Ruang-Ruang di Tulang Belakang
di tubuhku ada beberapa ruang
tempat orang-orang singgah dan berdiam
menjadi tempat merebah
berkeluh-kesah
dan menyerah.
terkadang aku diajak
untuk menelusuri kepala mereka
menemui gang-gang buntu
lalu membuatkan jalan yang baru.
atau tempat-tempat yang gelap
menjadi lilin dan lampu.
di tubuhku ada beberapa ruang
yang telah hampir semua terisi
menjadi hingar dan sepi
menjadi jelas dan bias.
ruang-ruang di tulang belakangku
sudah penuh terisi
hingga aku tak lagi di sini.
2024
Bidak Nurani
satu persatu kota menyala
terbakar, membara
sebab amarah dan kecewa
menjadi gerak dan suara.
tanpa senjata
berlindung berasas teman dan doa
meski seringnya tuhan berdampingan
dengan penguasa. jangan gentar.
kita adalah tuan dari negara.
di depan istana
ratusan tameng menghadang
gas air mata menerkam
membabi buta, mengusir kita
layaknya hama.
di dalam istana kosong
sebab mereka yang menjilat suara
sedang vakansi ke luar negeri
menuli dan melarikan diri.
di rumah
dapur masih menyala
memasak sisa-sisa beras
yang bisa dihitung butirnya,
alarm listrik berbunyi
cicilan menagih janji
dan upeti
untuk dinikmati mereka yang tak berani,
yang moncongnya mesti dikuliti
satu persatu kota menyala
terbakar, menyala
sebab tidak percaya pada negara
yang tak lagi bernurani, sakit
atau bahkan mati.
mari membersamai
atas nasib dan tangis kita
berpegang tangan, rapatkan barisan
lantangkan suara, turunkan tahta
tirani yang membungkam dengan senjata
akan kalah oleh derita kita.
merdeka hanya untuk mereka
yang tidur lelap di istana
merdeka bagi kita hanyalah angan
yang tak pernah nyata
mari bergerak
menjadi merdeka yang layak
menjadi berani
sebab kita adalah bidak dari nurani
yang terus menerjang
dan harus menang.
2025
Mengharap Hadir dalam Takdir
aku ingin melihat matamu
yang diterjang ombak
menjadikannya hutan bakau.
menutup cahaya. pekat.
aku ingin mendengarmu bernyanyi
dengan dentuman-dentuman keras, tak berirama
hentak-hentak kaki, dan tinju
segala arah yang kau tuju.
aku ingin melihatmu merah
memuntahkan segala gelap yang kaulahap
menjadi kata-kata kasar
yang tak pernah diucap.
aku ingin melihatmu dimakan waktu
lalu mati dan menghutankan mataku
lantas pergi, menjadi tanah
atau debu.
lutut yang gemetar
darah yang melonjak
debar-debar dada yang tak bisa kuhafal ketukannya.
lalu aku ingin memuntahkan kejujuran
tentang resah yang terlalu
perihal matamu yang sayu.
2025
Menagih Merdeka
1 orang terbunuh
2 orang terbunuh
3 orang terbunuh
4 orang terbunuh
5 orang terbunuh
6 orang terbunuh
7 orang terbunuh
8 orang terbunuh
9 orang terbunuh
10 orang terbunuh
beberapa orang telah hilang
entah ditangkap, diculik
atau sengaja dilenyapkan.
“mereka belum pulang.”
tak ada kata maaf
para penghuni singgasana
enggan bersujud pada tuannya.
berperan tuhan
disesaki kehormatan.
beberapa orang berbela sungkawa
mendatangi rumah dengan kamera
berisak tangis, penuh sesal
seperti sinetron murahan
yang diperankan oleh amatir
yang terlampau buruk memainkan drama.
sebagian yang lain hilang
melarikan diri— atau vakansi
beralasankan penugasan
dan demi ketentraman.
PENGECUT!
sebagian yang lainnya menunggu waktu
turun saat asa hilang
berperan pereda
seolah pahlawan— pecundang kesiangan.
yang menjerit dan sakit menjadi kesepian.
tak ada raja atau dewa
yang turun membasuh luka
yang mereka punya hanya perlawanan
dan teman yang bernasib buruk juga.
yang tulus dan lantang
terus bersuara. mempertanyakan
perihal negara
yang terlampau sakit dan gila.
aku berdoa
pada apapun yang mendengar. berharap sampai.
dan berkata
“kenapa kau seolah berdampingan dengan para bajingan?”
mungkin themis sudah berpihak
membuka tutup mata
berdekatan dengan penguasa.
lalu, pada siapa lagi kita berdoa?
kita terus bergerak dengan sesama
menjeritkan derita
menagih merdeka.
2025
Bahasa Mata
suara itu kadang menipu
terdengar merdu namun dipenuhi palsu.
jerat-jerat kata, metafora, diksi
yang terlampau seperti mimpi.
menjadi bualan hakiki.
sorot-sorot mata bicara
menjelma anak-anak kecil
menari, berlari, menangis dan bertanya
perihal kenapa dan apa?
tiada jujur selain bahasa mata
resah yang terpampang jelas
tangis yang diredam keras
binar akan apa-apa yang membuat
jiwanya menyala.
cahaya.
redup tatap sayu
mengantarkan pada sendu
pada lemah yang terlalu
pada tangis yang ditahan
sebab menjadi dewasa.
lirikan-lirikan menukik
tak serima dengan nada bicara
menjadi kaca yang tipis
membohongi diri dengan bengis.
terkadang bunga-bunga bermekaran
menjadi taman dan kasmaran
menutup segala hitamnya kemungkinan
melahap harap yang terkadang tipuan.
tatap-tatap tajam tak bisa dibungkam
disirami kecewa dan kepalan tangan
yang terkadang disembunyikan.
melahirkan gari-garis merah bercabang
seolah benang yang tak dapat diuraikan.
sorot-sorot kosong
meredupkan doa, membawa realita
menjadi rapuh dan mati muda.
melarikan diri pada imaji dan keberuntungan.
bahasa mata menjujurkan segala
tentang kisah, kasih dan kesah
amarah yang membuncah
dan apa-apa yang tak bisa dibicarakan
dengan nada.
2025
BIODATA
Ihsanjarot lahir di Tasikmalaya namun separuh perjalannya dihabiskan di Bandung, Bali dan Jakarta. Aktif dalam komunitas menulis dan membaca, serta beberapa karyanya tersebar di media sosial dan pernah beberapa kali karyanya dibukukan dalam antologi puisi bersama kawan-kawan komunitas.













