KUTUTUP TUBUH IBU YANG TELANJANG
melebihi indahnya dari petikan musik lima nada
aku datangi suara teduh dari balik lembah
rerimbunan menyapa
di majelis tasbih angin
lembut kau sambut aku mesra daun-daun
bagai seorang anak yang istimewa
pulang ke pangkuan rimba
belantaramu
mengamati derap langkah
di atas tanah yang fitrah
hatiku pun kelindan memuji keindahan
tanpa kata sama-sama berbisik: “subhanallah”
naluriku melayari hikmah atas
wangimu bunga-bunga jatuh di dada
di perbatasan jejak sesungguhnya tak berjarak
suara rimba menyentuh kalbu
“jagalah aku ibumu yang selalu
mengandung keturunan menyusui kelahiran.”
lalu, aku terdiam menatap lamat-lamat
paras ibu yang subur dilumat
seorang anak hampir putus asa di
sahara batin setelah jauh melangkah
di kefanaan semesta
“ibu, ketika kedamaian tak dapat aku
dapatkan di perkotaan
aku pulang ke rahimmu kembali
memeluk tubuhmu yang asri.”
ibunya tetap tersenyum
menyambut anaknya dengan segala cinta
“ibu, aku pulang merawat tubuhmu
yang kerap koyak atas galodo
entah siapa kiranya
menjambak rambutmu di hulu hingga
air mata menganak menjadikan bah
menderas ke muara
membawa tulang-tulang berserakan
dengan segala sampah.” aku bersumpah
kututup tubuh ibu yang telanjang, suburlah!
dan kugerai kembali rambutmu yang panjang, menarilah!
senyum setangkai bunga kuselipkan di telingamu ibu
setangkai mahkota ibu yang hilang
menghilir ke muara bersama air bah
aku dawamkan harapan
sejurus doa ayah dipanjatkan keharibaan
berharap estuari tak berselisih paham
Jakarta, 2 September 2025
REVOLUSI
kita ditelanjangi
ia mengambil jiwa kita
dan dibawanya terbang menuju awan
pada penglihatan yang heran
anak cucu melihat garuda bingung
panji enggan menari
seriosa rusak nada
istana terus berdansa
topeng-topeng di wajah kurcaci
: beranomali
kita kehilangan tongkat
semenjak kebenaran dipalsukan
isi kitab di tangan themis
menjadi nasi bungkus
pada kompetisi dan teknologi
wajah-wajah kota pencakar langit
terus berevolusi
dan pada batu-batu dungu
telah dikerikilkan
akan digunakan sebagai
penguat tembok raksasa
supaya tak runtuh pondasi
singkirkan kawat berduri itu!
tatapan ranjau melukai nadi
sebatang ilalang hening di taman
themis teriak di meja hijau
kitabku dicuri tangan besi
sudah sadarkah kita?
mata ini semakin ditelanjangi
mereka diselimuti angan-angan
peradaban digiring memasuki kuburan
menjadi nisan tak bernama
berhias taman-taman bunga
sialan! aku tertidur
cucu dan cicitku tertipu
lampu mati
Jakarta, 10 September 2025
OBITUARI KEPADAMU ZARA QAIRINA
bidadari itu tiba di bandar pagi hari,
setelah fajar menyingsing
semalam ia bermimpi
memetik matahari
di sebuah penjara suci
yang akan mengubah nasibnya
menjadi rembulan
akan tetapi,
di sebuah penjara suci itu ada hantu
yang tak tersentuh akidah
mereka berpesta angkara
zara adalah nama anak surga
terlahir ke bumi sabah
dengan segala cinta dan cita
menanak peluh menuntut ilmu
zara?
engkau telah diawetkan di dada kami
menuntut keadilan hukum kepada
sekelompok hantu menginjak tubuhmu itu
luluh duka aku mendengar deritamu zara
engkau papa terkubur buldozer kekuasaan
terhadap ketidakadilan dari mereka
berhati drakula
kami memutuskan membangunkan engkau
kembali atas autopsi jenazahmu mewangi
zara? tidurlah dengan tenang sayang!
duka kepadamu akan kami kenang
sebelum festival keranda kematian panen raya
obituari puisi dariku
dan berjuta kesedihan melangitkan doa
kepadamu Zara Qairina Al-Fatihah ….
