SAYA sedih mendengar bahwa nilai TKA Matematika dan matpel lainnya di Indonesia “terjun bebas” di akhir 2025 serta IQ rata-rata menurun ke 78,49 (Studi Lynn & Becker) yang menempatkan Indonesia di peringkat bawah global (130 dari 199 negara).
Padahal justru pendidikan ilmu eksak seperti matematikalah yang diutamakan untuk diajarkan di sekolah. Mata pelajaran seperti seni terutama musik dikurangi atau dihilangkan. Siswa menginternalisasi pesan bahwa prestasi mereka diukur dengan angka, dan banyak hal hanya terbagi menjadi benar atau salah, tidak seperti di dalam seni dimana satu karya bisa diinterpretasikan dengan berbagai cara, dan semuanya bisa saja benar ; inilah kecerdasan yang autentik.
Bagi saya, pendidikan anak adalah untuk menciptakan manusia seutuhnya, bukan untuk mencetak tenaga kerja yang ahli.
Penulis dan wartawan Mochtar Lubis merumuskan 6 karakter Manusia Indonesia di pidato kebudayaannya pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Keenam sifat tersebut adalah: (1) munafik, (2) enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya, (3) bersifat dan berperilaku feodal, (4) percaya takhayul, (5) artistik atau berbakat seni, (6) lemah watak atau karakternya.
Nah, itu menjelaskan tingginya nilai artistik orang Indonesia, tapi sifat ke-6 justru kontraproduktif dengan bakat yang dimilikinya (point ke-5) sehingga kebanyakan gagal meniti karir sebagai seniman. Saya mau menambahkan dua sifat lagi yang pada saat Mochtar Lubis masih hidup belum ada media sosial, menurut pengamatan saya pribadi.
- Manusia Indonesia itu lebih percaya dengan orang bule daripada orang Indonesia. Memang manusia cenderung menganggap ras lain lebih ganteng dan cantik, sama seperti para bule menganggap kita yang berkulit sawo matang ini lebih ganteng dan cantik, tapi bedanya adalah para bule hanya terbatas “naksir” kita secara fisik, tapi mereka tetap bisa obyektif dalam menilai intelektualitas kita.
- Jika dihadapkan kepada dua orang: seorang influencer (atau siapa pun yang memiliki followers banyak) dan seorang pemenang Hadiah Nobel (yang seringkali bahkan tidak punya akun media sosial), manusia Indonesia lebih percaya kepada omongan sang influencer. Ini saya alami sendiri, di musik klasik sekarang ada juga influencers yang bahkan hanya les piano (atau kuliah tapi tidak selesai) dengan pengetahuan musik dan seninya sangat terbatas, tapi influencers ini cukup populer. Bahkan banyak orang tua murid bahkan mitra penyelenggara kompetisi yang meminta saya untuk mengundang influencers itu menjadi juri di kompetisi yang saya dirikan, Kompetisi Piano Nusantara Plus (yang memang lebih “ramah” daripada Ananda Sukarlan Award yang memang jauh lebih eksklusif dan tangguh). Padahal saya hanya mau mengundang musikus yang sudah lulus kuliah musik untuk menjuri mendampingi saya.
Sekarang saya ingin meneliti lebih lanjut: jika disuruh memilih antara orang bule atau orang Indonesia tapi followersnya banyak, mana yang omongannya lebih dipercaya?
Pendidikan yang dibutuhkan untuk menjadi manusia yang beradab, buat saya, hanya 3 hal, dan itu di kurikulum di Indonesia justru kurang dilatih, yaitu: (1) belajar antre, (2) belajar tidak mengambil barang/uang yang bukan haknya, (3) belajar tidak membuang sampah sembarangan.
Semua masalah di Indonesia saat ini berakar dari kombinasi tiga point di atas yang membentuk –atau merusak – karakter. Banjir dan longsor di berbagai tempat saat ini adalah hasil kombinasi point 2 dan 3. Dan yang paling penting: point 3 menjadi lebih epic lagi fail-nya: ada sampah lain yang bukannya dibuang tapi diberi kekuasaan!
Sistem pendidikan publik tradisional, yang dibangun di atas kurikulum standar, jadwal yang kaku, ujian dan metode pengajaran yang seragam, semakin bertentangan dengan apa yang kita ketahui tentang pembelajaran manusia, perkembangan anak, dan kesehatan mental. Jauh dari memupuk keingintahuan anak-anak, banyak sekolah malah secara tidak sengaja membahayakan kesejahteraan psikologis, emosional, dan bahkan fisik siswa.
Pertama, struktur sekolah model pabrik memperlakukan anak-anak sebagai sumber tenaga kerja, semacam robot yang bernafas oksigen, bukan manusia dengan akal budi dan hati nurani. Siswa dikelompokkan berdasarkan usia daripada kemampuan atau minat, dipaksa untuk duduk diam selama enam hingga delapan jam sehari, dan dipindahkan dari kelas ke kelas sesuai jadwal bel. Semuanya berdasarkan sistem penyeragaman, padahal untuk manusia harusnya satu-satunya keseragaman adalah keberagaman. Penelitian dalam psikologi perkembangan dan ilmu saraf menunjukkan bahwa anak-anak pra-remaja belajar paling baik melalui gerakan, bermain, dan eksplorasi mandiri. Duduk terlalu lama dan waktu istirahat yang terbatas telah dikaitkan dengan meningkatnya angka diagnosis ADHD, obesitas dan kecemasan (anxiety).
