TUBUHNYA berpeluh. Ia lari-lari, sembunyi di semak-semak, bermain petak umpet dengan anak-anak jalanan lainnya. Di rimbun tanaman rambat, ia mengintip sambil terkikik. Dari jauh tampak ibu dan neneknya sedang melayani pembeli kopi. Mereka keliling berjualan kopi dengan jajanan pasar: pisang goreng, nagasari, lemper, ubi, dan keladi. Lapangan Puputan Badung tampak lengang malam itu. Tiga patung pahlawan di pusaran air mancur kota selalu tampak siaga. Arifin, biasa dipanggil Ipin, bocah berusia sembilan tahun. Ia gemar memanjat pohon-pohon rindang di lapangan ini. Penjual balon dan mainan anak-anak yang kerap mewarnai sore kota ramai ini, rupanya sudah pulang. Pasangan muda-mudi dengan anak balita di gendongan, menikmati udara sejuk dan lapang pun sudah pulang. Langit biru yang menjadi hadiah alam bagi penduduk kota ini sudah pun gelap. Teman-temannya pun mendului pulang, harus tidur sebelum Dunia dalam Berita disiarkan. Malam itu sial baginya. Ia beserta ibu dan neneknya dikejar-kejar petugas tibum karena berjualan kopi dan pisang goreng hingga terlalu larut. Mungkin dagangan belum habis kala itu.
“Cepat, tangkap! Angkat semua! Tutup!” teriak tibum tambun dari kejauhan.
Mereka bertiga kocar-kacir, tunggang langgang menyelamatkan diri. Namun nenek tak kuat. Kakinya terantuk batu, tubuhnya tersungkur, ia dekap termosnya erat-erat. Dua petugas tibum langsung menghampiri, menarik kasar tangan nenek yang bergetar. Salah satu dari mereka berteriak, “Kau lagi! Sudah dibilang jangan jualan malam-malam!”
Ipin, tanpa pikir panjang, berlari kembali ke arah neneknya. Napasnya sesak, dadanya panas. Ia hanya melihat tangan keriput neneknya yang masih berusaha menahan termos dari genggaman petugas bertubuh tambun. Termos itu akhirnya lepas dari tangan nenek, jatuh menimpa aspal. Tutupnya lepas, air panas menyembur, mengalir ke kaki Ipin. Anak itu menjerit pelan, menahan panas, tapi tidak beranjak. Ia menatap termos yang kini hanya mengeluarkan uap tipis, seperti napas terakhir dagangan mereka malam itu. Ipin berdiri menggigit bibirnya. Napasnya memburu. Matanya merah saga. Ada sesuatu yang baru tumbuh, bukan sekadar kepedihan, tapi kemarahan yang telah berwujud. Tiga patung pahlawan berdiri tegak, membisu. Air mancur kolam tetap menari-nari tak peduli.
***
Pada dasarnya Ipin adalah anak yang bersemangat. Jika Minggu tiba, ia pergi ke Tiara Dewata untuk berenang. Dari kos-kosan padat di Pasar Burung Satria, ia berjalan kaki, melewati Jalan Veteran, sederetan toko kue, pohon-pohon di Lapangan Puputan, dan beberapa blok gedung pemerintahan hingga sampailah di kolam renang Tiara Dewata yang terkenal ramai itu. Ia berenang dari pagi hingga sore, hingga jari-jarinya berkerut-kerut basah dan tubuhnya mungil menggigil. Tanpa pelatih renang, tentunya, karena biaya tidak ada.
Suatu sore ia membantu ibu berjualan tahu di tajen Pasar Burung Satria, tempat ratusan lelaki bertato kumpul, mengadu ayam-ayam mereka. Ia pun terbiasa dengan keriuhan dan hiruk pikuk tajen. Saat ibunya menggoreng tahu, ia menyewakan kursi-kursi plastik yang telah ditandai namanya sendiri. IPIN, dengan huruf miring compang-camping sana-sini. Kursi-kursi itu sangat diperlukan para pemain tajen untuk berdiri di barisan belakang, agar dapat melihat pusat arena di mana ayam-ayam bertarung bertubrukan, diiringi teriakan penyemangat para penjudi.
