TAK USAH menunggu lama. Minimal 10 tahun lagi. Ya, Bali jadi Betawi. Fenomena Betawi adalah suku bangsa di Jakarta yang tergusur dari habitatnya; di tengah Kota Jakarta. Tergusur dan menyingkir ke Tangerang, Bekasi, Depok, dan sekitarnya.
Apa yang terjadi di Jakarta terhadap suku Betawi sejak 40 tahun lalu, prediksi saya dalam tempo sekurang-kurangnya 10 tahun ke depan akan mulai terjadi dan menimpa suku Bali. Bagaimana penjelasannya?
Harga tanah di Denpasar, Badung, dan sekitarnya sangat tinggi. Di Renon sudah mendekati Rp2 miliar per are. Di pinggiran Denpasar seperti Peguyangan mencapai Rp500 juta per are. Di Kawasan Kuta Selatan lebih gila lagi, Rp1-2 miliar per are. Jangan tanya jantung kota, Kuta.
Maka, yang akan terjadi seperti ini. Saat ini suku Bali yang bermukim di Denpasar, Badung, dan sekitarnya masih memiliki rumah dan SHM sendiri. Jika keluarga ini punya anak lelaki lebih dari satu, ada dua opsi: keduanya atau ketiganya berumah tangga dan tinggal dalam “natah” yang sama. Hanya rumah tinggal terpisah. Pada titik tertentu, satu atau dua KK kelak mesti pindah karena sudah tak muat.
Membeli? Nanti dulu. Pendapatan mereka tak mampu mengejar harga tanah dan bangunan. Mereka akan tetap bermukim di tanah warisan kakek atau bapaknya. Pengap? Terjadi konflik dalam keluarga dalam natah yang sama? Menyingkir dengan menjual tanah dan bangunan lalu dibagi berdua atau bertiga. Lalu membangun masing-masing rumah baru di pinggiran sana: Tabanan, Bangli, dan Mengwi atas. Itupun jika masih terjangkau.
Mereka dan pekerjaan konvensional mereka tak mampu mengejar harga tanah yang menggila. Fenomena ini akan mulai nampak saat ini. Cek saja satu “natah” bisa dihuni 4 bahkan lima KK. Ini akan terjadi masih 10 tahun ke depan tatkala remaja saat ini mulai berumah tangga.
Yang dari desa kerja di kota, mereka akan ngontrak dan kos hingga pensiun tiba dan kembali ke desa. Tak akan mampu membeli tanah yang menggila.
Sebabnya? Kemolekan Bali dengan pariwisata massalnya telah menarik kapitalisme masuk dan tak tertahankan. Mereka dengan kapital besar juga ingin menarik untung besar dari bisnis pariwisata. Kapitalisme inilah yang menstimulus pergerakan harga tanah yang menggila.
Jadi? Saran saya, saat ini jangan pernah menjual tanah milik. Jangan pernah memelihara bakat berjudi atau tajen secara militan hingga sampai menjual tanah. Jika pun perlu uang dan punya tanah luas, sebaiknya tanah dikontrakkan. Pikirkan para cucu nanti yang akan telantar karena kakeknya menjual tanah milik buyutnya.
Solusi kedua, jika saat ini lagi bersinar dan pendapatan lebih, segera investasikan tanah masing-masing 1-2 are untuk warisan para cucu yang bahkan belum lahir. Harus dibeli sekarang sebab saat cucu Anda dewasa ia mungkin tak mampu beli tanah rumah tinggal. Anda tak ingin toh dari rong telu menyaksikan cucu Anda pindah dari kos ke kos berumah tangga hanya karena kakeknya menjual warisan tanah buyutnya dan atau tak peduli saat kakeknya berjaya?













