Di Hari Permainan Dadu
Di hari permainan dadu,
kata menang disulap menjadi kalah
takhta diguncang, martabat ditumbangkan.
Di balik tawa licik Duryudana dan sorak penonton,
istri dipertaruhkan
harga diri digadaikan di meja perjudian.
Dadu itu diputar seperti kutukan,
menandai kejatuhan
nasib Pandawa jadi permainan
langit pun menunduk muram,
sementara bumi mencatat keheningan
lebih tajam dari pedang.
Di ruangan itu,
Pancali dilucuti kehormatannya.
menanggung semua rasa hina
tak satu pun berdiri membelanya.
Para tetua bungkam,
mereka bisu seperti batu
menyaksikan tragedi kehancuran itu.
Pandawa pasrah,
menerima belenggu sebagai budak baru.
Mungkin benar,
semua telah buta—
seperti Drestarastra.
Hari itu sejarah tak hanya mencatat dosa,
tapi juga kelahiran murka:
Murka seorang perempuan,
yang kelak menjadi nyala suara perang.
Lamongan, 13 Oktober 2025
Gadis Bersyal Merah
Musim ke musim setia pergi,
tahun-tahun serupa kecemasan :
selembar kisah masih terangkai pelan
di palung kenangan.
Gadis bersyal merah setia merawat sepi
saban hari, ia bercerita pada lautan
meluahkan segala gelisah dan kesedihan
di dasar kerinduan.
Bibirnya lebih pucat dari warna karang-karang,
binar matanya hilang dalam kehampaan
baginya waktu sempoyongan berjalan
Mengeja sisa-sisa kenang yang ia genggam.
Air matanya linang,
rindu lebam tak henti-hentinya mengancam.
Lamongan, September 2025
Doa Seorang Penyair
Aku ingin menjadi seorang penyair,
mencari rekah kata yang lahir dari beningnya embun,
merupa rajutan mantra yang santun.
Akar-akar dari hurufnya yang tumbuh di lembah kerahasiaan,
tak kan mudah goyah bahkan oleh laju waktu sekalipun.
Mereka akan terus tumbuh hingga menjadi ranum,
karena racikan doa-doa dari sang pujangga
agar selalu terjaga sepanjang masa.
Kau tahu, dibalik kuncup bunga-bunga kata yang mekar,
ada semerbak aroma wangi yang tersimpan.
Di ladang pemikiran, kata-kata itu dilahirkan
dari kesuburan kasih dan moral kemanusiaan.
Aku ingin sekali menulisnya,
sebelum waktu kembali melingkup rahasia-Nya.
Lamongan, September 2025
BIODATA
Lusa Indrawati, berdomisili di Lamongan, Jawa Timur. Tergabung dalam komunitas Literasi Competer Indonesia, Negeri Kertas, Tirastime, Kepul dan Pucuk merah. Selain menulis, ia juga menyukai dunia fotografi, melukis dan musik klasik. Penulis bisa disapa di akun ig @indranys345.













