CUMLAUDE: Dr. Anak Agung Gde Dalem Pemayun, S.H., MAP., CCM., berfoto bersama keluarga seusai sidang promosi Doktor UNHI, Rabu, 26 Agustus 2026. (Sumber: Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com – Disertasi bertajuk “Implementasi Sewaka Dharma Dalam Mengoptimalisasikan Pelayanan Kesehatan Di Biddokkes Polda Bali” berhasil mengantarkan A A Gde Dalem Pemayun meraih gelar Doktor, Program Doktor (S3) Ilmu Agama dan Kebudayaan, Fakultas Ilmu Agama, Seni, dan Budaya, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) dengan predikat Cumlaude, pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Dalam sidang promosi Doktor yang digelar di Aula Rektorat UNHI, Promovendus Anak Agung Gde Dalem Pemayun, S.H., MAP., CCM., dalam kesempatannya menjabarkan terkait disertasinya, Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Bali (Biddokkes Polda Bali), merupakan lembaga strategis di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia yang mengelola seluruh aspek medis dan kesehatan, dari perencanaan hingga pelaksanaan layanan. Dalam melayani masyarakat, institusi ini mengusung jargon “Sewaka Dharma”, yakni memprioritaskan kepuasan konsumen dalam pemberian layanan.
Namun, pada realitasnya masih saja ditemukan adanya keluhan pasien terhadap layanan yang diberikan institusi tersebut. Sebab dokter, perawat, dan pegawai administrasi belum mampu memberi layanan secara optimal sesuai motto yang diusungnya.
Misalnya, layanan yang diberikan sering lambat dan kurang empati. Dari gap research tersebut munculah tiga permasalahan, yakni (1) Mengapakah implementasi Sewaka Dharma belum optimal dalam pemberian layanan kesehatan di Biddokkes Polda Bali? (2) Bagaimanakah implementasi Sewaka Dharma dalam pemberian layanan kesehatan di Biddokkes Polda Bali? (3) Bagaimanakah implikasinya terhadap kehidupan sosial, budaya, perilaku pasien dan keluarganya, serta manajemen Biddokkes Polda Bali?
Tujuannya, untuk mengeksplorasi implementasi Sewaka Dharma dalam pemberian layanan kesehatan, sehingga bermakna bagi bidang ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan di bidang layanan kesehatan rumah sakit.
“Penelitian ini menggunakan tiga landasan teori, yakni teori fenomenologi, teori manajemen pelayanan, dan teori resepsi. Metode penelitiannya adalah kualitatif dengan pendekatan agama dan budaya serta paradigma interpretatif,” paparnya.
Lebih jauh ia menjelaskan, pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Hasilnya, belum optimalnya implementasi Sewaka Dharma di Biddokkes Polda Bali, disebabkan oleh beberapa faktor, yakni faktor SDM relatif terbatas, sosialisasi dan komunikasi kurang, dan kurangnya sarana-prasarana.
Proses implementasi Sewaka Dharma di Biddokkes Polda Bali mensinergikan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bali dengan manajemen modern berdasarkan empat fungsi manajemen, yakni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan kontrol. Hal tersebut ternyata berimplikasi terhadap manajemen Biddokkes Polda Bali.
Temuan yang didapat: (1) mengafirmasi teori fenomenologi Alfred Schutz; (2) mengafirmasi teori manajemen dengan empat fungsi manajemen; (3) dari dimensi teori resepsi, temuan ini juga mengafirmasi teori resepsi yang meliputi teks dan respons yang terkonstruksi dari telaah teks secara total, atau sebagian bersifat oposisional.
Keberhasilan A A Gde Dalem Pemayun dalam meraih gelar doktor dalam disertasinya menjadi bukti bahwa penelitian terkait “Implementasi Sewaka Dharma Dalam Mengoptimalisasikan Pelayanan Kesehatan Di Biddokkes Polda Bali” benar-benar berangkat dari persoalan nyata yang terjadi di lapangan.
“Saya harap hasil penelitian ini membawa pesan bahwa peningkatan mutu pendidikan harus dibangun melalui kolaborasi, keberlanjutan, dan kepedulian terhadap konteks nyata pembelajaran,” imbuhnya. (bp/gk)














