HUJAN turun sejak pagi ketika Arka menemukan manuskrip itu. Langit menggantung rendah di atas kota kecil tempat ia mengajar, membuat bangunan sekolah tampak pucat dan murung. Dari jendela ruang guru terlihat halaman yang becek, pohon-pohon trembesi bergoyang pelan diterpa angin, dan murid-murid berlari kecil sambil menutupi kepala dengan buku.
Aroma kertas basah memenuhi udara. Arka duduk sendirian di ruang perpustakaan belakang sekolah, sebuah ruangan tua yang jarang disentuh siapa pun selain debu dan waktu. Rak-rak kayunya dimakan rayap. Buku-buku lama bertumpuk tidak beraturan. Sebagian sampulnya menghitam oleh lembap.
Ia sebenarnya hanya mencari referensi untuk bahan ajar sastra lisan. Tetapi di sudut paling bawah lemari arsip, tangannya menyentuh sesuatu yang berbeda. Sebuah kotak kayu kecil.
Permukaannya kusam. Ada bekas air di sisi-sisinya. Dan di tutupnya terukir bunga melati yang hampir pudar. Entah kenapa dadanya mendadak sesak ketika membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat manuskrip tua terbungkus kain putih kekuningan. Kertasnya rapuh. Tinta hitamnya sebagian luntur. Tetapi tulisan tangan di halaman pertama masih terbaca jelas, “Kitab Nama-Nama yang Hilang.”
Angin dingin tiba-tiba masuk dari jendela perpustakaan yang sedikit terbuka. Halaman manuskrip bergerak sendiri. “Krrssshh…” Arka menahan napas. Di luar sana hujan semakin deras.
***
Arka menyukai buku sejak kecil. Baginya, buku bukan sekadar benda untuk dibaca, melainkan ruang tempat manusia bisa hidup lebih lama daripada tubuhnya sendiri. Itulah sebabnya ia memilih menjadi guru sastra di sekolah kecil pinggir kota, meski banyak temannya menganggap hidupnya terlalu sunyi.
Ia tinggal sendirian di rumah kontrakan dekat rel kereta. Malam-malamnya diisi suara hujan, bunyi kereta lewat, dan halaman-halaman buku yang dibalik perlahan. Kadang ia merasa hidupnya sendiri seperti cerita yang belum selesai ditulis. Mungkin karena itu manuskrip tua tersebut segera menariknya masuk ke sesuatu yang tidak bisa dijelaskan akal. Malam itu ia membawa manuskrip pulang.
Hujan belum berhenti. Lampu rumahnya redup ketika ia mulai membaca halaman demi halaman. Isi manuskrip itu aneh. Bukan novel. Bukan kitab agama. Bukan pula kumpulan puisi, melainkan daftar nama manusia.
Ratusan nama. Di samping setiap nama terdapat catatan kecil: tanggal, tempat, dan potongan-potongan peristiwa. Sebagian tampak biasa: Rahmat, lelaki yang mati di stasiun saat menunggu seseorang; Ningsih, perempuan yang lupa wajah ibunya sendiri; dan Bram, lelaki yang memotret bayangan karena takut kehilangan kenangan.
Arka mendadak membeku. Nama itu. Bram. Ia pernah membaca artikel kecil tentang fotografer eksentrik yang tinggal dekat rel kereta. Tangannya mulai dingin. Ia membuka halaman berikutnya. Damar, lelaki yang mendengar suara perempuan mengaji di hotel tua. Halaman berikutnya lagi.Ayu Laras, perempuan yang pulang sebagai burung saat senja. Hujan di luar terdengar semakin keras.
Jantung Arka berdetak lambat dan berat. Semua nama itu terasa seperti potongan cerita yang saling terhubung. Dan di setiap halaman, selalu ada satu simbol kecil digambar dengan tinta hitam: payung.
Malam semakin larut ketika Arka sampai pada bagian paling aneh dari manuskrip itu. Di tengah-tengah halaman kosong yang lembap, terdapat sebuah kalimat ditulis lebih besar daripada bagian lain, “Nama manusia tidak hilang ketika mati.” Ia hilang ketika tak lagi disebut.
Arka membaca kalimat itu berulang kali. Entah mengapa, tengkuknya meremang. Lalu ia menemukan halaman terakhir. Halaman itu hanya berisi satu nama. “AYU.” Tanpa keterangan apa pun. Tanpa tanggal. Tanpa identitas. Hanya nama itu sendiri. Di bawahnya terdapat tulisan tangan kecil.
