TABANAN, Balipolitika.com– Sepuluh aktor monolog akan melaju ke babak final Lomba Monolog se-Indonesia 2026 di Tabanan, Bali.
Menarik perhatian para pegiat teater tanah air, lomba berhadiah total Rp19 juta ini digelar oleh Tegalmengkeb Art Space bekerja sama dengan Pesraman Kayu Manis dan Luh Luwih Foundation.
Lomba monolog ini digagas oleh Pendiri Tegalmengkeb Art Space sekaligus Pinisepuh Pesraman Kayu Manis, Mahaprabhu Prahlada Pandya.
Ia mengatakan lomba monolog ini penting untuk menularkan kecintaan pada teater kepada generasi muda maupun masyarakat luas.
“Lomba ini sebagai ajang untuk menampilkan kemampuan akting yang muncul dari kedalaman batin para aktor. Para peserta ditantang untuk menafsirkan dan mementaskan naskah yang dipilih lewat seni monolog,” ujar Mahaprabhu Prahlada Pandya.
Pengumuman lomba monolog ini dipublikasikan pada 10 April 2026 dan kuota peserta dibatasi maksimal 35 orang.
Setiap peserta yang terdaftar diwajibkan mengirimkan link video pementasan monolognya kepada panitia.
“Yang tertarik dengan lomba ini sangat banyak. Namun, dengan pertimbangan tertentu, kami membatasi jumlah peserta hanya 35 orang,” ujar Ketua Panitia, I Gede Astika.
Dalam lomba monolog kali ini, panitia menyediakan lima naskah yang bisa dipilih oleh peserta.
Lima naskah tersebut adalah “Tolong” karya N. Riantiarno, “Balada Sumarah” karya Tentrem Lestari, “Aeng/Alimin” karya Putu Wijaya, “Kasir Kita” karya Arifin C. Noer, dan “Pidato” karya Putu Fajar Arcana.
Hingga batas waktu pengiriman video pada 5 Juni 2026, panitia hanya menerima 18 video monolog.
Para peserta berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Bengkulu.
Keberagaman daerah asal peserta menunjukkan bahwa seni monolog masih hidup dan terus berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
Namun ada satu fakta yang cukup mengejutkan. Meski babak final akan digelar di Bali, justru tidak ada satu pun peserta yang berasal dari Pulau Dewata.
Ini menjadi ironi sekaligus tantangan bagi dunia teater Bali. Ketika peserta dari berbagai daerah di Indonesia begitu antusias mengikuti lomba ini, justru tidak ada wakil dari Bali yang berpartisipasi.
Sepuluh Finalis
Menentukan sepuluh finalis dari delapan belas peserta ternyata bukan perkara mudah. Tiga orang juri yang ditunjuk untuk menilai lomba ini menonton seluruh video peserta secara independen.
Pada saat rapat dewan juri yang diadakan tanggal 10 Juni 2026, setiap juri mengajukan sepuluh pilihan terbaiknya berdasarkan kriteria penilaian yang telah ditetapkan.
Setelah pilihan masing-masing juri dicocokkan, terdapat enam peserta yang dipilih oleh tiga juri. Enam peserta tersebut otomatis melaju ke babak final.
Persaingan justru terjadi pada peserta yang dipilih oleh dua juri atau hanya satu juri, untuk mendapatkan empat finalis lainnya.
Dalam tahap ini, dewan juri melakukan diskusi panjang. Mulai dari membahas penafsiran naskah, kemampuan akting peserta dan berbagai aspek pementasan, menimbang kelebihan dan kekurangan masing-masing penampilan, bahkan menonton ulang sejumlah video yang dianggap memiliki kekuatan berimbang.
Setelah melalui proses yang cukup intens, akhirnya Dewan Juri berhasil memutuskan dan menetapkan sepuluh finalis yang berhak melangkah ke babak final.
Sepuluh finalis yang akan tampil langsung di Tegalmengkeb Art Space adalah Andini Fintan Maulani (Tasikmalaya, Jawa Barat), Antung Dena Norkhali (Banjarbaru, Kalimantan Selatan), Apriyanti Wello (Sumba, NTT), Brilyana Lailin (Surakarta, Jawa Tengah), Dini Juniarti (Bengkulu), Kurnia S. Wulansari (Temanggung, Jawa Tengah), Muh. Syafa’at (Palu, Sulawesi Tengah), Nita Mulyanti (Tasikmalaya, Jawa Barat), Ratih Ayu Puspitasari (Solo, Jawa Tengah), dan Rika R. Johara (Tasikmalaya, Jawa Barat).
Komposisi finalis menunjukkan dominasi peserta dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Tasikmalaya (Jawa Barat) bahkan berhasil meloloskan tiga wakilnya ke babak final, menjadikan kota tersebut sebagai daerah dengan jumlah finalis terbanyak dalam kompetisi tahun ini.
