk ke dalam tidurmu.
Mungkin engkau pun menulis suatu ketika. Tentang jejak di tanah basah. Tentang Aku yang menjengukmu. Di dalam puisi itu.
DONGENG IMPIAN YANG DIHANCURKAN
Telah kuhancurkan bangunan dalam diriku, hancur berkeping, menjadi puing berserak. Debu beterbangan melilipi matamu. Engkau menangis. Ah, sayangku aku mendengar ada yang menangis demikian pilu. Airmata mengalir menyungai menganak pinak mencari muara. Melautlah kesedihan. Melautlah!
Aku menggambar lautan, tanpa ada gelombang dan badai di situ. Karena engkau tak menyukai gemuruh ributnya. Karena seperti kau ingat runtuhnya bangunan dalam diriku. Ah, sayangku, seperti kudengar engkau menangis pilu. Airmata mengalir menyungai menganak pinak mencari muara. Melautlah kesedihan. Melautlah!
Lalu aku menggambar mercu suar. Engkau tertawa, dan memberinya cahaya, terang sekali. Seperti cahaya dari matamu dulu. Menerang. Nyalakan suar itu, sayangku. Nyalakan. Agar kulihat dirimu. Melambaikan senyum. Kan kubangun kembali segala impian: Bangunan yang telah kuhancurkan dalam diriku!
HINGGA MIMPIMU MENJELMA JADI LEDAKAN
Hingga mimpi-mimpimu menjelma jadi ledakan. Dalam hitam kelam lubang dikuburkan segala harap. Bergegaslah mencari jam-jam yang akan membunuhmu pelan dan menyakitkan. Demikian gerutu tersampai lewat tengah malam. Seperti bual digelembungkan mulut. Meletus tinggal kosong.
Di rahim waktu engkau menggeliat. Seperti pemberontakan mula-mula. Tiada akhir. Tiada akhir. Mata jalang. Liar. Ingin terkam. Ingin terkam. Tikam sedalam. Hingga tumpas segala rindu dendam.
Berputarlah oi, berputar. Mencari jejak-jejak sendiri. Pupus oleh sepi. Atau airmata. Kau simpan diam-diam. Sekotak bom bertiktak jamnya.
Ah, engkau. demi cinta, katamu, kusimpan mimpi di sini.
PEREMPUAN PAGI BERWAJAH PUISI
aku merindukanmu, katamu, pada pagi di mana puisi meronta meluncur mendesak menghancur melumat memabukanku. dengan terbata kubaca sepi di wajahmu yang puisi. o, ribuan cahaya. berangkat dari pelupuk mata.
aku merindukanmu, katamu, seperti sepi yang menikam menghunjam menyayat menyadap seluruh tubuh. o, ribuan duka. berangkat dari
aku merindukanmu, katamu, pada hari yang senyap, tak ada bunyi memecah dinihari, pagi di mana gelisahku sampai pada wajahmu. puisi
MASIHKAH TERSIMPAN AIRMATA
Masihkah tersisa airmata. Bagi kesedihanmu lain kali. Ataukah telah habis. Tinggal pias wajah dan niat bunuh diri. Yang telah coba kau lupakan. Yang telah coba kau singkirkan.
Telah ditelusur peta demi peta. Perjalanan menemu cinta. Berbekal airmata. Berbekal keluh kesah. Tak pernah kau temui juga. Dimana cinta. Dimana.
Masihkah tersisa airmata. Bagi kebahagiaanmu lain kali. Ataukah telah habis. Tinggal diri merutuki nasib sendiri. Sebagai habis harap. Dihisap rebak dada.
Masihkah tersisa airmata. Untuk berdiam. Merenung sejenak. Menerjemah segala kehendak-Nya.
HANYA ENGKAU HANYA
Telah diserahterimakan. Seluruh nasib. Ke dalam genggaman. Biarlah segala menghambur. Menujumu. Sebagai serpih. Debu yang memburu. Menyeru ngilu. Demikian diri terlunta. Pada tatapmu. Tak berdaya diri. Tak
Hanya engkau. Hanya. Menggelisahkan aku. Dengan sepenuh rahasia kehendak Dan aku? Terhisap ke dalam tubir. Gelegak. Lumpur api. Marahmu. Tak berdaya diri. Tak.
Terlontar aku. Terjerembab. Dalam takut gundahku. Menatap wajahmu.
BIODATA
Nanang Suryadi, lahir di Pulomerak, Serang, 8 Juli 1973. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media cetak dan online. Buku tunggalnya, antara lain Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis (MSI, 1999), Telah Dialamatkan Padamu (Dewata Publishing, 2002), Tiga Kumpulan Puisi: Cinta, Rindu & Orang-Orang yang Menyimpan Api dalam Kepalanya (2010), 1000 Lebih Puisi (2025).










