JAKARTA, Balipolitika.com- Lima penggawa Persija Jakarta dipastikan tumbang akibat cedera jelang kick-off kompetisi di Jakarta. Mengacu rilis medis resmi I-League, badai fisik menghantam Macan Kemayoran. Laga perdana bergulir Jumat (4/9).
Situasi darurat membayangi tim. Pusing tujuh keliling.
Daftar pesakitan dihuni Pratama Arhan, kapten Andritany Ardhiyasa, Eksel Runtukahu, Dony Tri Pamungkas, serta Kwon Chang-hoon. Mereka masuk ruang perawatan.
Arhan mengalami fraktur phalanx alias patah tulang jari tangan. Naik meja bedah. Bek kiri timnas itu langsung menjalani tindakan operasi medis pada Selasa (1/9) kemarin.
Masa pemulihan memakan waktu empat sampai enam pekan ke depan. Kabar baiknya, Arhan masih dizinkan melahap menu latihan lapangan.
Tetapi ketiadaan kiper utama Andritany bikin jajaran staf pelatih putar otak ekstra keras. Kiper senior itu menderita gastrocnemius strain atau robekan otot betis.
Petaka datang saat pemusatan latihan di Thailand beberapa waktu lalu. Andritany divonis menepi satu hingga dua pekan. Absen ke Kalimantan.
Sebaliknya penyerang Eksel Runtukahu dibekap problem hamstring. Otot paha belakang tertarik.
“Eksel diyakini baru pulih dalam sepekan ke depan,” beber staf kepelatihan tim ibu kota.
Kondisi Dony Tri Pamungkas justru jauh lebih mencemaskan. Pemuda serbabisa itu dihantam quadriceps strain atau cedera otot paha depan. Tahap awal pemulihan memakan waktu dua sampai tiga pekan.
Krisis pemain sektor sayap kian nyata. Stok menipis drastis.
Kwon Chang-hoon sendiri terus berkejaran dengan waktu demi mengejar kebugaran puncak. Winger asal Korea Selatan itu sempat dihantam cedera soleus strain.
Otot betisnya bermasalah sejak turnamen Piala Presiden 2026 lalu. Akibatnya ia terpaksa ditinggal saat rombongan bertolak melakoni pemusatan latihan di Thailand.
“Kondisi Kwon membaik, butuh waktu satu sampai dua pekan lagi,” kata ofisial klub.
Lagipula partai perdana sudah di depan mata. Persija dijadwalkan menyambangi markas Borneo FC Samarinda di Stadion Segiri pada Sabtu (5/9) mendatang.
Laga tandang super berat. Lawan bukan tim sembarangan.
Dengan demikian juru racik taktik dipaksa merombak formasi pakem sejak pekan pembuka. Tambal sulam posisi tak terhindarkan. Pemain pelapis wajib unjuk gigi.
Organisasi pertahanan harus ekstra waspada mengantisipasi gempuran agresif tuan rumah di Samarinda. Lengah sedikit tamat.
Selanjutnya tim medis bekerja maraton mempercepat proses penyembuhan para pilar yang cedera. Program terapi intensif dipusatkan di Jakarta. Harap-harap cemas.
“Kami terus memantau perkembangan fisik anak-anak setiap hari,” tegas dokter tim.
Singkatnya absennya lima pilar utama menjadi pukulan telak persiapan armada ibu kota menyongsong musim baru. Keberangkatan ke Kalimantan Timur tanpa kekuatan penuh. Ujian mental sesungguhnya.
Pada akhirnya kedalaman materi pemain lapis kedua yang menentukan hasil akhir di Stadion Segiri. Tiga poin tetap menjadi harga mati. Macan Kemayoran menolak menyerah sebelum bertempur. (BP/CHA).














