LAUT malam beludru hitam tersobek ombak dan angin. Di kejauhan, lampu samar dari kapal tanker raksasa berpendar laksana lentera di perjamuan penghuni samudra. Di bawah langit yang gelap tanpa bulan, sebuah speedboat kecil mengendap-endap di sela gelombang. Ombak laut mengayunkan lima lelaki yang menyatu dengan kegelapan. Kelompok Rayap Besi, begitu para nahkoda kapal menyebutnya. Mereka bernama Burhan Ali (Barli), Amad Rofi (Madrovi), Sadat, Angga, dan Janu.
“Dekatkan sedikit lagi,” desis Barli Sang Ketua, matanya tajam menatap tubuh besi kapal yang mengapung angkuh di hadapan mereka.
Dari jarak beberapa meter, mereka mengaitkan tali tambat. Satu per satu lalu mulai memanjat dinding lambung kapal menggunakan grappling hook dan tangga tambang. Malam dan derasnya angin menjadi penutup sempurna untuk kejahatan yang sudah mereka lakukan puluhan kali.
Begitu mencapai anjungan, Sadat mengeluarkan las oksigen asetilin lalu mengatur tekanan. Semburan api biru menyala, menggigit besi dengan desisan nyaring. Suaranya mirip lolongan makhluk dunia dasar yang terperangkap kegelapan. Dan besi itu mulai disembelih perlahan-lahan.
Tak lama lempengan lambung kapal mulai terkoyak. Serpih demi serpih terlepas. Madrovi menampung potongan di karung besar, sedangkan Angga dan Janu berjaga di sudut dek.
Di sela riuh denting dan panasnya percikan logam, pikiran Barli mengembara. Wajah Mirna melintas di pelupuknya. Sang istri tengah mengandung tujuh bulan. Barli ingat malam saat perut Mirna mulai membesar. Seulas tawa mereka beradu dengan riuh ombak menjamahi pasir di bawah langit padang bulan.
“Aku punya sesuatu,” kata Barli sambil merogoh saku. Meraih lengan istrinya, Barli melilitkan sebuah tali hitam dianyam dan dipadukan bandul batu. Tali itu warisan kakek Barli. “Untuk keberuntungan. Jangan kau lepas,” tutupnya bersuara.
Mirna menatap Barli dengan sayup mata teduh. Begitu tunduk dan menentramkan. Keduanya berpelukan melawan angin deras pertengahan malam.
Namun seiring masa kehamilan yang mulai menua, arogan Mirna kerap menjadi. Barli tak tahu apakah itu hanya ulah hormon atau kekecewaan yang tertahan. Meski begitu, cintanya pada Mirna tetap utuh. Kemarahan ditangkis kerendahan. Dan tak pernah sekalipun Barli lupa memeluk Mirna saat tidur layaknya laut yang tak lelah selimuti pesisir. Fakta yang harus Barli akui, nyatanya cinta tak mampu membeli beras, tak bisa membayar bidan desa, dan tak mampu menggantikan pekerjaan yang tak kunjung datang.
Akhirnya di sinilah Barli. Dirinya tak anggap sebagai pencuri. Barli hanya akui dirinya seorang pecundang yang kalah lebih dulu di sistem yang busuk. Bukankah para pemilik izin tambang yang mengeruk tanah kampungnya juga pencuri? Mereka rampas hutan, tinggal sisakan batu, lalu air keruh sampai pesisir yang lambat laun memurka.
Lamunannya buyar. Sebuah suara dari corong kapal membelah malam.
“Serahkan diri kalian! Atau kami akan tembak!”
“Barli, kita ketahuan!” pekik Sadat cemas.
“Fokus bagianmu. Kita tahan sebisanya.”
“Door!! Dorr!! Dor!!”
Letupan senapan rakitan Angga dan Janu terdengar. Di pusat kemudi tanker, kerjapan api mulai membalas diikuti desingan proyektil. Suasana mencekam. Bising peluru berdenting beradu besi dan sisanya mendesau menghujani laut.
“Terlalu kuat, Barli!” kata Janu yang merasakan serbuan peluru itu kemungkinan dari AK-47.
