CUIH!
Ludah itu spontan meluncur dari mulut Kai Unggat. Kakek itu menggeleng menyaksikan genangan air hujan yang terkurung dalam lubang aspal, sampah menumpuk di sudut tangga, dan bau pandan di mana-mana. Menyusuri lorong gang sempit di Pasar Kasbah, malam ini semua aroma memusingkan kepala.
Pendar lampu yang meremang berkelebat kabut putih dari rokok. Para pria duduk berbincang dengan wanita-wanita penjaja. Banyak di antara pria di sana mencekik botol anggur. Tawa segera membahana beriring lagu dangdut. Oh, benar-benar kacau.
Kai Unggat terus maju bersama Sulai dengan intimidasi tajam dari mata pria-pria di sana.
“Ikuti google map ini. Tak usah menoleh, ” bisik Kai Unggat.
Memasuki jalan yang cukup luas di mana kiri-kanan merupakan kios berhorden, Kai Unggat setengah tertegun. Desahan-desahan menguar dari dalam kios layaknya cericit tikus berbarengan gumul sepasang tubuh. Sulai tersenyum, para bangkong menikmati tengah malam dalam balutan keringat remahan debu. Remahan berasal dari debu di langit-langit yang terperangkap jaring laba-laba.
Di dekat anak tangga tampak sebuah kantor sederhana dengan kerlipan lampu warna warni, google map memberikan suara bahwa tujuan mereka telah sampai. Keduanya lalu disambut seorang pria tegap dengan tampang telisik.
“Cari siapa?”
“Itu tamuku, ” suara Inggit terdengar. Biduan cantik itu keluar dengan stelan sweter tipis. Semua lekuk terekspos. Dan tak ayal, Sulai menampilkan roman serba salah.
Pria urakan yang Kai Unggat yakini merupakan centeng itu memundurkan badan dan berlalu pergi.
“Kalian masuk. Bisnis di dalam,” ajaknya tanpa basa-basi apalagi mempermasalahkan pakaiannya. Bagi biduan, pesona pemikat ada dilekuk dan sikap godanya, itulah prinsip seorang profesional.
Ruangan yang tampak mungil dari luar itu nyatanya cukup luas. Ada semacam ruang tamu dengan hiasan kerlip warna lampu dan tirai kerang-kerangan. Inggit yang telah mempersilakan Kai Unggat dan Sulai duduk lalu berjalan ke belakang. Mungkin untuk ambil minuman, tapi anggapan ini segera Kai Unggat tepis. Toh nyatanya di meja telah berjejer rapi aneka soda. Dan dalam silau merah hijau, Inggit kembali bersama seorang perempuan seumuran Kai Unggat.
Nenek itu berkulit sawo matang. Berdandan anggun dengan riasan dan style hidup yang glamour. Sebilah rokok bermerek, mengapit di antara jemarinya yang bercincin. Namun berjalan pincang. Kontras sejarah melekat. Dibantu tongkat ia mendekat.
“Ohh, selamat malam Minasan, ” sapa kai tersenyum.
Perempuan tua yang awalnya berwajah datar itu mendadak nyalang.
“Keparat! Jangan panggil aku dengan sebutan itu! “
Inggit dan Sulai kaget. Terutama Inggit, ia hanya menemui rona murka dari indung semangnya itu saat tamu komplain. Ia tak menyangka amarah malah muncul saat pertemuan seperti ini. Spontan, segera ia bertanya:
“Kalian saling kenal? “
“Usir orang renta ini! Seistimewa apapun dia di matamu, tak akan berpengaruh terhadap bisnis kita. “
Kai Unggat menghembuskan asap rokoknya.
“Profesi Jugun Ianfu mendarah ke keturunanmu, ya? “
Prangg!!! Sebuah botol fanta terlempar pecah. Kai Unggat yang hampir kena terbahak melihat amuk si nenek.
Dua penjaga bergegas ke dalam. Mata mereka sungguh tak ramah.
“Pergi!” usir perempuan tua kembali.
Kai Unggat berdiri dengan masih menyempilkan rokok di mulutnya. Penjaga maju. Dan tegas menekan pundak kai sebagai gesture peringatan.
Kai Unggat berkelit tak senang. Sementara penjaga yang tertantang semakin merapat untuk bekukan.
“Mau ribut, Kai! ” bentaknya.