Sementara itu, kehadiran finalis dari Palu, Banjarbaru, Sumba, dan Bengkulu memperlihatkan bahwa semangat berkesenian tidak hanya terpusat di kota-kota besar Pulau Jawa.
Babak Final
Babak final akan digelar secara langsung pada Rabu, 24 Juni 2026, mulai pukul 09.00 Wita hingga selesai di Tegalmengkeb Art Space, Desa Tegalmengkeb, Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, Bali.
Dalam babak final tersebut, para finalis akan kembali membawakan naskah yang telah mereka tampilkan lewat video. Mereka akan memperebutkan gelar Juara I, II, III, serta tujuh Juara Harapan. Selain hadiah uang tunai, para pemenang juga akan memperoleh piala dan piagam penghargaan.
Menilai Aktor
Salah satu keunikan lomba ini adalah fokus penilaiannya yang sepenuhnya diarahkan pada kualitas aktor. Dewan juri tidak memasukkan tata lampu, tata rias, kostum, properti, maupun musik sebagai unsur penilaian. Yang menjadi perhatian utama Dewan Juri adalah bagaimana seorang pemain mampu menghidupkan naskah dan membangun komunikasi emosional dengan penonton.
Aspek yang dinilai meliputi ketepatan tafsir naskah, kemampuan menyampaikan pesan, kualitas akting, kejelasan karakter, penghayatan, struktur emosi, vokal, ekspresi, gestur, struktur dramatik, hingga totalitas penampilan. Dengan kriteria penilaian seperti ini membuat setiap peserta memiliki kesempatan yang sama, tanpa bergantung pada fasilitas produksi atau kemewahan teknis yang dimiliki.
Profil Juri
Lomba monolog ini dinilai oleh tiga juri yang telah lama berkecimpung dalam dunia teater. Para juri tersebut adalah Dewa Jayendra, Muda Wijaya, dan Wayan Jengki Sunarta.
Dewa Jayendra, lahir di Denpasar, 30 Juni 1967. Pertama kali naik pentas pada 17 Agustus 1982 untuk pentas agustusan. Tahun 1988, bergabung dengan Teater Tanah Air dan Bengkel Deklamasi Jakarta pimpinan Jose Rizal Manua. Tahun 1989 kuliah di Fakultas Teater IKJ jurusan penyutradaraan. Tahun 1989 s/d 1991 mendukung pentas beberapa kelompok teater Satu Merah Panggung Jakarta pimpinan Ratna Sarumpaet di Gedung Kesenian Jakarta dengan lakon “Othello” Karya Shakespeare. Pentas bersama Sene Didi Mime pimpinan Sena A Utoyo (alm) dan Didi Petet Di JCC, bersama Lab 59 Jakarta mementaskan Musikalisasi di beberapa gelanggang remaja Jakarta. Tahun 1992 s/d 1995 hijrah ke Bali bergabung dengan Sanggar Putih, pimpinan Kadek Suardana (alm), mementaskan karya William Shakespeare “Macbeth” dalam versi arja dan gambuh. Membina dan mendirikan teater sekolah seperti Teater Tiga SMAN 3 Denpasar, Teater Topeng SMAN 2 Denpasar, dan Teater Antariksa SMAN 7 Denpasar.
Dewa Jayendra menjadi aktor terbaik dan sutradara terbaik Festival Teater se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Teater Mandiri Jakarta pimpinan Putu Wijaya dengan membawakan lakon “Abrasi” karya Putu Wijaya di gedung Indonesia Kaya, Jakarta. Finalis Lomba Baca Puisi se-Indonesia Piala HB Jassin di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Bermain di berbagai sinetron dan film layar lebar seperti “Rumah Bunga” sutradara C C Febriono dibintangi oleh Cut Tari, “Sukreni Gadis Bali” sutradara H. Maman Firmansyah, dibintangi oleh Nike Ardila (alm), “Api Cinta Antonia Blanco” sutradara Rima Melati, “Forever Holiday In Bali” Korea Film dan beberapa judul sinetron TVRI Bali. Tahun 1995 s/d 1997 diundang oleh Gubernur Kalimantan Barat, Bapak Aspar Aswin untuk pementasan kolosal “Sejarah Perjuangan Borneo” sebagai astrada. Pentas keliling Jakarta, Bandung Solo bersama Teater Satu Merah Panggung lakon “Terpasung” naskah/sutradara Ratna Sarumpaet. Tahun 1998 s/d 2024 beberapa kali sebagai narasumber acara workshop keaktoran, stage manager, dan manajemen teater. Menyutradarai dan menulis beberapa pentas panggung pada ajang Mahalango, Bali Mandara Nawanatya, Pesta Kesenian Bali. Mendapat penghargaan “Kertih Bhuana Sandhi Nugraha” dari Gubernur Bali, Bapak Wayan Koster. Sempat mengajar acting class di beberapa tempat, Central Artis Manajemen (CAM) pimpinan Teguh Julianto dan di Bali Acting. Mendirikan Lab Study Teater Bali sampai sekarang dan Korda Bali Yayasan Pelaku Teater Indonesia.
