SORE itu, bau busuk menusuk hidung Ratri. Bau itu menyebar di setiap sudut jalan setapak yang dilewatinya, aromanya begitu pekat, Ratri pun merasa mual. Sendang-sendang yang dulu mengkilap, dan jernih kini menjadi keruh penuh dengan kotoran, bahkan bangkai-bangkai binatang terlihat jelas mengapung di atas sendang.
“Mana mungkin selama ini masyarakat setempat meminum air seperti sini? Mestinya sendang ini dijaga dan dirawat dengan baik, malah jadi tempat untuk membuang sampah!,” Ratri menarik napas panjang.
Ratri kesal bukan tanpa alasan. Dahulu, desa ini dipenuhi oleh mata air bersih, ikan-ikan tampak berenang ria, juga dikelilingi oleh rimbun pepohonan yang asri. Kini, semua itu telah berubah akibat kebiasaan warga desa yang tidak peka terhadap kebersihan lingkungan. Pemandangan sendang yang gersang membuat perasaan Ratri bercampur aduk.
“Ini semua akibat kelalaian warga desa yang tidak mau bertanggungjawab dalam menjaga sumber mata air. Tempat ini malah digunakan sebagai tempat pembuangan sampah!” omel Ratri.
Air mata Ratri tak terbendung, ia ingin segera mengadu pada ibunya bahwa tidak ada air lagi yang dapat digunakan, tidak mungkin ia meminta ke tetangga terus menerus, sementara tetangga-tetangganya juga membutuhkan air. Sumur di rumah sudah kering kerontang karena musim kemarau yang sangat amat panjang. Ratri kesal, ia menendang ember kosong yang seharusnya berisi air, namun naas, ia malah tergelincir jatuh di sendang yang penuh lumpur. Ratri meringis kesakitan, ia membersihkan rambutnya yang dipenuhi lumpur sembari mencari embernya yang terpental jauh.
“Woeekk, bau!!!,” dengus Ratri.
Pandangannya kabur karena lumpur menutupi kedua matanya, perlahan ia mendongak ke atas, dan ia tiba-tiba terkejut melihat seekor anak sapi yang berada tepat di depannya.
“Aduuhh kenapa ada anak sapi segala sih!,” teriaknya.
“Mooo!!” suara anak sapi itu sangat keras.
Ratri menjerit sembari menatap tajam anak sapi yang sedang bersimpuh di ujung sendang, tampaknya ember milik Ratri mengenai kepala anak sapi tersebut. Sementara induk sapi yang tak begitu jauh, turut memperhatikan gerak gerik Ratri, membuatnya merinding.
Seorang lelaki tua membawa tali menghampiri sapi-sapi itu. Sepertinya ia baru saja memandikan sapi-sapinya di sendang dan hendak membawanya kembali pulang.
“Tidak perlu takut, sapi-sapi ini jinak, mereka sedang merumput dan baru selesai bapak mandikan,” ungkap bapak tua itu dari kejauhan sembari tertawa saat melihat Ratri yang mencoba berdiri dengan tubuh yang dipenuhi lumpur.
“Lihatlah, langit hampir gelap, sudah waktunya kamu pulang, jangan malah bermain lumpur,” kata si bapak tua itu.
“Saya tidak bermain lumpur pak, malah saya jijik melihat sendang ini. Apakah bapak tidak risih dengan kondisi sendang ini? Airnya sangat kotor, tetapi bapak malah tega memandikan sapi-sapinya di sini, bukankah itu malah membuat sapi-sapinya sakit. Seperti halnya manusia yang bisa terjangkit penyakit kulit jika mandi dengan air yang kotor, sapi juga demikian,” ungkap Ratri sedikit kesal.
Bapak tua termenung mendengar kata-kata Ratri.
“Sendang ini adalah mata air terakhir di desa yang masih dapat digunakan meskipun keruh, sementara yang lain sudah kering, sapi-sapi bapak juga butuh minum dan mandi,” jawabnya.
“Lantas bagaimana dengan ibuku yang membutuhkan air untuk memasak? Orang-orang di desa ini membutuhkan air juga. Nanti menjadi sumber penyakit kalau saja warga desa meminum air keruh seperti itu, mereka terjangkit penyakit kulit, dan diare. Mestinya kita semua sadar lingkungan seperti membersihkan sendang ini atau tidak menebang pepohonan sembarangan di sekitar sendang. Semua sendang di sini tidak lagi menjadi sumber mata air yang jernih, lama-lama malah menjadi sumber penyakit,” Ratri semakin jengkel, ia mengambil embernya dari kepala anak sapi dan meninggalkan bapak tua yang kebingungan melihat kekesalan Ratri.
Sesampainya di rumah, Ratri melempar embernya. Ibunya terkejut dan hampir saja marah, tetapi saat melihat tubuh dan wajah Ratri yang dipenuhi lumpur, ibunya tidak dapat menahan tawa. Sang ibu mengambil handuk dan mendekati Ratri sembari membersihkan kotoran di tubuh anaknya dengan penuh kasih sayang.
“Ratri, Ratri….sudah besar masih saja suka bermain lumpur,” sapa ibunya.
“Maafkan Ratri, Bu. Ratri tidak dapat membawa air. Air di sendang semakin kotor dan bau, airnya tidak bisa digunakan lagi,” nada suara Ratri bergetar sambil menunduk.
Sang Ibu menarik nafas panjang. “Tentu ibu juga cemas jika tidak lagi ada air. Air adalah sumber kehidupan, manusia, hewan, dan tumbuhan membutuhkannya, tanpa air, bumi menjadi tandus, panas, dan mungkin tak berpenghuni. Air adalah anugerah yang tak ternilai,” tutur sang ibunya.