Tajen selalu ramai, gairah membuncah warga yang berharap pulang membawa segepok uang. Ayam-ayam tampak siap bertusukan taji, beradu adrenalin. Sering kali tajen diwarnai insiden, misalnya perkelahian hebat Pak Made Karang dan Pak Agung Jelambir karena uang sabung ayam. Mereka sampai pukul-pukulan dengan bambu-bambu panjang. Darah di mana-mana. Lalu insiden yang kerap terjadi, oknum aparat yang sembunyi di gang samping di seberang got. Jika upeti tidak genap, maka pembubaran paksa terjadi.
Tembakan pistol bertubi-tubi ke udara. Dar Der Dor! Ayam-ayam berhamburan ketakutan, para penjudi berlarian, bola adil menggelinding dan kartu-kartu domino berserakan terinjak-injak kepanikan. Ibu-ibu pedagang minuman pun lari menyelamatkan diri. Ipin sudah sigap; ia menyelamatkan kursi-kursi plastiknya. Lalu, seperti biasa, memanjat pohon mangga kesayangannya, menyaksikan segala huru-hara itu sambil tertawa-tawa melihat orang yang sandalnya jatuh ke got, orang yang terperosok nyungsep, lari tunggang-langgang ketakutan. Dari tawa riangnya di atas pohon mangga, waktu perlahan mengajarinya tentang sepi. Tak semua sore membawa kegembiraan yang sama. Di sore lain, Ipin yang biasa bersemangat duduk di bangku semen di Lapangan Puputan. Ia murung. Sate penyu di sampingnya tak disentuh. Layang-layang bebe-nya putus. Teman-temannya merangkul, mencoba memberi semangat. Mereka mengajaknya membuat lagi agar bisa berlarian ke sana kemari. Seorang kawannya membagikan permen Sugus, dan mereka memakannya beramai-ramai. Saat itu ada tukang bakso yang menerobos masuk ke lapangan, dikejar-kejar tibum, hingga rombong baksonya bergulingan, tumpah ruah di lapangan rumput. Tanpa babibu, Ipin dan kawan-kawannya menyerbu pentol-pentol bakso yang berceceran, dan dengan tanpa ampun mereka melahapnya habis-habisan. Enak dan gratis. Mereka terpingkal lepas, puas makan pentol-pentol bercampur pasir. Pulangnya, mereka lewati kerumunan bapak-bapak yang sedang bermain catur di bawah rindang pepohonan, tak peduli bagaimana wujud istri masing-masing.
Dulu waktu masih tinggal di Banjar Kayumas Kaja. Tepatnya di Jalan Letda Winda, dekat toko kue tart Surapati, Ipin selalu naik bemo roda tiga untuk pergi sekolah. Ia menamakan bemo itu, bemo kul-kul, mungkin karena bunyinya unik, seperti kakek usang yang terbatuk-batuk. Ia memencet tombol di langit-langit kap bemo sebagai permintaan untuk turun. Bayarnya cuma dua ratus rupiah. Yang ia naiki adalah rute Kreneng ke Sanglah, karena rute bemo kul-kul ada tiga poros yakni Sanglah, Kreneng dan Ubung.
Di Pasar Burung Satria, Jalan Veteran, banyak ragam pedagang: tukang obat, tukang majalah bekas, tukang nomor SDSB, sampai tukang sulap, juga penjual patung antik. Ibunya berjualan nasi campur dan ayahnya berjualan batu akik, mulai dari kalimaya, pirus, blue safir, sampai bangsing krisnadana.