Muda Wijaya lahir di Dusun Kecicang Islam, Karangasem, Bali, 1974. Pengalaman berteaternya cukup panjang. Pada awal tahun 2000-an, bersama Teater GOT, ia mementaskan teatrikalisasi puisi “Tanah Air Mata” karya Sutardji Calzoum Bachri, monolog “Sembahyang Kamar Mandi”, pentas “Retak” karyanya sendiri, “Dalam Dunia Diam” karya Eksa Agung Wijaya. Tahun 2004, bersama Teater Tanah Air-Bali, ia mementaskan “Odipus Sang Raja” karya Sophocles. Bersama Kelompok 108, ia mementaskan “Death Of Salesman” tahun 2005 di Taman Budaya Bali dan Graha Bakti Budaya, TIM, Jakarta dalam Festival Panggung Realis Indonesia. Tahun 2006, ia bersama Teater Bumi memainkan “Kisah Cinta dan lain-lain” di Taman Budaya Bali.
Selain menjadi pemain teater, Muda Wijaya juga sering menyutradarai pementasan teater dan menjadi pelatih di Teater LIMAS. Tahun 2010 ia menjadi sutradara pementasan “Orang Kasar” karya Anton Chekov yang dipentaskan oleh Teater Sastra Welang. Menyutradarai street teater Reportoar Catur Muka bersama Teater Limas, 2011. Tahun 2017, ia mementaskan monolog “Memek” karya Putu Wijaya dalam “Parade 100 Monolog Putu Wijaya”. Ia juga mementaskan monolog “Pak Mong” pada Festival Seni Bali Jani III 2022, monolog “Lelaki yang Mengigau” pada Festival Seni Bali Jani IV 2023. Ia tampil dalam pementasan “BoBe” bersama Teater Agustus pada Festival Seni Bali Jani V 2023, “RAIB” bersama Teater Agustus pada Festival Seni Bali Jani VI 2024.
Wayan Jengki Sunarta, lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Selama ini ia dikenal sebagai penyair. Namun, sejak mahasiswa ia adalah aktivis teater. Tahun 1996 ia bersama beberapa temannya mendirikan “Sanggar Purbacaraka” di Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Ikut mendampingi kelahiran “Teater Orok” Universitas Udayana pada 1998/1999. Pada tahun 1999, ia turut menggagas dan mendirikan “Kelompok Pecinta Sastra & Teater” di bawah naungan Komunitas Warung Budaya, dan menghadiri Pertemuan Teater se-Indonesia di Yogyakarta. Ia mengikuti workshop teater dengan tutor WS Rendra serangkaian “Festival Mileniart” di Tirtagangga, Karangasem, Bali, 1999. Selain itu, ia sering menulis ulasan/kritik pementasan teater di koran Bali Post. Ia juga pernah melatih sastra dan teater di beberapa SMA di Denpasar.
Pada tahun 2003, naskah monolognya yang berjudul “Jimat Tikus” masuk nominee Lomba Penulisan Naskah Monolog Tingkat Nasional “Anti Budaya Korupsi” yang digelar Majalah Tempo dan dibukukan dalam “Sphinx Triple X” (Sinergi, 2004). Tahun 2014, ia menjadi aktor dalam film pendek “Denpasar 2093” produksi Kanaka Films, Denpasar. Tahun 2017, ia meraih Juara Harapan Lomba Cipta Naskah Drama Modern dalam rangka Bali Mandara Nawanatya yang digelar Dinas Kebudayaan Bali. Berkolaborasi dengan Teater Takhta SMK Saraswati 1 Denpasar, ia menampilkan teatrikalisasi puisi “Yanwa Tanarsu” dalam Festival Seni Bali Jani yang digelar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali di Taman Budaya Bali tahun 2019. Tahun 2020, bersama Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP), ia tampil dalam dramatisasi puisi digital bertajuk “Menyabung Nyawa” yang difasilitasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, juga tampil dalam pementasan teater virtual berjudul “Pawisik” serangkaian Festival Seni Bali Jani II yang digelar Dinas Kebudayaan Bali. Tahun 2021, ia menjadi Pemimpin Produksi (Pimpro) Pagelaran Seni “Tribute to Umbu Landu Paranggi” dalam rangka Festival Seni Bali Jani III di Taman Budaya Bali. Selain itu, ia beberapa kali tampil kolaborasi teatrikalisasi puisi dan performance art bersama seniman lain di acara-acara kesenian di Bali. (bp/ken)