Kedua, obsesi terhadap ujian standar menciptakan budaya kecemasan kinerja yang toxic. Ketika pendanaan, evaluasi guru, dan bahkan peringkat sekolah bergantung pada nilai ujian, kurikulum menyempit menjadi “mengajar untuk ujian.”
Negara-negara yang unggul dalam penilaian internasional (Finlandia, Estonia, Kanada dan kebanyakan negara Eropa) menghabiskan jauh lebih sedikit waktu untuk ujian standar dan jauh lebih banyak untuk bermain, pembelajaran berbasis proyek, dan otonomi guru.
Ketiga, sistem ini mengabaikan perbedaan individu dalam kecepatan, metode, dan minat belajar. Pendekatan berbasis “ceramah” dan buku teks mungkin efektif untuk 20-30% siswa, tetapi membuat sisanya bosan, frustrasi, atau dicap sebagai “gagal.” Anak-anak berbakat kurang tertantang dan menjadi tidak termotivasi; siswa dengan disleksia, autisme, ADHD, atau kecepatan pemrosesan yang lebih lambat dipermalukan karena tidak mampu mengikuti pelajaran. Ilmu kognitif modern mengatakan bahwa manusia memiliki banyak kecerdasan (linguistik, logis-matematis, spasial, musikal, kinestetik tubuh, interpersonal, intrapersonal, naturalistik), namun sekolah hanya mengutamakan dua kecerdasan pertama.
Terakhir, lingkungan otoriter di banyak sekolah merusak motivasi intrinsik dan keamanan emosional. Kebijakan tanpa toleransi, kamera pengawas dan disiplin yang bersifat menghukum (skorsing untuk pelanggaran kecil) menciptakan iklim ketakutan daripada kepercayaan. Siswa belajar kepatuhan bukan berpikir kritis, ketaatan bukan inisiatif. Teori Penentuan Diri (Self Determination Theory, Edward Deci & Richard Ryan) menunjukkan bahwa manusia membutuhkan otonomi, kompetensi, dan keterkaitan untuk berkembang; pendidikan tradisional secara rutin melanggar ketiganya. Bukan berarti guru sekolah bersalah; mereka adalah profesional yang berdedikasi yang bekerja dalam sistem yang dirancang untuk menghasilkan buruh yang patuh dan mengelompokkan anak-anak ke dalam peran sosial. Dan posisi buruh ini sebentar lagi akan digantikan seluruhnya oleh robot dan AI.
Alternatif yang lebih sehat sudah ada di beberapa tempat: Montessori, Waldorf, sekolah bebas demokratis, sekolah charter berbasis proyek, dan sistem publik Finlandia dan Singapura (yang memprioritaskan kesejahteraan dan kedalaman daripada keluasan). Kita pun memilikinya: Ki Hajar Dewantara telah memformulasikan Metode Sariswara, yaitu metode pengajaran berbasis kesenian daerah (lagu, sastra, cerita) untuk menumbuhkan budi pekerti luhur dan karakter siswa melalui keindahan, seperti yang diterapkan di Taman Siswa. Sariswara mengintegrasikan panca indra, cipta, rasa, karsa, dan mengembangkan gotong royong serta cinta tanah air dengan memanfaatkan unsur keindahan dalam kesenian Jawa. Metode ini pun konon telah ia diskusikan dengan Maria Montessori saat ia tinggal di Eropa, dan sedikit banyak telah diaplikasikan juga di sistem Montessori.
Model-model ini menghasilkan siswa yang tidak hanya mampu secara akademis tetapi juga lebih bahagia, lebih kreatif, dan lebih siap untuk kehidupan nyata. Sampai pendidikan publik beralih dari kepatuhan ke rasa ingin tahu, dari peringkat ke pertumbuhan, dan dari rasa takut ke keamanan psikologis, pendidikan publik akan terus melakukan lebih banyak kerusakan daripada kebaikan bagi jutaan anak. Sistem ini bukan hanya tidak efektif; sistem ini secara aktif tidak sehat, dan biayanya diukur dari potensi yang hilang dan semangat yang hancur.
Pendidikan musik (klasik) pada umumnya di Indonesia masih menggunakan metode yang digunakan waktu saya mulai belajar piano, dan metode itu jugalah yang digunakan oleh para guru piano saat mereka mulai belajar piano tahun 1940-50an. Sebuah metode yang membosankan bahkan untuk generasi saya, apalagi untuk generasi Z dan Alpha. Berarti, sudah sekitar 80 tahun, metode pengajaran piano –yang notabene juga tidak begitu efektif– masih belum berubah!
BIODATA
Selain dianugerahi penghargaan sipil tertinggi dari Kerajaan Spanyol “Real Orden de Isabel la Católica”, Ananda Sukarlan juga pernah dianugerahi gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020. Ia juga seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000 dan telah dianugerahi banyak pengakuan swasta seperti Prix Nadia Boulanger dari Orleans, Perancis.
Ananda Sukarlan adalah salah satu dari 32 tokoh dalam buku “Heroes Amongst Us (Pahlawan di Antara Kita)”, tulisan Dr. Amit Nagpal yang diterbitkan Oakbridge Publishing di India. Ananda juga masuk sebagai salah satu dari 100 “Asia’s Most Influential” atau “Orang Asia Paling Berpengaruh” di dunia seni tahun 2020 oleh Majalah Tatler Asia.













