WASHINGTON, Balipolitika.com– Rentetan pernyataan kemenangan sepihak yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait eskalasi militer terhadap Iran menuai sorotan tajam dan ulasan kritis dari berbagai media internasional. Kendati Washington dan sekutunya, Israel, telah menggempur Teheran sejak Februari lalu, pertempuran di kawasan Teluk nyatanya masih terus berkecamuk tanpa tanda-tanda perdamaian konkret.
Klaim kemenangan yang diiringi gertakan militer tersebut dinilai bertolak belakang dengan dinamika riil di medan konflik. Sejumlah kanal berita global terkemuka—mulai dari The Guardian, NBC News, CNN International, hingga harian Israel Times of Israel—bahkan mengulas inkonsistensi retorika sang presiden dengan nada satir.
Laporan investigatif NBC News membeberkan bahwa Trump setidaknya telah menyatakan bahwa pertempuran di Iran hampir berakhir sebanyak 32 kali sepanjang konflik berlangsung. Tinjauan media tersebut menemukan pola repetitif di mana klaim perang telah dimenangkan hampir selalu dibuntuti oleh ancaman agresi militer baru.
“Sebuah tinjauan NBC News menemukan puluhan contoh di mana Trump mengatakan perang telah dimenangkan atau hampir dimenangkan: komentar yang sering diikuti oleh ancaman tindakan militer lebih lanjut,” tulis media yang berbasis di New York tersebut.
Kritik senada diulas oleh harian asal Inggris, The Guardian. Media tersebut menuturkan bahwa Trump berulang kali melancarkan ancaman kehancuran total apabila Teheran menolak meneken perjanjian damai, seraya terus meyakinkan publik bahwa kesepakatan sudah berada di depan mata. Data kompilasi CNN International mencatat frekuensi klaim serupa telah menembus lebih dari 38 kali terhitung hingga Agustus ini.
Namun demikian, perlawanan rezim Iran tidak kunjung surut meski Washington telah menerapkan blokade maritim ketat di pelabuhan-pelabuhan strategis Teheran guna melumpuhkan urat nadi perekonomian negara tersebut.
Media Israel Times of Israel turut membongkar pola diplomasi Trump yang dinilai sering menggertak di awal lalu melunak secara tiba-tiba. Pola ‘maju-mundur’ ini terpantau sejak April lalu saat AS menyepakati gencatan senjata darurat hanya beberapa jam jelang batas waktu ultimatum penghancuran infrastruktur Iran.
Sikap serupa berulang pada Mei dan Juni; ancaman bombardemen kilang energi di Pulau Kharg mendadak dibatalkan dengan dalih adanya progres pembicaraan damai di balik layar.
Polemik klaim tersebut kian meruncing menyusul pernyataan terbaru Trump terkait perairan Selat Hormuz. Sang presiden secara sepihak memaparkan rencananya untuk mendeklarasikan jalur pelayaran vital dunia itu sebagai teritori resmi Amerika Serikat pasca-blokade.
“Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan telak, sebentar lagi saya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” klaim Trump seraya menegaskan tidak ada kapal yang melintas tanpa restu militer AS.
Pihak pengamat dan media internasional meragukan bobot ancaman tersebut. Pasalnya, hingga kini belum ada kepastian apakah gertakan penguasaan wilayah perairan internasional itu merupakan arah kebijakan luar negeri Gedung Putih yang sesungguhnya atau sekadar perang urat syaraf belaka. (BP/CHA).











