TAHUN 2050 yang hibrid. Di sebuah galeri seni di Zurich, Swiss, masa lalu hadir membawa getar melankoli yang mewah. Carisa Putri Dioux menatap sketsa-sketsa potret diri Karlinda Sukmawati, ibunya, yang berasal dari belahan dunia tropis, Indonesia. Waktu dan jarak mengenai impresi bayang diriya yang jauh, dari percakapan tentang ruang, sebuah arena dan makna kehadiran. Sebuah sketsa perempuan yang utuh.
—-***—–
Ini hari ke-217 Linda melukis potret dirinya dengan goresan-goresan sketsa dari yang halus sampai kasar. Dia sudah terlihat lelah dan sedikit pucat. Tubuhnya mulai oleng. Matanya pupus dari sengat matahari di luar. Tapi dia tak ingin melepaskan hari tanpa kanvas, diri, dan sketsanya.
Hari-hari panjang berkutat di dalam studionya, seperti orang bertapa merengkuh dunia dalam, dunia bathin, jauh dari serapan dan tegangan dunia luar. Hari-hari yang benam, terjal masuki jurang yang dalam atas diri dan sketsa ditimpa pertanyaan apa yang merepresentasikan diri apa yang merepresentasikan tubuh apa yang merepresentasikan waktu apa yang merepresentasikan titik perjalanan apa yang mengharu biru tubuh kekuasaan dan patriarki apa yang dapat disimpulkan dari itu semua atas hidup. Dan Linda seperti bertekad merampungkan segalanya hari ini sebagai perayaan kekuatan dan keberhasilan potret diri perempuan, atau dirinya tak pernah hadir, namanya jauh tenggelam dan tak pernah tersebut di riuh gemuruh percakapan dunia seni rupa tanah air yang maskulin.
_____*****_____.
Linda pertama kali terkesan pada lukisan potret setelah memandangi lekat-lekat lukisan perempuan Davinci yang anggun dan terkenal. Dia melihat lukisan tubuh perempuan itu dalam perspektif kesendirian yang utuh. Di lukisan itu dia tahu ada yang tak pernah habis di dunia ini, yaitu dunia makna. Linda merasakan sesuatu. Apa yang dapat dilakukan seorang pelukis? Mungkin yang pertama adalah bekerja dengan dirinya. Tapi, dia perempuan. Perempuan adalah subjek yang ambigu. Sedang lelaki itu begitu tenang melukis perempuan,.
Dari figur sempurna itu, Linda kadang berpikir kenapa mata laki-laki bisa memandang tubuh perempuan dengan tajam dan tenang?
Linda juga penasaran dan ingin tahu kenapa mata laki-laki begitu tenang saat melukis dirinya sendiri. Dia teringat dan kagum pada lukisan “Potret Diri” Van Gogh. Van Gogh baginya seperti bukan melukis, tapi sedang bicara (tentang dirinya). Dia seperti mendengar sesuatu dari dalam lukisan potret diri itu. Ada sesuatu yang dia katakan, dia bicarakan.
Tapi mata perempuan begitu ambigu? Ambiguitas membuat perempuan sulit bicara tentang dirinya.
Tiba-tiba muncul seseorang yang menghapus keraguan dan pertanyaan itu. Menyakinkan bahwa dirinya dapat membuat lukisan potret diri dengan suatu pengharapan yang jauh atas gender: dari perspektif perempuan tentang tubuh.
“Mulailah dari apa yang ada di dalam dirimu. Sentuhlah dia sebagai pengalaman inderawi dan bathin.”
Linda langsung terkesan dengan pandangan lelaki bule itu, yang baru kemudian dia tahu lelaki itu seorang kurator setelah memberikan kartu namanya. Amir Dioux, kurator seni, berkebangsaan Swiss. Sejak itu dia terkesan dan respek kepada seorang kurator. Seorang kurator selalu memiliki pengetahuan yang lebih banyak tentang seni. Di museum dan galeri, semua lukisan dan benda lainnya yang terhimpun atas seni adalah hasil kerja para kurator, dari mata yang dingin yang menembus era pergerakan seni dan arus zaman.
Seorang kurator tahu ada yang tak pernah habis di dunia ini, yaitu dunia makna.
—–***—–
Amir Dioux, kurator berkebangsaan Swiss yang ramah, humble dan murah hati itu kemudian menjadi akrab dan sudah setahun menjalin kasih yang dalam dengan Linda. Hari itu dia sedang menatap mata Linda dalam kanvas pada sketsa-sketsa potret diri Linda yang telah berlansung selama 217 hari. Dia datang ke studio Linda dengan tergesa-gesa dan dengan perasaan cemas.
Linda tiba-tiba menelpon Amir untuk datang ke tempatnya, untuk sesuatu yang Linda sendiri tidak tahu untuk apa. “ini memang tak mudah, tapi tak ada yang jelek untuk dilanjutkan,” ucap Amir seraya hati-hati menetapkan tiap kata yang diucapkan kepada Linda. Linda menyorot matanya lebih tajam di depan Amir, “Kau tak melihat suatu ambigu di sana, Mir? Kau pasti paham bagaimana umumnya perempuan melukis?”
Amir kembali hanya berkata pendek sebagai kebiasaannya. “Sebagai kurator aku tak punya perhatian bagaimana seniman melukis, aku hanya perhatikan apa dan bagaimana karya itu bicara.”