Namun kuda-kuda kai telah siap. Satu liuk kuntau dengan tinju tengah jari yang ditekuk menghujam ulu hati penjaga.
“Bukk!! Akhh! “
Pria berbadan besar itu ambruk. Napasnya tersengal sendat. Sesak! Ia mengerang.
Merasa cukup tangguh, pria satunya maju membantu.
“Cukup! ” teriak perempuan tua.
Si penjaga berhenti, mematung patuh.
Dan Inggit yang paham segera mengantar Kai Unggat serta Sulai keluar dari Pasar Kasbah.
*
Di dalam sebuah penginapan, Inggit mengeluarkan rokok ice bleast-nya. Setelah menyalakan, ia hisap dalam-dalam. Sejurus kemudian asap tampak liar dalam lingkar wajahnya.
“Mak, Deruma. Begitu kami panggil dia. Mengapa Mak, begitu marah padamu, Kai? “
Kai Unggat menatap jendela. Bunyi motor Sulai menderu. Kai menengok punggung Sulai yang berangsur pudar oleh malam. Pemuda itu tak menginap. Hanya sebagai pengantar dengan bayaran yang sesuai, Sulai memutuskan pulang.
“Tanyakan dia, bukan aku.”
“Tak mungkin Mak Deruma menjawabnya.”
Kai Unggat melenguh. Butiran sinar mata itu membias kisah lalu.
“Deruma seorang perantau paksa dari Jawa. Diculik Rikugan Jepang untuk mencubiti biji kecil mereka setiap pulang perang. Huakkk.. Cuihh! ” ludah jatuh di atas asbak.
“Setengah dari mereka dikurung dalam penjara berkedok asrama, setengahnya lagi menjadi perawat di RS. Ulin. Jugun Ianfu para keparat sipit itu namakan dan Minasan panggilannya.”
“Hubungan, Kai?”
“Perkenalanku tak penting. Harga diri Deruma ialah yen. Ia dan kawanannya menyaksikan langsung monopoli Jepang tentang lokalisasi. Deruma juga melihat teman-temannya mulai kena sifilis, radang rahim, bahkan gila. Aku yang meyakinkan dan membujuknya kabur. Menceritakan kepadanya arti pembebasan, aku yang menyusup dalam camp asramanya untuk lepaskan belenggu. Aku ingin Deruma mendapatkan haknya sebagai manusia. Hingga kami berhujan peluru. Sesalnya yang kini tersemat sebagai dendam kepadaku ialah mengapa pelor yang menghantamnya hanya buatnya cacat. Dalam perpisahan yang para bedebah itu sebut pengasingan, kutemui kilau mata Deruma mengharap pelor itu menembus kepalanya.”
“Kai adalah orang istimewanya,” simpul Inggit.
“Mungkin tepatnya adalah bahwa akulah penjajah Deruma sesungguhnya, ” kenang kai dengan raut bersalah.
Sekian waktu percakapan itu putus. Inggit masuk kedalam kebersalahan yang cukup dalam. Hingga ia mau tak mau harus luruskan niat asal tanpa timbang pada sejarah.
“Baiklah. Langsung saja, Kai punya aset berharga. Sayang jika hanya untuk kepentingan pribadi.”
Kai Unggat membenarkan silanya. Dia terkekeh sejenak.
“Kau mulai fokus. Siapa klien itu? “
Inggit menerangkan bahwa perempuan setengah baya penghuni diskotik di seberang Pasar Kasbah inilah yang kerap memesan.
“Tapi aku tak sudi melayani mereka di tempat rongsokan itu, ” tunjuk Kai Unggat pada satu tempat yang Inggit pahami.
“Tentu, Kai. Klien yang memesanmu itu golongan ke atas. Tercukupi secara materi, tapi kurang perhatian. Kebanyakan adalah istri pejabat yang diratukan secara materi, tapi kurang diperhatikan unsur biologisnya.”
“Mereka seperti itu sebab suaminya juga suka jajan di luar, ” tegas Kai Unggat.
Dan Inggit hanya tersenyum mendengar kebenaran tersebut.
“Malam ini ada party. Kai akan segera ke sana. Lima orang memesanmu, ” lirik Inggit nakal. ” Sanggup?” godanya kemudian.
Kai Unggat terpingkal-pingkal.
“Bukankah itu berlaku untuk mereka? “
*
“Harusnya kau paham orang tua. Bicaraku bukan gretakan! Cepat buat persembahan!”