Jakarta, 23-8-2025
#JusticeForZara
MUSIM MERDEKA SEMU ATAS MEREKA
di balik terali besi depan istana pagi hari
ada kesetiaan embun menunggu
setelah matahari tersenyum
mereka terengah kepayang bayangan entah
siapa dari jauh bawakan neraca lustitia?
sedangkan themis tegar
menyauk telaga bening di sudut iba
kepada keadilan yang dikebiri
sayang neracanya pun dicuri pecundang
pengap aku menghela napas gemuruh
mulat sarira hangrasa wani dipatri
aku mencari
di mana jarak langit mendekap bumi
kerinduan pada keadilan
berharap datang sosok yang dinanti
kaukah itu lustitia dan themis tiba?
mengulit sunyi musik lima nada
ketika titian menitipkan pesan
atas kemerdekaan yang dirayakan
aku waspada menimba peluh di ruang tunggu
angan?
kau tumpahkan geloraku pada negeri
seandainya perjamuan pagi ini
selalu ada kicauan kenari
aku bergulat hari tak resah diulit mimpi
kepada nama di batu nisan pahlawan
roh menguar berteriak tak didengar
kemerdekaan hanya seremoni sesaat saja
keinginan rakyat hanya angan-angan
merasa bahagia tapi tak nyata
pada akhirnya daun gugur
sebelum musim hujan tiba
pucuk ranggas enggan bertunas
jangan salahkan terik membahang
aku diam memperhatikan gerak langkah
para penguasa dan pengusaha
hantu ataukah debu yang berterbangan?
: musim merdeka semu atas mereka
Jakarta, 23 Agustus 2025
NYANYIAN SALJU DI SUDUT KALBU
di ujung borneo itu
suara enggang berdendang
seakan enggan beriring haluan
bersama harimau semenanjung
adalah sabah sarawak negeri awak
yang bertuah bertuan kaya raya
ia diarahkan kepada dua pilihan
: hitam putih
perjalanan hitam menciptakan perang
dari kolonialis yang egois
sedangkan perjalanan putih
membawa dian di setiap kehidupan
adalah panji perdamaian
dari mereka yang berkhidmat taat
siapakah pemenang tropi hitam putih itu?
adalah senyum telaga sebening kaca
lalu mengembun di savana kinabalu
takjubku di negerimu sarat budaya
menyimpan cerita tak nak menyimpang
sebelum senja benar-benar tiba
di tiang kemerdekaan
generasi merayakan ke sekian kali
nyanyian salju di sudut kalbu
tugu mewujud saksi bisu
Jakarta, 27 -8-2025
TARIAN BUDAYA UNTUK MERDEKA
sejurus musim dingin
terselubung suara angin
tergerai rambutku disorot cahaya
di ujung agustus
seronok mereka merayakan bendera
tapi sekuntum tunas rapuh
atas permohonan yang teguh
dari teriakan suara pengeras
menerobos batu kesombongan
ditaburi tadabbur sumpah merdeka
lalu mereka menemukan penghibur
atas lestarinya tarian
yang diciptakan leluhur
oh, bidayuh, ngajat, sumazau, magunatip
limbai, daling-daling, mongigol sumandai
lenggokmu sarat makna
mengajakku memaknai budaya
roh-roh purba duduk di beranda rumah
menyaksikan cucuku dan cucumu
berserenada hati
tumbuhlah abadi di kemudian hari
Jakarta, 27-8-2025
BIODATA
Romy Sastra penyair berdarah Minang. Kelahiran Kubang Bayang Pesisir Selatan Sumatera Barat, berdomisili di Jakarta Barat. Lelaki yang mencintai puisi semenjak ia mengenali jati diri dari namanya. Salah satu karyanya mendapatkan anugerah puisi terbaik pertama di media apajake 2023, dan juara 3 lomba cipta puisi tingkat nasional dengan tema: “Jejak Seni dan Dakwah dalam Langkah sang Pendiri” Ambo Dalle 2024 dll. Pernah menghadiri Temu Penyair Dunia di Kelantan Malaysia 2018. Menghadiri “Temu Penyair Ziarah Karyawan/Kesenian Nusantara” Pahang Malaysia 2019. Menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara 2024 Banyuwangi, dll. Menerbitkan tiga buku puisi tunggal “Tarian Angin 2019, Alegori 2023” dan buku puisi ketiga. “Heraldik Berwajah Seribu 2025”. Karyanya tergabung di 100 lebih buku antologi puisi bersama: Indonesia, Malaysia, Kanada.













