aku bodoh maka aku bakar
dengan senjata laras panjang menggantung di pinggang, lelaki berbaju loreng itu maju menantang. “diam, kalian. atau rumah ini kami hancurkan!”
kekuasaan membuat orang mabuk kepayang. namun, lelaki berbaju loreng tak hanya teler, tetapi juga merasa sakti bukan kepalang. dibukanya baju setengah telanjang.
“kumpulkan semua yang kalian baca!” dia berteriak dengan amarah menyala.
semua buku dia kumpulkan. dia robek lembar demi lembar. satu per satu dia bakar. api menyala serupa amarahnya. menyambar buku-buku. rak demi rak. dinding demi dinding.
api berkobar. asap menguar. panas menggelegar. lelaki berbaju loreng meloncat ke dalamnya. dia ingin membunuh kebodohan dalam dirinya.
bos
tiap hari, si bos cuma menghitung duit. sambil duduk di depan kantor, dia akan berlagak seperti wasit. prat prit prat prit.
selesai menghitung duit, dia akan duduk di depan tivi. mulutnya monyong ke depan sementara tangannya sibuk menggaruk pantat tanpa henti.
satu lagi. dia suka pamer perutnya yang gendut. dia bilang seksi. padahal menjijikkan sekali.
si bos suka pamer kuasa. tak peduli siapa pun yang bicara, dia akan merasa lebih punya banyak kata-kata. dia umbar. apalagi kalau di depan perempuan.
ah, dia gak cuma suka pamer kuasa, dia juga setengah gila. ke mana-mana suka bawa peluit. prat prit prat prit. kalau ditegur, dia akan membunyikan peluitnya lebih keras lagi.
ada yang lucu. dia pernah ditilang polisi karena lupa bawa helm. begitu dia diajak ke pinggir jalan, dia langsung mengeluarkan peluit dan meniup sekeras-kerasnya.
polisi membebaskan si bos. alasannya, hukum tak berlaku bagi orang gila.
hari ini si bos tidak masuk kantor. anak buahnya senang bukan kepalang. apalagi mereka boleh tidak masuk kerja selama menjenguk si bos di rumahnya.
di rumahnya, si bos lebih banyak duduk di rumah ketika sakit. ketika anak buahnya tiba, si bos tak lagi bisa meniup peluit. prat prit prat prit hari ini berganti suara lebih menjijikkan dari pantat si bos, prat pret prat pret!
tukang kibul
jadi begini, tuan. berbicara sesukanya adalah kebebasan.
maka membuallah semau tuan. sesuka-suka tuan.
tuan bebas berbicara tentang ketidakadilan. tuan boleh bebas menjanjikan kesejahteraan. tuan juga bebas membual tentang kemakmuran atas nama orang-orang yang tuan sendiri bahkan tidak kenal.
atas nama kebebasan, kami izinkan tuan berbicara sepuas tuan.
namun, kami pun bebas memuntahkan janji-janji yang tuan sampaikan. daripada kami ambil sepatu dan menyumpalkannya ke mulut tuan-tuan bukan?
lelaki buta paruh baya
lelaki paruh baya itu tak bisa baca aksara maupun tanda-tanda
dia tak pernah sekolah
tidak juga pernah bertirakat agar mahir membaca firasat atau kalimat yang tersirat
dia hanya tahu tiga hal: bekerja, bekerja, dan bekerja
dia tak ingin anaknya menjadi buta aksara dan tanda, seperti dia
begitulah kemudian setiap hari dia menghabiskan waktunya
subuh
ketika orang lain sedang asyik bercumbu dengan mimpi, pasangan, ataupun kegalauannya, lelaki paruh baya itu sudah mengelana ke sudut-sudut kota memungut sampah demi sampah
juga menerima umpatan, kecurigaan, dan serapah demi serapah
laki-laki itu tidak pernah kalah
oleh tatapan curiga atau sesekali caci maki orang-orang kalah karena ketakutan mereka sendiri, lelaki paruh baya itu bukan memungut sampah tapi mau mencuri.
laki-laki itu tidak bisa membaca, aksara ataupun tanda-tanda
maka, dia cuek masuk ke gang meski di depan ada tulisan besar-besar, “Pemulung Dilarang Masuk!” dengan warna huruf merah disertai tanda silang pada gambar pemulung membawa gerobak
laki-laki itu tidak bisa membaca, yang tersurat ataupun yang tersirat
maka, dia diam saja ketika pada sebuah pagi seorang petugas keamanan membentaknya lalu membongkar gerobak tua yang sudah menemaninya selama ratusan purnama
petugas keamanan itu memaki-maki dalam bahasa yang tak dimengerti si lelaki paruh baya
si petugas keamanan kemudian menendang gerobak si lelaki paruh baya
api seperti dinyalakan pada subuh pagi itu
membakar harga diri, kemewahan diri yang telah lama padam
dalam diam, dia kemudian menyiapkan pembalasan..
pemberi harapan palsu
perempuan dekil itu datang dengan harapan sederhana.
dia ingin mendapatkan jatah makan siang atau malah syukur-syukur pembagian uang. demi harapan itu, dia rela berdesak-desakan di antara ribuan orang bersama anak kecilnya.
tak peduli terik matahari, dia berdiri tengah hari. panas matahari membakar harapannya yang kian tinggi.
di panggung, seorang ibu seumurnya, dengan tubuh tambun dan tahi lalat di wajahnya berteriak. massa menyambutnya gegap gempita. “merdekaaaa!”
perempuan itu menahan lapar dan dahaga. massa beringas di sekitarnya.
ibu di panggung terus berkata. tentang kesejahteraan untuk wong cilik.
perempuan itu kian lapar. makanan dan minuman yang dia tunggu tak juga dibagikan. dia kemudian pulang.
sepanjang jalan, cacing di perutnya menyanyikan lagu-lagu berirama kelaparan. anaknya menangis tak berkesudahan.
aparat
tak usah kau tanyakan nasionalisme pak aparat
sebagai pegawai negara, dia selalu kerja sigap dan tepat
apapun perintahnya, dia akan selalu menjawab cepat, siaaaap!
tiap pukul 10 pagi, dia akan berdiri tegap
melantangkan lagu kebangsaan dengan hati penuh gegap
sekali waktu, karena terlalu semangat, dia sampai megap-megap
tak usah diperdebatkan
atas nama nusa dan bangsa, pak aparat senantiasa siap berdiri di depan
pukul 8 tepat, paling pertama duduk manis di ruangan
bukan untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi lari dari kenyataan
pengabdian pada negara, baginya adalah pelarian
melupakan anak-anak yang minta SPP segera dibayar
mengabaikan ocehan istri yang tak bisa melunasi utang di pasar
pukul delapan malam lewat seperempat
malam sudah lewat
bos pak aparat datang dengan perut mulus bulat seperti tomat
“kau lembur malam ini, banyak pekerjaan kelewat tenggat”
“bangsaaaaat!”
bapak aparat yang terhormat hanya memendam keinginan untuk mengumpat
dengan muka penat, dia menggaruk pantat
di kursinya, seekor kepinding merayap lambat
setelah menghisap darahnya dalam remang malam yang kian pekat
BIODATA
Anton Muhajir, jurnalis lepas, blogger, editor, dan pegiat literasi digital. Sesekali menulis prosa dan puisi sejak masih SMA, tetapi hanya untuk disimpan dan dibaca sendiri dalam sepi.