Pak Simbar adalah orang yang paling menggelegar di pasar itu. Suaranya paling keras, seperti raja monolog. Ia tukang atraksi debus yang membawa satu kotak berisi ular berkepala dua, yang sesungguhnya berkepala satu. Dalam atraksi sulapnya, Pak Simbar, kawan ayah Ipin, selalu melibatkan Ipin dalam permainan sulap di tengah-tengah pasar. Dengan akting eceran, ia harus pura-pura kepanasan saat memegang batu-batu akik bertuah atau tiba-tiba kakinya tidak bisa diangkat setelah disembur air Pak Simbar . Ipin pun ikut dalam atraksi sulap berikutnya, masuk ke dalam kotak besar. Saat masuk memakai baju hijau, dan hop! keluar dengan baju merah. Penonton pun riuh bertepuk tangan, Ipin tersenyum, memberi penghormatan seperti sedang pentas Hamlet di panggung-panggung broadway. Upahnya 1.500 rupiah. Biasanya dia langsung belikan cemilan krip-krip merah, juga beberapa coki-coki. Sisanya ditabung untuk beli sepeda. Pasar Burung Satria selalu memberi hiruk-pikuk. Kadang juga ia nakal memanjat halaman dalam Puri Satria, mengambil uang logam di canang-canang. Ia pun berkawan dengan cucu pemilik puri tersebut. Teman bermain bola walau usianya masih 5 tahun. Pernah si pengasuh cucu puri itu memarahinya saat ia tak sengaja memegang kepala saat bermain. Tabu! Sangat tidak boleh. Ipin pun tak berani lagi. Pernah pula, Ipin diusir oleh Pak Jamil, penjual majalah bekas bermata satu, karena membaca Intisari dan Bobo berjam-jam tanpa membeli. “Kalau mau baca, beli! Ini bukan perpustakaan!” bentak Pak Jamil. Karena pengusiran itu, Ipin menangis berlari menuju lapak ayahnya, yang berjualan batu akik. Ribut mulut tak terhindari. Pagi itu juga Pak Jamil pulang lebih awal, ia tersenyum lebar karena berkarung-karung majalah bekasnya dibeli ayah Ipin, agar anaknya bisa puas membaca-baca buku.
Dari lembar-lembar majalah Bobo dan Intisari bekas, ia tumbuh. Dari halaman-halaman yang menguning itu, ia mengenal Hollywood, juga perkebunan kapas di Brazil, menyelami kehidupan bawah laut, membaca prestasi juga sisi kelam para pemimpin dunia, serta cakrawala dunia yang begitu ragam, begitu luas, begitu menyesakkan. Di tangannya yang mungil, ia genggam majalah Intisari itu. Erat-erat. Dari halaman-halaman majalah itu, dunia tampak begitu dekat dan mungkin dijangkau. Namun hidup di pasar tak mengenal halaman dengan warna pelangi, yang ia punya hanyalah debu, keringat, dan kehilangan yang diam-diam menua bersama waktu.
***
Ia tatap kuburan ibu di pemakaman Kampung Bugis. Kuburan ditumpuk-tumpuk, seperti kehidupan yang bertumpuk oleh kenangan dan kesedihan. Kuburan neneknya entah berada di mana, setelah nenek memutuskan pergi merantau sendiri ke Jakarta. Lalu ayahnya, menghilang, konon menikah lagi dengan perempuan asal Nusa Penida. Bertahun-tahun Ipin menggenapi hari-harinya sendiri. Ia bekerja sebagai kuli beras, lalu menjadi penjaga pintu diskotik, warnet, hingga akhirnya diterima di kapal pesiar sebagai juru potret. Ia berkeliling dunia, menginjakkan kaki di Hollywood, impian kecil yang dulu ia tabung dari lembar-lembar Intisari bekas di pasar. Hidupnya bersandar dari dermaga ke dermaga. Dari sekian pelabuhan yang ia singgahi, yang paling lekat di kepalanya bukanlah kota-kota gemerlap dunia, melainkan satu malam di Lapangan Puputan: suara sepatu tibum yang menghantam aspal, teriakan ibu dan neneknya, dan uap panas termos yang menyembur ke udara. Kadang, saat ia berdiri di dek kapal dan menatap laut, ia merasa mencium bau logam termos itu, bau getir yang sama, yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya.
Kini ia kembali ke taman ini, duduk di bangku semen yang sama, menyalakan sebatang Marlboro Menthol-nya, menghisapnya dalam-dalam. Asap rokok meliuk ringan di udara, membentuk lekuk tarian, seperti uap termos yang dulu direbut paksa malam itu. Air mancur masih berputar. Tiga patung pahlawan berdiri membisu, menatap lurus ke kota yang terus sibuk, seakan baru saja kehilangan satu anak kecil yang akhirnya berhenti berlari.
Denpasar, 30 Oktober 2025
BIODATA
Moch Satrio Welang adalah aktor teater dan penyair yang lahir di Surabaya, 14 April 1982. Bergabung di Teater Orok Universitas Udayana (2003), Kelompok 108 pimpinan Giri Ratomo (2004). Mendirikan Teater Sastra Welang (2010). Menerima penghargaan Aktor Terbaik Gelar Teater La Jose 2010. Menggagas Sawma Awards berupa penghargaan seni teater monolog di Bali. Menggagas sayembara sastra Sawtaka Nayyotama Award dan anugerah buku puisi Siwa Nataraja Literary Award.













