“KAU memang bangsat! Begini caramu membalas seluruh kebaikanku, heh? Aku sudah membesarkanmu dengan tanganku sendiri, dengan keringatku sendiri. Sudah kurawat kau seperti merawat anakku sendiri. Tapi apa balasanmu? Beginikah caramu membalasku? Bajingan betul. Kau bunuh anakku yang masih begitu lugu, polos dan tak tahu tentang apapun. Kau bunuh putra kecilku yang masih tak bisa membedakan mana benar dan salah. Sekarang tumpaslah, matilah kau keparat sialan, lalu jadilah kayu bakar di kerak neraka untuk selamanya”
***
Pohon rambutan itu sudah ada semenjak pernikahan Rudi Gaber dengan istrinya Tita Atiyata 7 tahun yang lalu. Rudi mendapatkan bibit tanaman rambutan itu dari perhutani, saat memperingati hari hutan sedunia. Waktu itu, ia tengah mempersiapkan pernikahannya dengan Tita. Dan setelah menikah bibit rambutan itu kemudian ditanam di belakang rumah mereka. Umur pohon rambutan itu 7 tahun. Dan Rudi baru memiliki anak setelah 2 tahun pernikahannya. Ia memiliki anak lelaki berusia 5 tahun, anak yang lucu dan aktif bergerak. Anak lelaki itu memiliki keingintahuan yang sangat besar, sehingga ia sering bergerak ke sana kemari mencari tahu, lalu bertanya tentang apapun tanpa pernah bosan.
Maklum, otak anak kecil sedang pesat-pesatnya berkembang. Dan apa saja ingin ia ketahui, dan rasa penasaran mulai menjalari kepalanya. Sekali waktu ia pergi ke pekarangan di belakang rumah, melihat pohon kelapa, mangga, dan rambutan yang sedang berbuah. Matanya tertambat pada satu pohon dengan buah berwarna merah dan kulit berbulu; rambutan. Ia kemudian berlari ke dalam rumah, dan bertanya kepada ayah & ibunya.
“Ayah, pohon yang ada buahnya warna merah namanya apa?” tanya Si anak, polos
“Pohon yang mana?”
“Itu yang ada di belakang rumah”
“Oh, rambutan namanya, kenapa Nak?”
“Mau”
“Kamu mau rambutan?”
“Iya, kayaknya enak”
“Ya boleh, nanti sore Ayah ambilkan. Sekarang Ayah mau berangkat kerja dulu”
“Tapi aku pengennya sekarang Yah”
“Ya nanti minta diambilkan sama Bunda ya”
“Ok”
Setelah ayahnya pergi bekerja, Si anak kemudian datang kepada ibunya, minta diambilkan rambutan di pekarangan belakang rumah
“Bunda aku mau rambutan”
“Rambutan di mana?”
“Itu di belakang rumah”
“Oh, ya nanti ya Nak, tunggu ayah pulang kerja”
“Tapi kata Ayah, bilang ke Bunda aja, minta diambilin”
“Tapi bunda tidak bisa manjat pohon Nak, tunggu Ayah aja ya. Nih kamu nonton Youtube aja, Bunda mau pergi sebentar beli sayur” kata Tita sambil memberikan gawai kepada anaknya dan ia pergi membeli sayur keliling yang ada di depan rumah.
Si anak kemudian scroll Youtube Kids, ada video robot, hewan, tumbuhan, dan buah-buahan. Kebetulan ada buah rambutan di video tersebut. Seorang anak laki-laki sedang memakan buah rambutan, dan keinginan dan rasa penasaran Si anak untuk memakan rambutan pun semakin menggebu-gebu. Si bocah kemudian meletakkan Smartphonenya, dan berlari ke pekarangan di belakang rumah. Sedetik kemudian ia sudah berdiri di bawah pohon rambutan, sambil mendongakkan kepalanya melihat dompolan buah rambutan yang sudah berwarna merah, dengan mata berbinar.