“Ibu, apakah sendang-sendang di desa kita dapat kembali bersih dan jernih seperti dahulu? Kita ajak Pak Lurah agar kembali bersemangat merawat lingkungan ya, Bu. Ratri juga akan mengajak teman-teman Karang Taruna, kok. Bukankah besok ada pertemuan di balai desa? Mari kita sampaikan pentingnya membersihkan sendang, ini bukan hanya untuk kepentingan kita tetapi untuk kepentingan bersama,” tutur Ratri penuh semangat, matanya tampak berbinar-binar.
Keesokan harinya, saat pertemuan dengan warga di balai desa, Ratri menyampaikan usulannya, dan mengajak seluruh warga di desa untuk membersihkan sendang. Benar kata ibunya, mengajak warga desa membersihkan lingkungan tidak semudah itu. Pak Lurah pun turun tangan dan mengajak masyarakat bermusyawarah, akhirnya seluruh warga bersedia untuk bergotong royong membersihkan sendang sekaligus melakukan penghijauan.
Setiap hari minggu Ratri dan warga desa mulai rajin membersihkan sendang-sendang di desanya. Menanam pohon di musim kemarau menjadi tantangan sulit karena kondisi lingkungan yang kering dan kurang air. Semua itu tidak membuat warga patah arang, mereka bermusyawarah dan berdiskusi bersama untuk mencari solusi
“Kita mesti memilih bibit tanaman yang cocok di lahan kering, misalnya bibit pohon mahoni. Selain itu karena air sangat minim, teknik penyiraman harus efektif. Kita dapat menggunakan jerami atau daun kering untuk menjaga kelembaban tanah serta mengurangi penguapan air. Mulai sekarang kita galakkan kembali tradisi bersih sendang, tradisi ini adalah warisan budaya sebagai bentuk rasa syukur kita atas berkah dari Tuhan dan tentu saja rasa kepedulian kita pada lingkungan hidup,” terang pak Lurah.
“Siapppp pak lurah,” serentak warga menjawab.
“Jangan patah semangat, pak, bu! lihat! Sendang kita mulai bersih, tidak ada sampah-sampah lagi dan mulai berkurang baunya. Kita harus bersabar, dan berdoa semoga air sendang kembali mengalir dan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” sahut Ratri.
Teriakan Ratri turut membakar semangat para warga. Mereka berharap sendang-sendang itu kembali memancarkan mata air sebagai sumber kehidupan masyarakat. Sejak saat itu, warga sekitar memberi nama baru untuk desanya, yaitu Desa Sendangmulyo. Nama tersebut diberikan sebagai rasa syukur atas mata air yang memuliakan warga setempat karena menjadi pusat kehidupan yang mesti dijaga dan dilestarikan. Warga Sendangmulyo semakin memiliki kesadaran tinggi bahwa menjaga sendang-sendang merupakan keharusan, kelestarian mata air adalah untuk keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Suatu malam, Ratri dan ibunya mendengarkan siaran radio, penyiar radio mengisahkan cerita tentang sejarah kelurahan Sendangmulyo di Kota Semarang.
“Ternyata nama Sendangmulyo banyak digunakan ya Bu, seperti di Semarang, sesuai dengan namanya, ada banyak sendang di kelurahan itu. Sendangnya pun ada yang diberi nama Sendang Lanang dan Sendang Wedok, ada pula Sendang Guyangan,” ujar Ratri.
“Benar, Sendang Lanang digunakan untuk laki-laki sedangkan Sendang Wedok diperuntukkan bagi perempuan. Kalau Sendang Guyangan biasanya dipakai untuk memandikan hewan-hewan ternak,” jelas ibunya.
Bagi Ratri, membersihkan sendang tidak hanya sekedar membersihkan supaya bersih saja, akan tetapi mencerminkan rasa hormat terhadap lingkungan. Penghormatan warga terwujud dalam tradisi bersih sendang yang membentuk hubungan harmonis antara manusia dan alam. Bersih sendang akhirnya menjadi rutinas yang dilakukan warga desanya, agar senantiasa menjaga kebersihan lingkungan, mencintai alam, bagian dari kerukunan, gotong royong, dan toleransi.
“Ratri, zaman dahulu jika musim hujan datang ada tradisi kuras sendang, biasanya dengan mengurangi endapan lumpur, selain itu menghilangkan jentik-jentik nyamuk. Di musim hujan nyamuk-nyamuk banyak bersarang di air jadi kita wajib berhati-hati,” terang ibunya.
“Ternyata masih banyak tugas dalam merawat sendang untuk masa depan, tentu saja Ratri sangat bersemangat menjaganya, setelah menguras, Ratri ajak teman-teman untuk melakukan tradisi gebyuran ya, Bu. Seperti gebyuran di kampung Bustaman Semarang saat menjelang bulan suci Ramadhan, pasti seru main gebyur air. Bukankah hal tersebut sebagai bentuk terima kasih pada Tuhan dan menjadi simbol kemakmuran serta keberkahan hidup?” Ratri menatap lembut ibunya.
“Iya, kamu anak yang luar biasa yang hidup di masa kini tetapi tidak lupa akan tradisi leluhur, ibu bangga sama kamu, Ratri.” pungkas ibunya sambil memeluk Ratri.
BIODATA
Ziyada Naziha Haqan lahir di Semarang, 26 Oktober 2011. Dia adalah siswi di SMP Islam Tunas Harapan. Dia senang menulis dan menggambar.













