SETIAP menjelang Lebaran, kampus selalu mengeluarkan satu pengumuman kecil yang ditempel di papan dekat ruang tata usaha. Kertasnya tipis, kadang miring karena paku payungnya sudah tua. Di bagian atas selalu tertulis lima huruf besar, SKMPL (Surat Keputusan Masa Persiapan Lebaran). Surat keputusan itu berisi tentang informasi tanggal libur sebelum dan setelah Lebaran. Dengan turunnya surat tersebut, civitas academica kampus mulai dari mahasiswa, dosen, hingga seluruh pegawai kampus akan segera bersiap untuk libur dan menyiapkan jadwal mereka untuk mudik ke kampung halaman masing-masing.
Mengenai singkatan SKMPL, ada saja kreativitas mahasiswa yang membuat kepanjangannya sendiri, tentu dengan nada guyon atau candaan, seperti “Sudah Kebelet Mudik Pulang Lebaran”, “Saatnya Kita Meninggalkan Perkuliahan Lama-lama”, atau yang paling sering aku dengar di koridor kampus dekat kantorku di Fakultas Pertanian adalah “Semua Kerjaan Mendadak Pending, Liburan!” Mereka tertawa setiap kali menyebutnya, seolah lima huruf itu adalah pintu kecil yang diam-diam membuka jalan pulang bagi semua orang. Ya, semua orang. Tanpa kecuali.
Akan tetapi, setiap kali membaca SKMPL di papan pengumuman itu, aku merasa selalu ada rasa yang lebih sunyi, seperti seseorang yang tiba-tiba diingatkan bahwa hidup ini pun barangkali hanya sebuah perjalanan panjang untuk kembali ke asalnya. Untuk pulang dan untuk kembali.
Aku teringat pesan almarhum Bapak tentang sangkan paraning dumadi. Bapak mengatakannya pada suatu malam setelah salat Isya, ketika listrik desa padam dan rumah hanya diterangi lampu minyak yang kecil. Bapak berkata pelan, “Manusia berasal dari satu asal dan pada akhirnya akan kembali ke asal itu pula.” Seolah kalimat itu bukan sekadar nasihat, melainkan jalan panjang yang harus dipahami sedikit demi sedikit. Waktu itu aku masih terlalu muda untuk mengerti. Kupikir itu hanya ungkapan orang tua yang suka berbicara tentang hidup mereka dengan cara yang rumit.
Sekarang, setiap kali membaca pengumuman SKMPL yang menandai musim mudik itu, kata-kata Bapak tiba-tiba datang kembali seperti suara dari masa yang jauh. Mungkin benar, perjalanan pulang yang kita lakukan setiap Lebaran hanyalah bayangan kecil dari perjalanan yang lebih besar. Kita kembali ke rumah, ke ibu, ke halaman yang dulu pernah kita pijak waktu kecil, seolah-olah sedang berlatih memahami satu hukum yang lebih sunyi dan bahwa hidup ini sebenarnya hanyalah perjalanan dari sangkan menuju paran.
Dan di koridor kampus yang mulai kosong itu, aku tiba-tiba merasa bahwa pengumuman kecil bernama SKMPL tidak lagi sekadar surat keputusan tentang libur Lebaran. Ia seperti pengingat yang ditulis dengan bahasa administrasi, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih tua dari kertasnya sendiri bahwa setiap manusia, cepat atau lambat, sedang berjalan pulang, menuju tempat pertama kali ia berasal.
Suatu siang, ketika sebagian mahasiswa sudah mulai menghilang dari kampus seperti burung-burung yang pulang ke sarangnya, aku berdiri cukup lama di depan pengumuman itu. Angin dari halaman meniup kertasnya hingga sedikit bergetar. Entah mengapa, dalam getaran kecil itu aku merasa seperti mendengar sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keputusan administratif. Barangkali benar kata seorang kiai yang pernah kudengar bertahun-tahun lalu, manusia tidak pernah benar-benar pergi ke mana-mana, ia hanya sedang belajar bagaimana caranya pulang.
