Nafas Terakhir Seorang Kuli
/1/
engkau, kuli yang jatuh dari tiang fondasi
nafasmu berderak bersama debu semen
darahmu menetes di besi patah
ingin aku menahan waktu
agar maut tak segera memutus nyawamu
/2/
engkau, tubuh yang sakratul maut
terbaring lemah di pelukan tanah proyek
tak ada istri di sisimu hanya kawanmu senasib
ingin aku melipat jarak dan waktu
agar kampungmu hadir tepat di depan pandanganmu
/3/
engkau, lelaki yang hampa menatap kosong
dengan bayangan istri di sudut retina bola matamu
wajahnya hanyut bersama debu tanah
ingin aku menaruh peluknya
ke dadamu yang kini bergetar pelan
/4/
engkau, kuli di ujung napas
tulangmukii rubuh tapi rindumu tetap tegak
ingin aku meminjam doa
agar nafas terakhirmu pulang
ke rumah bambu dan pelukan istrimu
2024
Doa Sunyi Tukang Peti Mati
Kulepas keluh pada papan jati
Saat malam makin hening
dan jalan kota masih terlelap diam
menunggu langkah duka singgah di pintuku
Di tikungan sepi aku berjaga
memandang kayu jadi rumah terakhir,
ingin kudengar suara tangis
yang diam-diam kupanggil sebagai rezeki.
Kata-kata mengeja maut di dadaku
seribu doa merunduk di balik palu,
setiap paku kutanam pelan
Kelak pada dinihari yang beku
mungkin aku terjaga oleh angin
membawa kabar ada tubuh pulang
membutuhkan peti yang telah kutempa
Jika saat itu tiba,
rezeki datang bersama kehilangan orang lain
Ampuni aku Tuhan,
biar tanganku tetap bekerja
meski hatiku selalu retak tak berbentuk
menyulam kayu menjadi ranjang terakhir
bagi tubuh yang kembali pada-Mu
2025
Para Penjual Air Mata
Mereka duduk di tepi pasar
membentangkan luka seperti kain usang
setiap sobek jadi kisah
setiap bekas darah jadi harga
Mereka hidup dari cerita pahit
dijual sepotong demi sepotong
kepada telinga yang mudah terharu
kepada hati yang jatuh luluh
Mereka menakar duka di timbangan kata
air mata jadi komoditas dagangan
tangis pun jadi jualan
sampai suara serak pun laku dijual
Malam hari saat pasar kembali sepi
mereka pulang dengan kantong penuh
upah dari kesedihan yang habis diperdagangkan
Mereka adalah para penjual air mata
hidup dari derita yang mereka kunyah
rezeki mereka hanyalah tangis
yang akhirnya menelan mereka
2025
Elegi Bulan Ketujuh
dari detak jam weker itu,
pagi terasa runtuh di kepalanya
secangkir teh dingin di atas meja
bersama selembar amplop berwarna cokelat
yang ia buka berulang padahal kalimatnya tetap sama:
“terhitung sejak ………”
dari kalender yang tergantung miring
tanggal-tanggal terasa berlalu begitu saja
sementara di kamar sebelah
istrinya yang hamil tujuh bulan
mencoba tidur miring
menahan pegal
menahan resah
ia menyalakan televisi,
menyalakan radio
menyalakan ponsel
tetapi semua hanya mengulang berita kehilangan
dan bursa kerja yang tak kunjung ada
dari pintu kamar, terdengar suara lembut:
“kau sudah makan?”
yang bunyinya lebih mirip doa daripada sebuah tanya
ia menghela napas
mencatat sesuatu di kertas bekas:
“besok coba lagi, siapa tahu nasib baik singgah”
lalu dia terdiam seolah waktu yang dinanti itu
masih bersembunyi di masa yang tidak pasti
2025
BIODATA
Jan Eduart Sipayung, lahir di Simalungun 20 Maret 1987. Kini berdomisili di Sidikalang Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.