Linda tak mengamini ucapan Amir. Tapi dia merasakan kepuasan atas kehadiran Amir.
Setelah selesai, Amir berdiri, bergerak ke sisi yang bebas seakan memberi ruang pada Linda bahwa jarak dapat membawa kenyamanan dan ketegangan. Seketika Linda menarik nafas serasa lepas menahan waktu yang jauh.
“Sepertinya kau hampir selesai, jangan pedulikan setiap kata-kataku,” ucap Amir sambil beringsut pamit.
Linda bangun dari tempat duduknya sambil mengecup bibir Amir dengan keras untuk terakhir kalinya dan mengucapkan terima kasih karena telah datang untuk sesuatu yang dia sendiri tak tahu untuk apa. Amir tak banyak menjelaskan tiap katanya, kalimatnya seakan membentuk kata sifat menjadi kata kerja. Bagi Linda, Amir, kurator yang tangguh. Tangguh? Tapi bukan semacam lelaki tangguh. Kurator tangguh…ya cukup. Tak perlu dijelaskan.
—-***—–
Linda kembali masuk ke dalam kanvasnya. Dia bersiap melukis. Hasratnya ingin lepas dan seketika goresan-goresan spontan sketsa meraih dimensi terdalam potret diri, dia teringat kata-kata Amir lagi: “Tak ada yang jelek untuk dilanjutkan.” Linda semakin jauh dari bayang di luar diirinya, Dia hanya berpikir tentang tubuh; tubuh perempuan dan skesta diri yang utuh: melukis, membebaskan dirinya dari rasa sakit, dari ketidakmungkinan mata perempuan, bidang kanvas efek komposisi dan tubuh, Dia mencari dan mencari tubuh, mencari dan menikmati rasa sakit.
Tapi sebuah pencarian seperti perjalanan. Ini yang selalu diingat Linda dari ungkapan penyair Boudelard dan terinspirasi atas kata penyair Prancis itu. Tak ada yang tahu dan yang pasti, namun kata dapat mencipta ruang dan menembus yang kosong atau nihil kepada yang ada meski samar. Dari sana dia percaya kata dan kepada penyar yang berselancar di atasn kata-kataya: Puisi adalah tubuh yang kau kenali lewat bayang.
Itu kenapa lukisan yang baik dipercaya muncul dari ide, bukan lentingan kesan. Meski kebenaran dalam seni tak bisa mutlak-mutlakan. Segala diragukan dan dihempaskan. Tak ada yang menyakini dasar kanvas itu putih, bukan.
Dia mulai lanjut melukis sketsa 217 hari. Lukisan penutup dari labirin sketsa potret dirinya. Lukisan labirin itu fantasi terdalam dirinya karena seolah-olah dia kehilangan diri dan sekaligus menemukan ketenangan penuh tanpa ambigu. Setelah lukisan itu selesai, tiba-tiba dia seperti subjek yang runtuh, tubuhnya ambruk seperti pohon tumbang terhempas angin besar. Dirinya tertelungkup di lantai dalam genangan darah. Dia mengalami pendarahan. Nyawanya terenggut bersama cinta dan luka tas negeri setelah masuk ICU rumah sakit. Tapi bayi dalam kandungannya selamat.
Kurator Amir baru mendapat kabar keesokan harinya tentang meninggalnya Linda. Dia langsung berangkat ke rumah Linda, melepas kepergiannya itu dengan penuh duka dan penghargaan. Dia seketika teringat pada sketsa-sketsa Linda, kemudian bergegas masuk ke kamar kerjanya, ditemukannya sketsa-sketsa potret diri selama 217 hari bersama sebuah lukisan penutup yang baru dia lihat pagi itu “Labirin”.“Perjalananmu selama 217 hari tak akan sia-sia, Linda,” ucap Amir pedih sambil menangis di pusara nisan kekasihnya di Tanah Kusir yang bertanda: Karlinda Sukmawati binti Zainal Abidin, (21 Mei 1998 – 29 Maret 2035).
Tahun 2050. Sketsa-sketsa Linda diinisiasi di galeri Zurich, Swiss sebagai pelukis tanpa bayang sebagai citra-mata perempuan Timur.. Disebutkan dalam katalog pameran bahwa lukisan Labirin sebagai lukisan penutup dari sketsa 217 hari. Amir Dioux, kurator sekaligus suaminya, menceritakan bahwa Carissa Putri Dioux yang berada di sampingnya adalah anak Linda yang lahir prematur selama 217 dalam kandungan,, tidak 271 hari
“Linda melukis dan meninggal dengan ketenangan sempurna., seperti sedang menatap sketsa dirinya yang tenang dan utuh” demikian ucapan Amir Dioux di akhir pidato pengantarnya dan disambut aplaus pengunjung yang hadir pada pembukaan pameran.
Tampak di sana berdiri Carissa Putri Dioux gadis Swiss yang hibrid itu bersama ayahnya Amir Dioux berselancar di ruang galeri yang megah tersenyum haru, bangga kepada ibunya yang Indonesia.
BIODATA
Muhammad Solihin Oken lahir di Jakarta, 26 Oktober 1970. Pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, dan mengikuti Program Course Paska Sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Aktif bersastra sejak mahasiswa. Pernah menekuni profesi wartawan sejak 1996 hingga 2013. Sejak 2009 ia rajin menulis puisi di media sosial. Buku puisi terbarunya berjudul “Sajak Selikur” (2022).