Dan setiap Lebaran datang, lima huruf di papan pengumuman itu selalu mengingatkan pada satu hal yang perlahan aku pahami seiring bertambahnya usia, yaitu bahwa mudik bukan hanya perjalanan dari kota ke desa, dari kampus ke rumah, melainkan juga perjalanan dari hiruk-pikuk dunia menuju keheningan yang lebih tua dari segala kenangan. Mungkin karena itu mahasiswa selalu tertawa ketika membaca SKMPL, sementara aku diam-diam merasa bahwa singkatan itu sesungguhnya adalah pesan yang sangat pelan, bahwa suatu hari nanti, kita semua akan benar-benar pulang.
Entah mengapa juga, setiap kali pikiran itu datang, aku selalu teringat pada puisi karya Sapardi Djoko Damono berjudul “Pada Suatu Hari Nanti”. Puisi itu tidak pernah benar-benar kubahas di kelas, aku mengajar di Fakultas Pertanian, tempat orang-orang lebih akrab dengan tanah, musim, dan benih daripada dengan metafora kesunyian. Namun kadang-kadang, ketika kami sedang berdiri di lahan percobaan kampus dan para mahasiswa membicarakan waktu tanam atau kesuburan tanah, bait-bait puisi itu tiba-tiba melintas begitu saja di kepalaku. Tentang hari ketika seseorang tidak lagi berada di dunia, tetapi jejaknya mungkin masih tinggal, seperti bekas cangkul di tanah atau pohon yang terus tumbuh lama setelah penanamnya tiada.
Dulu ketika pertama kali membaca puisi itu, aku mengira ia hanya berbicara tentang kefanaan manusia. Tetapi semakin lama aku mengajar, semakin sering melihat mahasiswa menanam bibit dan kembali lagi beberapa bulan kemudian untuk memanen hasilnya, aku mulai merasa bahwa puisi itu juga seperti pelajaran sunyi tentang hidup. Bahwa manusia, seperti halnya benih, datang dari tanah, tumbuh sebentar di permukaan, lalu suatu hari kembali lagi ke asalnya. Tidak ada yang benar-benar hilang, ia hanya berubah menjadi bagian lain dari kehidupan.
Karena itu setiap kali melihat lima huruf SKMPL di papan pengumuman kampus, aku seperti membaca ulang puisi itu dalam bahasa yang berbeda. Seolah-olah kehidupan ini memang hanya sedang menunggu satu musim yang sangat sunyi. Ketika semua yang kita tanam telah selesai, kita akan kembali ke asal dengan cara yang paling sederhana. Pulang.
***
Seorang mahasiswa lewat di koridor sambil menyeret koper kecil. Dari tasnya masih tercium bau tanah kering barangkali tadi pagi ia baru saja pulang dari lahan percobaan fakultas.
“Pak, belum mudik?” katanya,
“Belum.” jawabku singkat.
“Nanti keburu sepi, Pak.” tegasnya sambil terkekeh
Aku mengangguk pelan sambil tersenyum.
Memang begitu setiap menjelang Lebaran. Kampus berubah menjadi tempat yang sangat sunyi, seperti sawah setelah panen, tanahnya masih ada, jejak-jejak kerja masih terlihat, tetapi orang-orang yang mengolahnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Ruang kelas seperti lumbung yang ditutup sementara dan bangku-bangku terdiam seperti petak-petak ladang yang menunggu musim berikutnya.
Mahasiswa itu lalu mengangkat kopernya ke mobil temannya di halaman fakultas. Mesin mobil menyala sebentar, kemudian suara itu perlahan menjauh. Koridor kembali lengang. Aku masih berdiri di depan papan pengumuman, memandangi lima huruf yang ditempel dengan paku payung yang mulai berkarat itu. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa SKMPL bukan lagi sekadar singkatan administratif. Ia seperti kalimat yang berbisik sangat pelan di dalam kepala, Saatnya kau mulai pulang, Lak.
Aku mengambil ponsel dari saku dan mengirim pesan pendek kepada ibu.
