NASIONAL, Balipolitika.com – Kasus HIV/AIDS menyeruak secara bersamaan, di tengah panasnya isu korupsi di Indonesia. Namun demikian, kasus ini tetap harus jadi atensi semua orang. Apalagi bahkan kabarnya kini anak SD malah positif HIV/AIDS.
Berikut beberapa rangkuman dari laporan berbagai daerah di Indonesia. Ihwal kian meresahkannya kasus HIV/AIDS di Indonesia.
ACEH
Dinkes Banda Aceh menyoroti temuan kasus HIV di lingkungan kos-kosan sekitar kampus. Berdasarkan data Januari hingga Juni 2026, kelompok usia 21 hingga 30 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, drg. Supriyadi, M.Kes., mengatakan sepanjang Januari hingga Juni 2026, pihaknya menemukan 43 kasus HIV/AIDS.
Dari jumlah tersebut, 29 orang terdiagnosis HIV, sedangkan 14 lainnya telah memasuki fase AIDS. “Kalau untuk tahun ini, usia 11 sampai 20 tahun ada lima kasus. Untuk usia 21 sampai 30 tahun ada 17 kasus. Selebihnya usia di atas 30 tahun,” kata Supriyadi.
Menurut Supriyadi, penambahan kasus HIV di Banda Aceh masih terjadi hampir setiap bulan. Rata-rata enam hingga 10 kasus baru setiap bulan, dengan jumlah tertinggi terjadi pada Mei, yakni 10 kasus.
“Tahun 2026 hampir setiap bulan ada penambahan kasus. Rata-rata memang setiap bulannya enam sampai 10 kasus. Yang tertinggi itu di bulan Mei 2026, ada 10 kasus,” katanya.
SIDOARJO
Data terbaru Delta Crisis Center (DCC) mencatat, sebanyak 522 anak dan pelajar di Kabupaten Sidoarjo tercatat hidup dengan HIV dari total 7.129 Orang dengan HIV (ODHIV).
Direktur Program Yayasan Delta Crisis Center (DCC), Ferry Efendi, menjelaskan 522 ODHIV usia sekolah tersebut terdiri atas sekitar 13 anak PAUD/TK, 44 siswa SD hingga SMP sederajat, serta 465 pelajar SMA sederajat hingga mahasiswa.
Penularan HIV pada kelompok usia tersebut terjadi melalui beberapa jalur. Di antaranya, dari penularan ibu ke anak saat kehamilan, persalinan, atau menyusui, penggunaan jarum suntik pada penyalahgunaan narkoba, hingga hubungan seksual berisiko.
HIV hanya menular melalui darah, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik, dan ASI. Karena itu masyarakat perlu mendapat edukasi agar memahami cara penularan dan pencegahannya
Disdikbud akan menyusun kebijakan pencegahan HIV/AIDS, meningkatkan edukasi kesehatan reproduksi, serta melatih kepala sekolah, guru kelas, dan guru bimbingan konseling agar mampu memberikan pendampingan kepada peserta didik. (BP/OKA)