Barli yang mengerti posisinya segera memerintahkan mundur dan ambil sedapatnya. Tetap terjadi balasan tembak dari speadboat walau hanya untuk membuka ruang kabur. Seperti bayangan yang menyilet laut, kelompok Rayap Besi menjauh membawa karung-karung besi di atas lambung perahu.
*
Angin pertengahan malam semakin menggila. Ombak menampar sisi kapal kecil mereka. Di tengah kekacauan, Sadat jatuh terduduk. Wajahnya pucat.
“Sialan!” desisnya sambil menekan perut kiri.
Tangan Barli segera bergerak cepat membuka jaket Sadat. Nanar tampak di wajah Barli yang terpukul. Darah mengalir deras dari luka tembak. Lubangnya menganga dengan warna merah tua menghitam.
“Keparat, ini area arteri,” kata Barli menekan, “Angga, ambil handuk cepat!”
Angga segera berlari menuruti. Sementara Madrovi sigap membawakan morfin, dan Janu menyorotkan senter. Barli menyobek morfin itu lalu menghamburi mata lubang. Bubuk putih merembes, tapi segera bercampur merah darah.
Nyatanya mereka tak punya alat medis. Biasanya jarang demikian. Seharusnya setiap tanker tak pernah membawa senjata api karena birokrasi yang rumit. Namun malam ini berbeda. Barli berpikir tanker minyak itu pasti kepunyaan seorang mafia hingga senjata sedahsyat AK-47 mereka miliki.
Barli mencoba menstabilkan Sadat dengan posisi miring, berharap mengurangi tekanan darah yang keluar. Sadat menggigil. Bibirnya membiru, suara napasnya berat, shock hipovolemik.
“Aku tahu ini gak bakal lama, Bar…” Sadat menatap langit yang nyaris tak berbintang. “Bilang ke emakku. Jatahku buat obat. Tolong,” lanjutnya lemah.
“Berhenti bicara. Kau bakal hidup, Dat!”
Sadat hanya tersenyum kecil.
“Maafkan sikapku, Bar! Ini tulahku!”
“Bicara apa kau!” jawab Barli bingung.
Namun mata Sadat meredup. Getaran mendadak diam dan tubuhnya berangsur dingin. Kondisi itu tak ayal buat mereka terpekur dalam lara. Empasan ombak dan desau angin laut telah membawa salah satu sahabat.
*
Jam merangkak ke 3 dini hari. Ketika gelombang mulai tenang dan langit mulai memucat, Barli menghentikan kemudi speadboat. Dia berdiri ke buritan. Sebatang rokok menyala di bibirnya, menari tertiup angin. Barli pandangi tiga temannya telah tertidur. Tatapanya lalu beralih ke jasad Sadat yang tertutupi terpal.
Kematian teman terbaiknya itu begitu menghancurkan. Barli membodohi sikapnya yang tak pecus. Kakinya lalu beranjak mendekati jasad itu. Barli sibak terpal. Wajah sahabatnya pucat dengan sedikit terciprat darah. Sesal kian dalam. Barli berjongkok menepuki bahu Sadat. Gerakan menggoyangkan itu membuat sesuatu berkilau melungsur dan menarik matanya.
Dari balik saku jaket Sadat, menyembul keluar sebuah benda bercahaya. Barli meraih dan mendekatkan benda itu ke wajahnya. Matanya membelalak. Rokok jatuh berganti dengan giginya yang bergemeretak. Tubuhnya gemetar disusul dada yang naik turun. Barli ambruk terduduk di pinggiran.
Laut menjawab dengan diam. Angin hanya menggiring pertanyaan yang tak punya tujuan. Sebuah gelang tali hitam dengan bandul batu berhasil memorakporandakan logika Barli.
BIODATA
Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Pria kelahiran Kapuas, 17 Agustus 1990 itu adalah seorang guru di SMAN 2 Jorong di Kalimantan Selatan. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif sebagai penulis. Beberapa karyanya antara lain Novel Perempuan Penjemput Subuh (PT Aksara Pustaka Media, 2024), novlet Rumah Remah Remang (J-Maestro, 2024), dan Buku kumpulan cerpen Perempuan Penggenggam Pasir (Guepedia, 2025). Adapun untuk karya pendek, tulisannya seperti cerpen dan opini telah termuat di beberapa majalah sastra dan media cetak atau digital.