“Bu, besok Laksana pulang.” Beberapa menit kemudian balasan datang.
“Ibu tunggu.”
Kalimat itu pendek sekali. Tetapi entah mengapa, di koridor fakultas yang hampir kosong itu, rasanya seperti ada sesuatu yang hangat dan tumbuh perlahan di dalam dada, seperti benih kecil yang diam-diam menemukan tanahnya kembali.
***
Perjalanan pulang memakan waktu hampir tujuh jam. Bus yang kutumpangi bergerak pelan meninggalkan kota, lalu masuk ke jalan panjang yang diapit sawah-sawah yang mulai menguning. Dari jendela, hamparan padi itu terlihat seperti halaman buku lama yang sedang dibuka perlahan oleh angin sore. Langit di atasnya pucat dan tenang, seperti kain tipis yang perlahan ditarik oleh matahari menuju senja.
Sebagian penumpang tertidur. Kepala mereka bersandar pada kaca jendela atau pada bahu orang di sebelahnya. Di bangku belakang, seorang anak kecil memeluk tasnya seperti memeluk sesuatu yang sangat berharga. Bus melaju pelan melewati desa-desa kecil, lumbung padi, dan pohon-pohon kelapa yang berdiri seperti penjaga waktu. Aku memandang keluar jendela cukup lama, mengikuti garis jalan yang terus memanjang di antara sawah.
Di dalam kepala, ada satu kalimat yang berputar pelan, seperti doa yang tidak pernah benar-benar selesai, “Manusia itu sebenarnya sedang berjalan pulang.” Mungkin karena itulah setiap Lebaran orang-orang merasa harus kembali, menempuh perjalanan jauh hanya untuk tiba di tempat yang pernah mereka tinggalkan. Seolah ada sesuatu yang memanggil dari dalam tanah kelahiran mereka, sebuah suara lama, sangat pelan, yang berkata dari kedalaman ingatan, “Di sinilah kau pernah bermula.”
Aku tiba di desa menjelang Magrib. Jalan kecil menuju rumah terasa lebih sempit dari yang aku ingat. Pohon jambu di depan rumah tetangga sudah ditebang. Warung kecil di ujung gang berubah menjadi minimarket. Aku berjalan pelan menuju rumah. Di kejauhan aku melihat rumah yang sudah tua dengan pintu kayunya yang masih sama, tetapi catnya mulai pudar. Aku mengetuk. Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Sunyi.
Angin sore bergerak pelan di halaman. Aku mengetuk lagi untuk yang ketiga kali. Tiba-tiba seorang lelaki tua dari rumah sebelah keluar. Ia memandangku agak lama, seperti mencoba mengingat sesuatu.
“Kamu Laksana, anaknya Bu Sri, ya?”
Aku mengangguk.
Lelaki itu menunduk sebentar sebelum berkata pelan,
“Kamu baru pulang?”
“Iya. Tadi aku sudah kirim pesan ke Ibu.”
Lelaki itu menarik napas panjang.
“Ibumu sudah lama tidak di sini.”
Aku tidak langsung mengerti.
“Maksudnya?” tanyaku bingung
“Ibumu meninggal tujuh tahun yang lalu. Pas setelah Lebaran.”
Angin tiba-tiba terasa lebih dingin. Aku berdiri diam di depan pintu rumah yang lama sudah terkunci itu. Di saku, ponsel masih menyimpan pesan terakhir itu. “Ibu tunggu.”
BIODATA
HERI ISNAINI lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Ia pernah mengikuti acara “Temu Penyair Asia Tenggara 2018” di Padang Panjang, Sumatera Barat, mengikuti Festival Seni Multatuli 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Puisi-puisinya juga pernah dimuat pada Jurnal Aksara, Deakin University, Australia. Cerpen-cerpennya pernah dimuat pada koran Radar Banyuwangi, Radar Kediri, Harian Rakyat Sultra, dan Balipolitika.com. Kegiatan sehari-harinya adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat.