Ia hidup dalam hujan, bayangan, dan orang-orang yang belum selesai mengucapkan kehilangan. Lampu rumah Arka berkedip kecil. Sekejap kemudian mati. Gelap memenuhi ruangan. Hanya suara hujan dan napasnya sendiri yang terdengar. Arka duduk diam beberapa saat sebelum akhirnya meraih korek api dan menyalakan lilin. Cahaya kecil itu bergerak gemetar diterpa angin dari jendela.
Dan saat itulah ia menyadari sesuatu. Ada halaman tambahan di bagian belakang manuskrip. Sebelumnya tidak ada. Tangannya gemetar ketika membuka halaman tersebut. Darahnya seperti berhenti mengalir. Karena di sana tertulis satu nama baru. ARKA.
Lilin kecil di meja bergetar. Di bawah namanya terdapat kalimat, “Lelaki yang menemukan kitab dan mulai dilupakan dunia.” Tubuh Arka mendadak dingin. Ia buru-buru mengambil ponsel dan mencoba menghubungi sahabatnya. Tidak aktif. Ia menghubungi ibunya. Nomor tidak dikenal.
Dadanya mulai sesak. Ia membuka media sosialnya. Akun-akunnya hilang. Foto-fotonya lenyap. Seolah ia tidak pernah ada. Hujan di luar berubah semakin deras seperti ribuan jari mengetuk atap rumah. Arka berdiri panik. Tetapi ketika bercermin di kaca lemari, bayangannya tampak samar. Nyaris transparan. Ia mundur perlahan. “Nggak…”
Suaranya pecah. Di meja, manuskrip itu terbuka sendiri. Halaman-halamannya bergerak cepat diterpa angin yang entah datang dari mana. “Krrrssshhh…”
Nama-nama berkelebat di depan matanya.
Bram.
Damar.
Laras.
Ayu.
Lalu berhenti pada satu halaman bergambar sketsa hotel tua. Di bawah gambar ituctertulis, KAMAR 13. Dan untuk pertama kalinya, Arka sadar, semua cerita itu bukan kebetulan. Mereka semua adalah manusia-manusia yang perlahan dilupakan. Disimpan di dalam hujan. Di dalam bayangan. Di dalam kamar-kamar sunyi yang tidak pernah benar-benar kosong.
***
Tengah malam. Hujan akhirnya reda. Arka berjalan keluar rumah membawa manuskrip itu dalam pelukan. Kota tampak sepi dan basah. Lampu jalan memantul di genangan air seperti mata-mata kecil yang mengawasinya. Entah kenapa langkahnya membawanya menuju hotel tua di ujung kota. HOTEL SURYA. Huruf “A”-nya masih mati.
Bangunan itu tampak lebih pucat daripada terakhir kali ia melihatnya. Lobi kosong. Tidak ada resepsionis. Hanya suara jam dinding tua berdetak pelan. Tik. Tok. Tik. Tok. Arka menaiki tangga menuju lantai tiga. Lorong panjang itu lembap dan dingin. Lampu-lampu berkedip kecil.
Dan di ujung lorong, kamar nomor 13 terbuka sedikit. Dari dalamnya terdengar suara perempuan membaca puisi pelan. Sangat pelan. Suaranya bercampur aroma melati dan sisa hujan. Arka mendekat dengan napas gemetar. Pintu kamar bergerak perlahan ketika disentuh. Krieeet… Di dalam kamar hanya ada seorang perempuan duduk dekat jendela. Sweater abu-abu. Rambut panjang. Dan sebuah buku puisi basah di pangkuannya. Perempuan itu menoleh perlahan. Wajahnya tenang. Sangat tenang. “Ayu…” bisik Arka. Perempuan itu tersenyum kecil. Bukan senyum manusia yang baru bertemu, melainkan senyum seseorang yang sudah menunggu sangat lama.
“Kamu akhirnya datang.” ujar perempuan itu. Suara hujan tiba-tiba terdengar lagi meski langit di luar telah berhenti menangis. Arka ingin bertanya banyak hal. Siapa perempuan itu. Kenapa semua nama menghilang. Kenapa dirinya tertulis di manuskrip. Tetapi sebelum satu pun kata keluar dari mulutnya, Ayu berkata pelan, “Tidak semua yang hilang benar-benar pergi.”
Lampu kamar berkedip. Gelap turun perlahan. Dan sejak malam itu, beberapa orang mengaku sering melihat seorang lelaki berdiri di lorong hotel tua lantai tiga ketika hujan turun.
Membawa manuskrip basah. Dengan bayangan yang tampak lebih nyata daripada tubuhnya sendiri.
***
BIODATA
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.