Sorot purnama menembus dedauan malam. Pohon besar, koak burung, dan jeratan akar yang membelit kaki, inilah sarang makhluk jejadian itu. Sesiur angin bercampur gemerisik ranting memusar telinganya. Kai Unggat tetap angkat dagu.
“Kau sudah ambil putri kesayanganku. Kini apa peduliku padamu. Kalaupun kau pikir malam ini aku takut serahkan jiwaku, kau salah,” ucap Kai Unggat sambil menarik sebuah mandau. Senjata yang ia dapatkan dari tokoh desa itu berhulu sangkak penuh ukiran. Gagang tengah berhias sulat kaman. Bilahnya tipis terbuat dari batu beracun mantikei. Orang Kal-Teng bilang, inilah mandau Sanaman.
Bunsu Rusa sedikit mundur. Dia mengerti mandau itu akan memakan besi apa saja. Mengiris roh sepertinya bukan suatu yang mustahil. Namun kemudian tangan manusianya menjentik, menghasilkan kabut ungu. Dan seorang muncul dari asap itu.
Kai Unggat terkesiap. Sosok perempuan jelita dengan mata khas Tionghoa, hidungnya bangir dengan lekuk bibir tipis kecil. Ada dua tai lalat di pinggir dekat dagunya yang menjuntai.
Terperangah dengan napas terengah! Upayanya berusaha menandai tempat. Dan ketika kesadaran berhasil menarik kembali rohnya, Kai mengerti tempatnya kini.
“Syarifah? ” desisnya. Tangan kai meremat. Makhluk jejadian itu sengaja berikan sinyal. Ia masih menuntut wadal. Dan sebagai jaminan, bahkan roh putrinya pun seolah tetap dijadikan sandra.
Dan mandau pusaka itu? Di mana ia harus dapatkan? Kai menggaruk kepala. Merasa bertumpuk, ia kelilingkan mata keriputnya.
Sekitaran sofa beludru, pagi yang merambat naik itu tiada arti bagi 5 onggok tubuh perempuan sintal yang lena oleh denyut kepuasan. Mereka masih lemas dengan klimaks mimpi.
Kai Unggat turun dari tempat tidur. Ia berjalan pelan menuju kamar mandi. Sebuah cermin besar ia lewati. Singgah sebentar di sana. Kai Unggat menatap tubuhnya yang liat. Kegelisihan akan roh putrinya mendadak kurang. Ia menggangguk bangga. Paling tidak, hidung bekantan jantan yang ia punya liar piawai menumbangkan para perempuan bangkong itu.
Ting Tung!!
Bel berbunyi. Kai segera mungkin mencuci muka. Ia memutar langkah menuju pintu. Melalui lubang kecil ia mengintip. Merasa yakin, pintu ia buka.
“Oh maaf mengganggu pekerjaanmu, ” ucap Inggit terkejut malu.
Kurang ajar, mataku sungkan lepas dari ketakjuban yang dimilikinya, batin Inggit.
Kai Unggat yang hanya beranduk itu persilakan masuk. Dan manakala kaki jenjang Inggit melangkah ke dalam, ditemuinya kondisi yang tak pernah ia jumpai, semakin gusar berdebarlah birahi nakalnya.
“Benar-benar sialan kau tua bangka? ” ejek Inggit sambil menggigit bibir melihat para pemboking masih teler.
Kai duduk di sofa sambil meminum sisa wine malam tadi. Ia angkat sloki.
“Jangan ragu.”
Dan undangan itu tiada disiakan Inggit yang menghadiahkan beban pangkuan.
Sungguh parfum yang luar biasa, merebak, dan menjebak apa saja. Dan pada derak jam yang meninggi angka, pagi yang lena itu kembali merebang asmara yang susah dimengerti maupun dihindari.
___Bersambung___
Catatan
- Minasan, panggilan untuk perempuan yang diculik Jepang
- Jugun Ianfu, sebutan untuk perempuan yang melayani birahi tentara Jepang
- Rikugan, angkatan darat Jepang
BIODATA
Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Dia seorang guru di SMAN 2 Jorong. Selain mengajar, dia juga aktif menulis. Beberapa karyanya meliputi novel, novelet, dan kumpulan cerpen telah terbit baik di media/majalah cetak atau online. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun IG: heri_haliling, email [email protected].