Tenggorokan si anak sudah naik turun, dan ingin segera mengambil buah rambutan itu. Bocah lelaki yang polos, penuh energi, dan rasa ingin tahu itu terus mencoba memanjat. Pelan ia merambat ke batang pohon rambutan, sejengkal demi sejengkal ia menempel di pohon seperti kadal. Sesudah bersusah payah ia memanjat, akhirnya sampailah ia di pucuk pohon, ia perlahan bergelantungan, dan meraih satu rambutan merah yang ada di dekatnya. Dapat. Ia gigit kulitnya, lalu memakan buah yang sudah dikupasnya itu. Rasa manis, dan segar pada buah rambutan menambah energinya, dan keinginannya untuk mengambil rambutan lebih banyak lagi. Ia melihat sedompol rambutan yang sudah memerah semua. Ia sedikit memanjat batang pohon yang memanjang ke samping. Lalu saat tangannya berhasil mencampai dompol rambutan itu, tiba-tiba ada bunyi krek, dan sedetik kemudian tubuhnya tergelincir ke bawah. Tubuhnya jatuh, dan naas kepalanya mendarat lebih dulu ke tanah, lehernya patah, dan kepalanya mengalami gegar otak, anak lelaki polos nan lucu itu seketika mati di tempat.
Tita yang sedari tadi sedang seru-serunya bergosip dengan ibu-ibu dan pedagang sayur keliling terdiam saat mendengar suara debaman keras dari arah belakang rumahnya, perasaannya sebagai seorang ibu jadi tak enak. Ia bergegas berlari ke arah sumber suara. Dan saat melihat tubuh anaknya tergeletak di tanah tak sadarkan diri, ia menjerit kesetanan. Teriakannya terdengar dari RT satu ke RT yang lain.
“Allah, anakku, ya Allah anakku. Tolong!!! Tolong!!!” teriakan Tita itu perlahan berubah sebagai lolongan panjang yang mengerikan, memilukan sekaligus menyedihkan.
***
“Kau memang bangsat! Begini caramu membalas seluruh kebaikanku, heh? Aku sudah membesarkanmu dengan tanganku sendiri, dengan keringatku sendiri. Sudah kurawat kau seperti merawat anakku sendiri. Tapi apa balasanmu? Beginikah caramu membalasku? Bajingan betul. Kau bunuh anakku yang masih begitu lugu, polos dan tak tahu tentang apapun. Kau bunuh putra kecilku yang masih tak bisa membedakan mana benar dan salah. Sekarang tumpaslah, matilah kau keparat sialan, lalu jadilah kayu bakar di kerak neraka untuk selamanya” kata Rudi Gaber kepada pohon rambutan yang tadi pagi dipanjat oleh anaknya, dan membuat anaknya meregang nyawa.
Satu tetakan golok yang diayunkan oleh Rudi perlahan melukai batang pohon rambutan yang dulu ditanamnya sendiri, dan sekarang coba ia musnahkan dengan cara menebangnya sendiri. Dalam tiap tetakkan, sambil menangis ia mengingat kenangan tentang anaknya; anaknya yang polos, anaknya yang lucu, anaknya yang cerdas, anaknya yang banyak tanya, anaknya yang ingin tahu segala hal, anaknya yang tadi pagi minta rambutan, anaknya yang mati terjatuh dari pohon rambutan. Andai saja Rudi tahu hari itu adalah perjumpaan yang terakhir dengan anaknya, ia pasti mengambilkan rambutan itu untuk anaknya, bahkan rambutan di seluruh kota akan ia belikan untuk si anak. Tapi terlambat, penyesalan selalu datang terlambat
Lalu pada tetakkan goloknya yang ke sekian, Rudi Gaber tiba-tiba tak sadarkan diri, semaput; tak kuat kehilangan anaknya. Seorang ayah yang penuh dengan rasa penyesalan sekaligus rasa bersalah yang begitu kuat tertanam di pedalaman jiwanya. Entah sampai kapan rasa penyesalan dan kehilangan itu akan mengendap di sana. Atau mungkin untuk selamanya.
Purbadana, Mei 2025
BIODATA
Juli Prasetya adalah seorang penulis asal Banyumas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung.










